Tips Puasa Sehat bagi Pengidap Asam Lambung, Jangan Lewatkan Makan Sahur

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Ecka Pramita

google-image
Ilustrasi sakit perut. Shutterstock

Ilustrasi sakit perut. Shutterstock

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Bagi orang sehat, puasa mungkin tidak menjadi masalah. Namun, lain halnya dengan orang yang menderita GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease (gangguan pencernaan yang terjadi ketika cairan asam lambung, atau makanan dan cairan kembali naik dari lambung ke kerongkongan). Mereka mungkin merasa cemas jika ingin berpuasa karena penyakitnya bisa saja kambuh.

Wajar jika penderita GERD merasa cemas jika ingin berpuasa karena tubuhnya tidak mendapat asupan apapun, termasuk obat-obatan, selama lebih dari 13 jam. Namun, bukan berarti penderita GERD tidak bisa berpuasa sama sekali. Selama bisa menerapkan pola hidup sehat, puasa tetap aman. Puasa pun terbukti dapat membantu meredakan asam lambung.

Asupan makanan yang terbatas saat puasa akan membuat tubuh Anda menghancurkan lemak lebih banyak dari biasanya, sehingga berat badan pun menurun. Pembatasan makanan juga dapat mengurangi radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh Anda. Dengan berpuasa, kadar gula dan kolesterol lebih terkontrol.

Tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, puasa juga bermanfaat bagi kesehatan mental. Selain menahan lapar dan dahaga, saat berpuasa juga dituntut untuk bisa menahan emosi dan segala pikiran buruk agar pikiran lebih tenang dan tingkat stres menurun. Dengan berkurangnya tingkat stres, maka risiko asam lambung yang meningkat akan berkurang.

Kesimpulannya, puasa dapat membuat orang sehat menjadi lebih sehat, dan pada orang yang memiliki penyakit medis tertentu, seperti GERD, dapat membuat kondisi kesehatannya menjadi lebih baik dan lebih terkontrol.

Jika kamu mengidap asam lambung, tidak perlu khawatir lagi jika ingin berpuasa. Namun, sebaiknya coba terapkan tips puasa sehat berikut ini: 

1. Jangan Lewatkan Makan Sahur

Bagi penderita GERD, melewatkan sahur bisa membuat asam lambung semakin parah di siang hari, karena perut akan kosong dalam waktu yang lama. Jadi, usahakan untuk selalu sahur sebelum berpuasa. Selain menjadi "bekal" tubuh Anda selama berpuasa, makanan yang masuk ke tubuh saat sahur juga bisa mencegah naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Setelah Sahur, usahakan untuk tidak langsung berbaring. Cobalah melakukan aktivitas ringan. Pasien GERD hanya boleh berbaring minimal dua jam setelah makan untuk mencegah naiknya asam lambung.

2. Jangan Tunda Buka Puasa

Setelah tidak makan dan minum lebih dari 13 jam, kondisi perut yang kosong harus segera diisi. Jangan menunda makan ketika sudah waktunya berbuka puasa. Lambung membutuhkan makanan untuk dicerna agar asam lambung yang dihasilkan dapat langsung mengolah makanan yang masuk.

3. Makan Perlahan

Merasa sangat lapar setelah berpuasa tentu merupakan hal yang wajar. Namun, jangan sampai hal ini membuat Anda gila dan melahap semua makanan dengan cepat. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik justru dapat memicu peningkatan asam lambung. Jadi, makanlah secara perlahan, agar perut bisa mencerna makanan dengan baik.

4. Makan dengan Porsi Kecil

Meski merasa sangat lapar, usahakan untuk tidak makan terlalu banyak saat berbuka puasa. Perut Anda membutuhkan waktu untuk mencerna makanan. Makan dengan porsi besar atau terlalu kenyang juga bisa memicu peningkatan asam lambung.

Anda bisa mengkonsumsi air hangat dan kurma atau roti gandum untuk berbuka puasa. Hindari konsumsi minuman dingin karena dapat merangsang peningkatan asam lambung pada penderita GERD yang sudah menahan lapar dan haus selama 13 jam. Selain itu, hindari juga konsumsi kopi, teh, dan susu sapi (karena mengandung lemak tinggi), baik untuk sahur maupun buka puasa.

Pilihan Editor: Makanan yang Perlu Dihindari Pengidap Asam Lambung, Ada Pizza Hingga Gorengan

ALINEAR 

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."