3 Masalah Kulit Orang Indonesia, Menurut Skin Genomic Research

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Ilustrasi kulit kering dan pori-pori besar. Freepik.com

Ilustrasi kulit kering dan pori-pori besar. Freepik.com

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - PT Paragon Technology and Innovation (ParagonCorp) memaparkan hasil penelitian terbaru, Skin Genomic Research. Hasil studi tersebut disampaikan kepada masyarakat dalam acara bincang-bincang atau talk show bertajuk “1st in Indonesia: ParagonCorp Skin Genomic Research - Decode Indonesian Specific Skin Needs” di acara Jakarta X Beauty atau JXB 2023. Adapun hal yang melatarbelakangi Paragon merintis penelitian berbasis gen ini adalah untuk menciptakan produk berkualitas yang benar-benar sesuai mengatasi masalah kulit orang Indonesia.

"Paragon dari awal berkomitmen menciptakan produk berkualitas, tidak hanya mengikuti tren atau keuntungan semata. Kami ingin selalu mendampingi dan menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia," jelas Alif Kartika B.Sc selaku Global Group Head Brand Development ParagonCorp di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Minggu, 17 Desember 2023.

"Nantinya semua bahan-bahan aktif yang digunakan menjawab solusi dari problem kulit orang Indonesia," ungkapnya.

Skin Genomic Research mengeksplorasi DNA, gen, dan variasi genetik yang terkait dengan karakteristik, fungsi, dan kondisi kulit.

Sejak tahun 2021, ParagonCorp telah melakukan Skin Genomic Research berkolaborasi dengan genomic expert dan sejumlah dokter kulit. ParagonCorp menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang melakukan Skin Genomic Research pada masyarakat Indonesia dengan skala besar.

(Kedua dari kiri) Alif Kartika B.Sc selaku Global Group Head Brand Development ParagonCorp, Tasya Farasya (Beauty Influencer), dr. Riris Asti Respati (Dermatologist), dan dr. Yulia Ariani Aswin (Genomic Expert) dalam acara talk show bertajuk “1st in Indonesia: ParagonCorp Skin Genomic Research - Decode Indonesian Specific Skin Needs” di Jakarta X Beauty atau JXB 2023, Minggu, 17 Desember 2023. Foto: CANTIKA/Silvy Riana Putri

Skin Genomic Research Melibatkan Lebih dari 500 Peserta

Skin Genomic Research masi berlangsung hingga saat ini. Menurut dokter Yulia Ariani Aswin, pakar genomic yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan di tahun pertama penelitian diisi dengan studi literatur.

"Tahun pertama kami isi dengan studi literatur dari berbagai populasi, dari barat, Asia bagian timur, Afrika. Dari situ, kami bikin semacam referensi, tahun kedua baru meneliti genom," ucapnya.

Lantas, bagaimana cara mereka menelitinya? 

"Sel diambil dari yang paling mudah dari liur, rongga mulut bagian pipi dalam. Dari situ, kami teliti dan bisa tahu misalnya dokter Yulia bakatnya alergi terhadap retinol, mudah flek hitam, genom itu bisa memandu kita," jelasnya.

Penelitian yang masih berlangsung ini dilakukan pada 515 subjek (150 pria Indonesia dan 365 wanita Indonesia) yang terdiri dari 8 kelompok etnik terbesar di Indonesia untuk memahami variasi genetik kulit Indonesia. Ke-8 etnik ini antara lain Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Untuk range usia peserta studi dari muda hingga di bawah lanjut usia atau lansia.

3 Masalah Utama Kulit Orang Indonesia

Berdasarkan Skin Genomic Research yang dilakukan oleh ParagonCorp, ditemukan bahwa permasalahan kulit yang paling sering dialami masyarakat Indonesia adalah pembesaran pori (cheek sebaceous pores), garis lipatan leher (horizontal neck folds), dan garis senyum (nasolabial folds).

"Problem utama masyarakat indonesia adalah pori-pori besar, lipatan di leher, dan garis senyum. Flek hitam juga lumayan banyak, keriput di bawah mata, kantong mata, di bibir, kulit kendur di daerah leher," ujar dokter kulit Riris Asti Respati

Dengan temuan ini, Skin Genomic Research dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang mekanisme genetik penuaan kulit dan keragaman genetik di berbagai etnis.

Dengan menganalisis variasi genetik individu, para ahli di ParagonCorp menemukan pendekatan baru untuk menciptakan perawatan kulit yang sesuai dengan kebutuhan kulit di Indonesia yang beragam (hypersegmented). Para ahli percaya bahwa dengan menyesuaikan rutinitas perawatan kulit berdasarkan profil genetik seseorang dapat mengoptimalkan efektivitas dan memenuhi kebutuhan kulit yang spesifik.

Selain itu, Skin Genomic Research juga membantu ParagonCorp untuk dapat menentukan formulasi (bahan aktif, tekstur, format) yang paling sesuai dengan permasalahan kulit yang ingin dijawab. Produk yang diformulasikan, tidak hanya dapat mengatasi permasalahan kulit saat ini, tetapi juga mengandung bahan yang dapat mencegah permasalahan kulit di masa mendatang. 

Dari hasil penelitian ini, ParagonCorp telah mengetahui potensi masalah kulit orang Indonesia, sehingga ke depannya dapat menghasilkan inovasi untuk mengembangkan produk dengan formula terbaik dan bahan berkualitas tinggi, dengan hasil efektif dan cocok untuk kulit masyarakat di Indonesia. Seluruh produk brand di bawah naungan ParagonCorp, salah satunya Wardah, telah melalui rangkaian penelitian yang hasilnya sesuai dengan Skin Genomic Research. 

Pilihan Editor: 4 Masalah Kulit Ini Bisa Muncul saat Usus Tidak Sehat

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."