20 Nama Satria dan Ksatria dalam Cerita Pewayangan

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Rezki Alvionitasari

google-image
Dalang Ki Kukuh Bayu Aji memainkan wayang kulit dengan lakon Senopati Pinilih saat perayaan Hari Wayang Nasional di Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, Jakarta, Selasa 7 November 2023 malam. Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi)  menggelar pertunjukkan wayang dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional 2023 yang berlangsung 7 - 9 November 2023. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha

Dalang Ki Kukuh Bayu Aji memainkan wayang kulit dengan lakon Senopati Pinilih saat perayaan Hari Wayang Nasional di Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, Jakarta, Selasa 7 November 2023 malam. Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) menggelar pertunjukkan wayang dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional 2023 yang berlangsung 7 - 9 November 2023. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Dalam cerita pewayangan, dikenal beberapa nama satria dan ksatria yang memiliki sifat pantang takut menghadapi pertempuran. Contohnya Mahabharata, kisah pewayangan yang mengangkat sosok pahlawan gagah berani.

Ada juga sosok besar Pandawa dan Kurawa yang juga dianggap suci di India tersebut dikisahkan memperebutkan tahta Hastinapura.

Dilansir dari situs Jendela Kemdikbud (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi), wayang dianggap puncak seni budaya bangsa Indonesia. Dalam pelaksanaan pewayangan akan mengerahkan seluruh bentuk seni, meliputi seni suara, peran, musik, sastra, pahat, dan perlambang.

Sementara satria atau ksatria (bentuk tidak baku: kesatria) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) disebut sebagai perwira atau pendekar yang gagah berani. Laman resmi Universitas Krisnadwipayana (Ukris) menyebut satria sebagai kasta kedua dalam agama Hindu. Tugas utamanya menegakkan kebenaran, menjaga keamanan, penegak keadilan, dan bertanggung jawab. Kasta ksatria merujuk pada keturunan bangsawan, raja, hingga raja.

Daftar Nama Satria dan Ksatria

Dikutip dari Buku Kawruh Basa Jawa Pepak karya Daryanto, terdapat beberapa deretan satria dan ksatria (dalam bahasa Jawa disebut satriya lan kasatriyane), antara lain:

1. Raden Abimanyu

Putra Arjuna dan Sembadra yang berasal dari Plangkawati. Ia menjadi satu-satunya pewaris tahta karena Srikandi tidak memiliki keturunan. Abimanyu mempunyai dua istri, yakni Dewi Siti Sundari dan Utari.

2. Raden Hanoman

Hanoman atau Anoman merupakan satria dalam cerita pewayangan di Kendhali Sada. Ia jelmaan kera putih yang diutus Rama untuk bertemu Sinta.

3. Raden Aswotomo

Anak dari pendeta Durna dan Dewi Wilutama ini digariskan oleh dewa bahwa tidak akan gugur saat perang. Aswotomo ditakdirkan membunuh Banowati, Pancawala, Drestajumena, dan Srikandi untuk membalaskan dendam atas kematian ayahnya.

4. Raden Dursasana

Ksatria dalam cerita pewayangan di Bajar Jumput. Saudara Suyudanan ini sangat kejam dan musuh bebuyutan Werkudara.

5. Raden Gatotkaca

Gatotkaca merupakan salah satu anak Werkudara atau Bimasena di Pringgandani. Ia dianugerahi badan yang gagah perkasa dan sering dijuluki ‘otot kawat, tulang besi’,

6. Raden Irawan

Nama lainnya Irawat atau Bambang Irawan, putra dari Arjuna dalam kisah Mahabharata. Ia memihak ke Pandawa ketika bertempur di medan perang Kurukshetra atau Baratayuda.

7. Raden Jayatra

Jayatra atau Jayadrata merupakan satria yang misterius karena lahir dari ari-ari Werkudara. Dia berasal dari Bwana Keling dan dikawinkan dengan Dewi Dursilawati.

8. Raden Janaka

Salah satu nama satria dalam pewayangan di Madukara. Ia memiliki orang tua bernama Pandu dan Dewi Kunthi.

9. Lesmana Mandra Kumara

Anak tunggal Suyudana dan Banowati yang bersifat manja dan sombong. Dia dilahirkan di Saroja Binangun dan mati ketika melawan Abimanyu.

10. Raden Nakula

Saudara kembar Sadewa di Bumi Retawu atau Gumbiratalun. Orang tuanya bernama Pandu dan Dewi Madrim.

11. Raden Ontorejo

Satria yang terletak di Jangkar Bumi dan anak sulung dari Werkudara. Perkawinan antara Werkudara dengan Nagagini (dewa bangsa ular) melahirkan Ontorejo.

12. Raden Antasena

Antasena merupakan anak kedua dari Werkudara di Sapta Baruna. Ibunya, Dewi Urangayu bertemu dengan sang ayah ketika Pandawa dan Kurawa membangun sungai menembus samudera (Kali Serayu Binangun).

13. Raden Kartamarma

Ksatria dalam cerita pewayangan selanjutnya ialah Raden Kartamarma. Dia berasal dari Tirta Tinalang.

14. Raden Sadewa

Saudara Nakula dari Sawojajar. Ia anggota pandawa paling muda yang berkarakter setia dan patuh kepada orang tua.

15. Raden Setiyaka

Satria yang datang dari Tambak Mas. Setiyaka adalah putra Satyajit dan Warsini yang masih memiliki hubungan darah dengan Kresna.

16. Raden Setyaki

Hadir dari Lesanpura yang masih saudara sepupu dengan Pandawa. Meski bertubuh mungil, ia menjadi orang kepercayaan Kresna.

17. Raden Somba

Anak Kresna yang tiba dari Parang Garudha. Berparas tampan, tetapi berwatak congkak dan pengecut. Ia tewas saat berduel dengan keluarga sendiri pasca perang Baratayuda.

18. Raden Suman

Aryo Suman atau dalam istilah Jawa juga akrab disebut Sengkuni yang berkuasa di Plasa Jenar. Ia diangkat sebagai patih di Kerajaan Hastina dan menjadi salah satu satria dalam cerita pewayangan.

19. Raden Udawa

Udawa alias Pawayadi adalah sahabat sekaligus penasihat Kresna. Satria dalam cerita pewayangan Bhagawatapurana yang memimpin di Widarakandhang.

20. Raden Werkudara

Bima atau Werkudara menjadi kebanggaan di Jodhipati. Ia selalu membawa senjata andalan, yakni Gada Rujak Pala dan menjunjung tinggi kejujuran.

Itulah 20 nama satria dan ksatria dalam cerita pewayangan. Walaupun berada pada kasta yang membanggakan, tidak semua pandawa mempunyai watak protagonis, seperti Somba dan Aswotomo.

Pilihan Editor: Detail Kebaya Erina Gudono di Upacara Panggih, Ada Wayang Indonesia hingga Ribuan Kristal

MELYNDA DWI PUSPITA | JENDELA.KEMDIKBUD | P2K.UNKRIS

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."