Pesan Psikolog Supaya Ngemil Tetap Terkontrol

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Rini Kustiani

google-image
Ilustrasi berhenti ngemil. Shutterstock

Ilustrasi berhenti ngemil. Shutterstock

IKLAN

TEMPO.CO, Jakarta - Ngemil biasanya dilakukan di sela jadwal makan tiga kali sehari. Camilan yang dimakan bisa berupa makanan ringan, seperti biskuit, wafer, gorengan, atau buah-buahan. Menurut hasil survey Mondelez Indonesia, rata-rata 1 dari 3 orang mengkonsumsi lebih dari 3 camilan setiap hari.

Baca juga:
Tips Ngemil Cerdas Tanpa Rasa Bersalah
4 Kebiasaan Makan dan Ngemil Orang Indonesia

Psikolog klinis Tara de Thouras berbagi tips supaya ngemil tetap terkontrol dan tidak menjadi bumerang. Sebelum melahap camilan, sebaiknya pahami kenapa kita perlu ngemil. "Apakah karena lapar atau sekadar ingin memberikan ‘hadiah’ kepada diri sendiri," ujar Tara de Thouras di Jakarta.

Ilustrasi ngemil di kantor. Shutterstock

Pemahaman tersebut, menurut Tara de Thouras, akan mengurangi kecenderungan ngemil yang berlebih dan menghilangkan rasa bersalah setelahnya. Selain menanyakan kepada diri sendiri kenapa perlu ngemil, berikut ini kiat supaya tak kebablasan saat ngemil:

1. Peka pada sinyal tubuh
Selama ngemil, jangan abaikan sinyal dari tubuhmu. Dalam diri manusia terdapat tiga sinyal yaitu sinyal mulut, perut, dan dada. Sinyal perut harus merasakan apa yang dirasakan mulut. "Apakah terasa basah, kering atau bahkan terasa tidak enak, jika mulut terasa kering itu bisa berarti tubuh kita butuh air atau bahkan butuh makan," ujar Tara.

Setelah merasakan sinyal mulut selanjutnya rasakan sinyal dari perut, apakah perut terasa kosong, penuh, atau bahkan tidak nyaman. Jika sinyal mulut menunjukan rasa kering namun sinyal perut terasa penuh, artinya tubuh butuh minum, dan berlaku sebaliknya. Langkah selanjutnya adalah, rasakan dada apakah kita benar-benar butuh makan atau hanya sekadar ingin, karena melihat teman lain sedang makan.

2. Relaksasi
Emosi dan logika tidak pernah berjalan beriringan, keduanya selalu bertolak belakang. Ini yang menyebabkan ketika orang marah maka dia menjadi tidak terkontrol karena emosinya memuncak dan logikanya rendah. Sebaliknya, ketika emosi turun maka logika naik. Barulah tersadar apa yang telah dilakukan kemudian menyesal.

Hal ini berlaku juga untuk ngemil. Ngemil mesti dilakukan dalam keadaan sadar dan stabil. "Sebelum makan, harus mempertimbangkan apakah camilan tersebut diperlukan atau tidak," kata Tara. Tujuannya, jangan ada rasa bersalah setelah ngemil.

Ilustrasi waktu ngemil. shutterstock.com

3. Fungsikan 5 indra
Sebelum ngemil, gunakan semua panca indra. Mata untuk melihat kemasan dan komposisi apa saja yang terdapat dalam camilan. Tangan untuk merasakan tekstur cemilan. Hidung untuk mencium aroma camilan secara perlahan sebelum dimakan.

Sedangkan lidah untuk merasakan camilan dengan perlahan supaya tidak merasa cepat kenyang dan kelebihan porsi ngemil. Telinga digunakan untuk mendengarkan makanan yang sedang dikunyah. Dengan menggunakan fungsi lima indra tersebut, kita akan merasa bahagia saat menikmati camilan.

4. Berhenti sejenak
Perlu waktu 10-15 menit untuk perut kita mengirim sinyal ke otak, bahwa perut kita sudah kenyang atau penuh. Itu sebabnya ketika makan terburu-buru maka perut masih terasa lapar. Sebab, perut belum mengirim sinyal ke otak. Perihal ngemil, jika terus-menerus dilakukan tanpa ada jeda, maka bukan mustahil akan kelebihan porsi ngemil.

5. Bersyukur
Setelah makan jangan lupa bersyukur karena bagaimanapun makanan yang telah masuk ke dalam tubuh tidak boleh disesali. Kalau menyesal maka emosi akan naik dan memicu keinginan makan yang tak berkesudahan.

ASTRIA PUTRI NURMAYA

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."