5 Hal yang Perlu Diperhatikan Jika Ingin Berendam Air Hangat

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Ecka Pramita

google-image
Ilustrasi orang berendam di air belerang. shutterstock.com

Ilustrasi orang berendam di air belerang. shutterstock.com

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Kolam air hangat alami selama ini menjadi ceruk yang menggiurkan bagi para pengidap penyakit kulit. Sebab, kandungan sulfur atau belerang yang terdapat di dalamnya dipercaya dapat mengenyahkan beragam problem yang hinggap di kulit, seperti gatal-gatal, kadas, kurap, cacar air, dan jerawat.

Dari mulut ke mulut, kabar berandam air hangat alami bisa mengenyahkan jamur yang bercokol kian dipercaya banyak orang. Anggapan tersebut terus bergulir hingga kini. Tak heran kalau mereka –terutama penderita penyakit kulit, rela menyambangi kolam alami di lereng-lereng gunung buat menyembuhkan ruam merah karena gatal atau jamur.

Sayangnya, keyakinan itu tak semuanya dibenarkan ahli penyakit kulit dan kelamin, dokter Dr. Rachel Djuanda, SpKK, yang bertugas di Rumah Sakit Umum Bunda Jakarta. Kala dihubungi beberapa waktu lalu, Rachel menjelaskan, pada prinsipnya kandungan belerang tidak menghilangkan jamur, melainkan bakteri.

Karena itu, bisa dibilang mubazir bila orang berbondong-bondong ke kolam air hangat alami untuk menyembuhkan penyakit kulit yang muncul akibat berkembangnya jamur. “Orang mengidap gatal-gatal, lalu berendam ke kolam air hangat yang mengandung belerang, penyakitnya tak akan sembuh tapi hanya dialihkan, yakni dari rasa gatal ke rasa perih,” ucap Rachel.

Jelas berendam air yang mengandung belerang bukan solusi menyembuhkan penyakit kulit. Manfaat lain hanya untuk relaksasi bagi orang-orang yang tengah dirundung lelah atau memiliki beban pikiran, serta mereka yang ingin menenangkan diri. Karena itu, Rachel tidak merekomendasikan pengidap penyakit kulit menceburkan diri di kolam air hangat alami. Sebab, dikhawatirkan penyakitnya bertambah parah karena iritasi.

Sebaiknya, kata dia, kalau ingin berendam, pastikan keadaan kulit sedang sehat dan tak mengalami masalah apapun. Adapun belerang, tutur Rachel, memang berfungsi sebagai penawar penyakit bila diolah menjadi obat luar. “Fungsi belerang sebagai bahan racikan. Kandungannya bagus untuk eksem dan jerawat karena belerang punya sifat antiradang, antibakteri, juga anti-acne,” ujar dia.

Meski demikian, tak semua orang bisa menerima kandungan belerang di dalam tubuhnya. Buat yang tidak cocok, alih-alih sembuh, kulit malah bisa semakin meradang. “Belerang itu bagus, tapi keras. Enggak semua kulit cocok, terutama yang punya kulit kering,” katanya. Prinsipnya, penggunaan belerang sebagai obat luar harus dalam batas wajar. Artinya, tak boleh berlebihan dan tak bisa dipaksa bila kulit menunjukkan reaksi yang tak baik saat menerima kandungan sulfur tersebut.

Kalaupun Anda tetap ingin berendam air hangat yang mengandung belerang, ada beberapa hal yang mesti dicermati:

1. Jangan berendam lebih dari 15 menit

Berendam terlalu lama akan menghilangkan minyak alami di kulit. Dampaknya, kulit menjadi kering.

2. Jangan campurkan air dan sabun 

Jangan campurkan air dengan sabun yang mengandung muatan busa berlebihan
Air dengan kandungan sabun yang berlimpah dapat mengikis minyak alami yang terdapat dalam kulit.

3. Pilih waktu berendam pada malam hari

Saat malam, tubuh sudah lelah setelah beraktivitas seharian. Berendam air hangat akan membantu melancearkan aliran darah sehingga tubuh menjadi rileks. Tak disarankan berendam di air hangat kala pagi karena darah masih perlu dipompa.

4. Gunakan tabir surya bila berendam di siang hari

Bila kolam air hangat berada di area lua ruang, meski hawa lingkungan di sekitarnya sejuk. Tapi sengatan sinar matahari tetap akan membakar kulit.

Pilihan Editor: Merendam Kaki di Air Hangat Bisa Bantu Redakan Gejala Migrain? Ini Kata Ahli

FRANCISCA CHRISTY ROSANA | RINI KUSTIANI 

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."