Manipulasi hingga Mengontrol Termasuk Tanda Kekerasan dalam Hubungan

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Ilustrasi pasangan bermasalah/bertengkar. Shutterstock.com

Ilustrasi pasangan bermasalah/bertengkar. Shutterstock.com

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, kekerasan dalam hubungan adalah berbagai tindak kejahatan atau krisis lain yang dapat menyebabkan persoalan jangka panjang pada fisik, kesehatan mental, dan bahkan dapat berujung pada kematian. Bentuk kekerasan dalam hubungan tidak hanya berupa fisik, bisa juga berupa seksual, emosional hingga penelantaran atau finansial. 

Sementara itu, berdasarkan Catatan Akhir Tahun atau Catahu Komnas Perempuan 2003, kekerasan dalam hubungan yang mendominasi di ranah personal.

"Terdapat 713 kasus yang diadukan terkait dengan kekerasan yang dilakukan oleh mantan pacar. Kemudian ada 622 kasus kekerasan terhadap istri dan 422 kasus kekerasan dalam hubungan pacaran," ujar Direktur Eksekutif Yayasan Pulih, Dian Indraswari dalam konferensi pers program YSL Beauty "Abuse is Not Love" di Jakarta, Selasa, 27 Juni 2023.

Dian yang juga psikolog itu juga menyebutkan kekerasan psikis yang paling banyak terjadi di ranah personal dan kerap tak disadari.

Minimnya Kesadaran akan Tanda Kekerasan dalam Hubungan

Dian juga menyampaikan berdasarkan data WHO, tingkat kekerasan dalam hubungan paling tinggi terjadi pada kelompok usia dewasa muda antara 16 hingga 24 tahun. Hal itu disebabkan adanya kesalahpahaman mengenai definisi hubungan yang sehat pada tahap awal. Masih minimnya kesadaran akan tanda-tanda kekerasan dalam hubungan juga turut berpengaruh.

"Jadi tidak mengenali bagaimana mulai (hubungan) sehat, bagaimana juga relasi yang tidak sehat. Kemudian adanya normalisasi dari tanda-tanda kekerasan hubungan dengan pasangan," tutur psikolog jebolan Universitas Indonesia itu.

Karena minimnya kesadaran akan tanda-tanda kekerasan dalam hubungan, korban mispersepsi menganggap itu bentuk cinta, bahkan menormalisasi tindakan kekerasan baik itu pskis maupun fisik.

Baca juga: Isyana Sarasvati Soal Kekerasan dalam Hubungan: Hindari Menormalisasi Kecemburuan Ekstrem

Manipulasi dan Mengontrol Termasuk Tanda Kekerasan dalam Hubungan

Berkolaborasi dalam program global "Abuse is Not Love" yang diinisiasi Yves Saint Laurent atau YSL Beauty untuk melawan kekerasan dalam hubungan, Yayasan Pulih memberikan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran tanda-tanda kekerasan dalam hubungan.

Setidaknya ada sembilan tanda kekerasan dalam hubungan yang perlu dicermati, yakni mengabaikan, mengancam, meremehkan, manipulasi, mencemburui mengontrol, mengintrusi, isolas, dan mengintimidasi.

Menurut Dian, tanda kekerasan psikis dalam hubungan pertama yang paling sering terjadi adalah pasangan manipulatif, yang berusaha mengendalikan emosi dan pikiran Anda. Misalnya, ketika ada perbedaan pendapat dia akan memanipulasi pikiran Anda dan menganggap pendapat Anda selalu salah.

"Akhirnya, kita terpaksa mengikuti dia. Salah satu bentuk kekerasan atau tidak itu dari persetujuan. Ketika sebetulnya kita tidak setuju dengan pendapatnya tapi terpaksa menyetujuinya dan terus menerus, itu jadi salah satu tanda kekerasan," jelas Dian.

Tanda kedua adalah ketika pasangan selalu mengontrol apa yang Anda lakukan, mulai dari cara bergaul hingga berpenampilan. "Sehingga kita tidak punya kebebasan lagi untuk menentukan langkah, bahkan dalam sisi pakaian atau seperti apa kita berpenampilan," jelasnya.

Dian kemudian memberi contoh mengintrusi, seperti ketika pasangan memaksa untuk membagikan lokasi atau kata sandi akun media sosial Anda. "Atau sudah share location, kemudian dia memaksa video call untuk memastikan bahwa kamu benar-benar di situ dan dengan siapa saja. Itu juga jadi ciri kekerasaan yang meskipun dari hal kecil bisa jadi besar," ucapnya.

Tanda kekerasan dalam hubungan selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah mengabaikan ketika sedang ada masalah atau silent treatment. Kelima, mengancam jika Anda tidak menuruti permintaannya. Keenam, meremehkan. Ketujuh, cemburu berlebihan atau ekstrem. 

Kedelapan, mengisolasi. Artinya, ketika pasangan meminta Anda untuk memutus hubungan dengan keluarga dan teman-teman. Kesembilan, mengintimidasi atau membuat Anda merasa takut mengungkapkan pendapat atau perasaan.

Program Abuse is Not Love

Bagi Sahabat Cantika yang ingin bergabung dalam pelatihan yang dihelat oleh Yayasan Pulih dapat mendaftarkan diri di http://yslbeauty.co.id/abuseisnotlove dan untuk konseling dengan Yayasan Pulih di (+62 811-8436-633). Pelatihan online melalui situs web juga dapat diakses di abuseisnotlove.com.

Pilihan Editor: Abuse is Not Love, Program YSL Beauty untuk Melawan Kekerasan dalam Hubungan

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."