Kebutaan Akibat Katarak Masih Tinggi, Segera Lakukan Deteksi Dini

ilustrasi operasi katarak by istimewa

kesehatan

Kebutaan Akibat Katarak Masih Tinggi, Segera Lakukan Deteksi Dini

Selasa, 22 Februari 2022 22:30 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Mitra Tarigan

CANTIKA.COM, Jakarta - Presiden Direktur JEC Korporat Johan A Hutauruk mengatakan masalah katarak masih menjadi perhatian besar di Indonesia. Salah satunya karena masalah katarak menjadi salah satu penyebab tingginya angka kebutaan di Indonesia. "Orang panjang umur, tapi alami kekeruhan di lensa mata. Kebutaan akibat katarak itu tinggi," katanya dalam konferensi pers pembukaan JEC Bali pada 22 Februari 2022.

Johan mengatakan dengan banyaknya masalah katarak, maka ia menghimbau agar masyarakat segera melakukan pengecekan mata bila penglihatannya buram. "Kita perlu bantu orang-orang di sekitar kita, kalau penglihatannya buram, kasih tahu untuk segera cek mata. Karena bila dibiarkan akan lebih buruk," katanya.

Ada beberapa ciri-ciri gejala katarak yang perlu diwaspadai masyarakat yang lanjut usia. Ketika awal, dia akan merasa silau. "Lalu gejala lain, pasien sering gonta ganti kacamata. Kalau penglihatannya sudah di bawah 30 persen, maka mau tidak mau, harus segera dioperasi agar kualitas hidupnya terus meningkat," katanya.

Johan mengingatkan bahwa operasi katarak tidak sakit. "Operasinya cepat, dan bisa mengurangi ukuran kacamata sebelumnya," katanya.

Konferensi Pers Pembukaan JEC Bali pada 22 Februari 2022/JEC

JEC Eye Hospitals & Clinics, secara resmi membuka operasional klinik terbarunya: Klinik Utama Mata JEC-Bali @ Denpasar. Hadirnya JEC–Bali @ Denpasar harapannya semakin mendekatkan masyarakat Bali ke sentra kesehatan mata yang diperkuat 15 dokter spesialis mata, serta layanan dan fasilitas modern berteknologi mutakhir. Sentra kesehatan mata terbaru ini menargetkan 10.000 kunjungan pasien sepanjang 2022.

Kondisi kesehatan mata masyarakat di Bali masih menjadi fokus perhatian. Laporan InfoDATIN, Kementerian Kesehatan: “Situasi Gangguan Penglihatan” yang dirilis pada 2018 memperlihatkan bahwa persentase kebutaan karena katarak di Bali mencapai 78,0 persen. Angka itu lebih tinggi dari rata-rata nasional nasional sebesar 77,7 persen. Bahkan, diperkiarakan 26,8 persen pasien katarak di Bali tidak sadar bahwa mereka menderita gangguan penglihatan ini. Mereka juga tidak tahu bahwa katarak bisa disembuhkan. Juga, berdasarkan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB 2014-2016) - termuat dalam laporan yang sama, menyebut prevalensi kebutaan pada penduduk usia 50 tahun ke atas di Bali mencapai 2,0 persen (sedikit di bawah rata-rata nasional 3,0 persen).

Kepala Klinik Utama Mata JEC-BALI @ Denpasar Luh Putu Intan Kartika Chandra Dewi mengatakan tingginya kasus Covid-19 di Indonesia, terutama Bali, masih menjadi keprihatinan dan kewaspadaan masyarakat. "Bersamaan itu, situasi kesehatan mata di Bali harus terus berkembang menuju arah yang lebih baik. Karenanya, Klinik Utama Mata JEC-Bali @ Denpasar siap mendukung peningkatan kualitas kesehatan mata masyarakat Bali,” kata Luh Putu Intan Kartika Chandra Dewi.

Dari segi layanan, Klinik Utama Mata JEC-Bali @ Denpasar menawarkan penanganan gangguan penglihatan secara komprehensif, mulai dari Katarak dan Bedah Refraktif, Vitreoretina, Glaukoma, Mata Anak, Okuloplasti dan Rekonstruksi, Lensa kontak hingga Low Vision. “Bukan hanya kekuatan sumber daya manusia yang mumpuni, JEC-Bali @ Denpasar juga menghadirkan teknologi kesehatan mata yang komprehensif dan mutakhir, serta didukung jejaring kuat JEC Eye Hospitals & Clinics di dalam negeri maupun global. Harapan kami, JEC-Bali @ Denpasar turut berperan menguatkan posisi Bali sebagai tujuan wisata dunia yang tidak cuma memiliki keindahan alam dan budaya saja. Namun, juga sebagai destinasi yang semakin nyaman karena didukung sarana kesehatan mata berkualitas dan terpercaya,” kata Direktur PT JEC Bali Vision Cokorda Istri Dewiyani P.

Klinik Mata Utama JEC-Bali @ Denpasar menyediakan rangkaian fasilitas seperti Optical Coherence Tomography (OCT), Digital Foto Fundus, Perimetry Humprey, USG Mata, Biometry dengan IOL Master, Specular Microscope, Nd YAG Laser (Laser Capsulotomy), Tonometri non-kontak, Autorefractometer, Retinometri, Contact Lens, Argon Laser (Laser Retina), dan Peripheral Iridotomy Laser (Laser Glaukoma). JEC-Bali @ Denpasar juga dilengkapi solusi andal berbasis teknologi, berupa layanan tele-oftalmologi JEC @ Cloud yang memungkinkan pasien untuk berkonsultasi secara online.