7 Cara Mencegah Perilaku Bullying di Sekolah, Harus Ada Kerjasama Orang Tua dan Guru

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Cantika.com

google-image
Ilustrasi anak mengalami bullying. Freepik.com/gpointstudio

Ilustrasi anak mengalami bullying. Freepik.com/gpointstudio

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Perilaku bullying merupakan tindakan agresif yang disengaja dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan atau kekuatan. Perilaku ini dapat berulang dalam bentuk fisik, verbal, atau relasional. Pada anak laki-laki biasanya perilaku bullying ditunjukkan dengan  menggertak orang lain menggunakan lebih banyak cara fisik, sementara pada anak perempuan dalam bentuk verbal atau hubungan/sikap sosial.

Belum lama kita dikejutkan dengan kasus penusukan terhadap anak di sekolah oleh kawannya sendiri. Diketahui bahwa pelaku adalah korban bullying yang sudah kesal, kemudian meluapkan kekesalan dan kemarahannya kepada korban dengan menusuknya di ruang kelas.

Kejadian yang sangat menyedihkan tersebut, dan beberapa kasus bullying sebelumnya di sekolah-sekolah tentu perlu mendapat perhatian serius oleh berbagai kalangan, terutama orang tua dan guru. Apalagi saat ini tindakan bullying menjadi luas jangkauannya dalam bentuk cyberbullying.

Bagaimana membangun kerjasama untuk mencegah perilaku bullying di sekolah?

Saat para siswa berada di sekolah, tentu peran stakeholder sekolah terutama guru amat penting. Mencegah perilaku bullying di sekolah adalah upaya yang harus dilakukan daripada sekedar membuat berbagai aturan yang tidak efektif.

Mencegah dan menghentikan tindakan bullying melibatkan komitmen untuk menciptakan lingkungan yang aman di sekolah, agar anak-anak dapat berkembang secara emosi, sosial dan akademis tanpa ada tekanan dan intimidasi. Komitmen bersama tersebut dapat dilaksanakan sebagaimana berikut: 

1. Memperhatikan area sekolah yang rawan terjadi tindakan bullying 

Beberapa area di sekolah perlu mendapat perhatian semua pihak, baik guru, penjaga sekolah, maupun orang tua. Mulai dari ruang kelas, koridor, toilet, halaman sekolah, area parkir hingga di dalam mobil jemputan, adalah area yang rawan terjadi tindakan bullying.

2. Menguatkan aturan dan kultur sekolah

Setiap sekolah pasti memiliki aturan dan tata tertib yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh para siswa. Untuk menjalankan aturan dan tata tertib sekolah secara efektif, penguatan kultur sekolah perlu dilakukan secara menyeluruh dan didorong konsistensinya secara bersama. 

Sejak awal masuk sekolah, orang tua perlu dijelaskan perihal aturan dan kultur sekolah tersebut, kemudian para orang tua dapat memberikan dukungan dan kolaborator dalam mengingatkan anak-anak tetap menjalankannya dengan kesadaran.

3. Siswa dan orang tua sebagai solusi 

Siswa dan orang tua perlu menjadi bagian dari solusi dan terlibat dalam tim keselamatan dan gugus tugas anti-bullying. Siswa dapat memberi tahu orang dewasa tentang apa yang sebenarnya terjadi dan juga terbuka kepada orang tua tentang teknologi baru yang suka digunakan anak-anak untuk membully. Orang tua, guru, dan administrator sekolah dapat membantu siswa terlibat dalam perilaku positif dan mengajari mereka keterampilan sehingga mereka tahu cara mengatasi ketika tindakan bullying terjadi.

4. Orang tua bagi anak korban bullying

Orang tua perlu mengamati anak-anak apabila ada tanda-tanda mereka mungkin sedang mengalami tekanan, terintimidasi, atau pernah dibully.

Anak-anak mungkin tidak selalu terbuka jika mereka mendapat perlakuan bullying di sekolah. Di antara tanda-tanda utama anak Anda sedang mengalami intimidasi, atau menjadi korban bullying di sekolah adalah:

- menjadi murung

- rada malas untuk pergi ke sekolah

- cenderung khawatir saat sampai di sekolah,

- mencari alasan untuk tidak masuk sekolah

- mengeluhkan sesuatu yang dirasakannya sepulang dari sekolah, umumnya di malam hari.

Lakukan percakapan terbuka di mana Anda dapat mengidentifikasi apa yang sebenarnya dialami anak. Jangan memaksa dengan pertanyaan yang justru membuat mereka khawatir karena Anda akan langsung bertindak ke sekolah.

Komunikasi yang tenang dan pada waktu yang tepat dapat mendorong anak untuk bicara terbuka kepada orang tua. Kemudian hubungi pihak sekolah untuk membicarakan masalah dan mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi.

5. Orang tua dari anak-anak pelaku bullying

Lingkungan rumah adalah miniatur kehidupan sosial dan tempat paling mendasar anak-anak belajar bersikap dan bersosialisasi. Ketika anak-anak tumbuh dengan kasih sayang, perlakuan positif dari orang tua dan anggora keluarga, mereka tumbuh menjadi anak yang menghargai orang lain.

Ketika orang tua mendapati anaknya melakukan tindakan bullying terhadap temannya, Hal utama yang perlu orang tua lakukan adalah menanyakan dengan baik-baik, aapakah benar ia melakukan apa yang disebutkan teman atau gurunya tentang itu?, kemudian kumpulkan informasi sebanyak mungkin dari teman-temannya di kelas dan juga gurunya.

Orang tua perlu memastikan apakah korban dari tindakan anaknya mengakibatkan cedera  atau kejadian luar biasa, seperti luka berat atau bahkan pingsan dan hal lebih berat lainnya. Jika demikian, jangan langsung memarahi atau menghukum anak sebelum orang tua mengumpulkan informasi secara akurat dan benar. Lakukan koordinasi sesegear mungkin dengan pihak sekolah.

Senantiasa ingatkan anak Anda bahwa menindas orang lain dapat menimbulkan konsekuensi hukum. Minta anak untuk meminta maaf dan mempertanggungjawabkan tindakannya secara baik dan konsisten dengan pendampingan dan dorongan.

6. Guru dan sekolah adalah fasilitator penyelesaian masalah bullying

Ketika menemukan kasus bullying, pihak sekolah, utamanya guru dan kepala sekolah adalah orang yang berdiri tegak dan membantu menyelesaikan masalah dengan baik, jujur dan tidak berpihak. Tugas utama guru dan sekolah dalam menangani kasus bullying adalah sebagai fasilitator dan mediator dalam menyekesaikan konflik.

Hindari berkomunikasi satu arah, dan menjadi "pembela" satu pihak, meski kepada keluarga korban. Karena independensi guru dan sekolah lebih utama dalam penanganan kasus.

Sekolah juga tetap perlu berempati kepada korban dan keluarga korban, serta memberikan teguran dan peringatan kepada anak pelaku bullying. Dengan demikian setiap pihak dapat berkolaborasi secara terbuka dan baik untuk menyelesaikan masalah.

7. Bangun komunitas anti bullying di sekolah

Kerjasama sekolah dan orang tua dalam mengantisipasi terjadinya bullying dapat dilakukan dengan membentuk dan menguatkan komunitas anti bullying di sekolah, agar setiap warga sekolah mendapatkan edukasi yang tepat dan lebih luas mengenai permasalahan bullying dan bergerak bersama mencegah terjadinya bullying.

Catatan pengingat: "pembully tumbuh lebih banyak karena mereka menjadi korban bullying secara verbal maupun fisik, baik dari teman sebaya, ataupun orang dewasa". Menghukum pembully tidak selalu dapat menghentikan tindakan bullying selanjutnya.

Demikian uraian tentang bagaimana membangun kerjasama yang baik antara orang tua dengan pihak sekolah, agar tindakan bullying dapat diantisipasi.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."