6 Fakta Tentang Sindrom Empty Sella, Penyakit yang Diderita Ruben Onsu

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Rezki Alvionitasari

google-image
Ruben Onsu dalam peluncuran unit bisnisnya yang baru, Media Onsu Perkasa di Intercontinental Hotel Jakarta. Rabu, 10 April 2019. TEMPO/Chitra Paramaesti.

Ruben Onsu dalam peluncuran unit bisnisnya yang baru, Media Onsu Perkasa di Intercontinental Hotel Jakarta. Rabu, 10 April 2019. TEMPO/Chitra Paramaesti.

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Presenter Ruben Onsu dilarikan ke rumah sakit karena kondisi kesehatannya menurun. Dia sempat diduga kelelahan. Namun hasil pemeriksaan menunjukkan tubuh Ruben terindikasi melemah karena Sindrom Empty Sella atau Empty Sella Syndrome (ESS).

Sindrom itu mungkin kurang dikenal oleh banyak orang. Meski tidak selalu menimbulkan gejala serius, memahami ESS penting untuk meningkatkan kesadaran akan kondisi ini. Dikutip dari Verywell Health, berikut adalah enam hal penting yang perlu Anda ketahui tentang Sindrom Empty Sella.

1. Pengertian Sindrom Empty Sella

Sindrom Empty Sella adalah kondisi di mana sella turcica, sebuah struktur tulang di dasar otak yang biasanya berisi kelenjar pituitari, terlihat kosong atau hampir kosong saat diperiksa menggunakan teknik pencitraan seperti MRI atau CT scan. Kondisi ini dapat terjadi karena kelenjar pituitari mengecil atau terdorong ke dinding sella turcica.

2. Jenis-jenis Sindrom Empty Sella

ESS terbagi menjadi dua kategori yaitu primer dan sekunder. ESS primer biasanya terjadi tanpa adanya penyebab yang jelas dan sering ditemukan secara kebetulan saat pencitraan otak untuk alasan lain. ESS sekunder terjadi akibat kondisi lain seperti tumor pituitari, terapi radiasi, atau pembedahan yang mempengaruhi kelenjar pituitari.

3. Gejala yang Mungkin Timbul

Banyak individu dengan ESS tidak mengalami gejala sama sekali. Namun, beberapa mungkin mengalami sakit kepala, penglihatan kabur, atau gangguan hormon yang disebabkan oleh fungsi pituitari yang tidak normal. Gejala lainnya bisa termasuk kelelahan, penurunan libido, dan gangguan menstruasi pada wanita.

4. Diagnosa Sindrom Empty Sella

ESS sering didiagnosis melalui pencitraan otak seperti MRI atau CT scan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengevaluasi sella turcica dan melihat apakah kelenjar pituitari berada dalam ukuran dan posisi normal. Dokter juga mungkin memeriksa kadar hormon dalam darah untuk memastikan fungsi pituitari.

5. Pengobatan

Pengobatan untuk ESS tergantung pada gejala yang dialami. Jika ESS tidak menimbulkan gejala, biasanya tidak diperlukan pengobatan khusus. Namun, jika ada gangguan hormon, terapi hormon mungkin diperlukan. Dalam kasus sakit kepala atau gangguan penglihatan, perawatan simptomatik mungkin diberikan.

6. Prognosis dan Komplikasi

Banyak orang dengan ESS dapat menjalani kehidupan normal tanpa komplikasi serius. Namun, penting untuk melakukan pemantauan rutin terhadap fungsi pituitari, terutama jika ada gejala atau kondisi medis lain yang menyertai. Pada kasus yang jarang, ESS dapat menyebabkan komplikasi seperti kebocoran cairan serebrospinal.

Sindrom Empty Sella mungkin jarang didengar, tetapi memahami kondisi ini dapat membantu mengenali gejala dan mencari perawatan medis yang tepat. Jika Anda atau orang yang Anda kenal memiliki gejala yang mencurigakan, konsultasikan dengan dokter untuk evaluasi lebih lanjut. Semoga membantu.

Pilihan Editor: World Meditation Day 2024, Ini Cara Melakukan Meditasi hingga Waktu Terbaiknya

KARUNIA PUTRI

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."