Mengenal Kondisi Henti Jantung Seperti yang Dialami Putri Nurul Arifin

ilustrasi jantung (pixabay.com)

kesehatan

Mengenal Kondisi Henti Jantung Seperti yang Dialami Putri Nurul Arifin

Selasa, 25 Januari 2022 20:35 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Ecka Pramita

CANTIKA.COM, Jakarta - Pasangan aktris dan politisi Nurul Arifin dan Mayong Suryo Laksono mengkonfirmasi bahwa putri sulung mereka, Maura Magnalia Madyaratry, meninggal dunia pada Selasa pagi pukul 05.37 WIB karena henti jantung.

"Sebab penyakitnya adalah henti jantung," kata Mayong saat ditemui di rumah duka di Depok, Selasa, 25 Januari 2022.

Mayong mengatakan, keluarga sempat membawa Maura ke rumah sakit sekitar pukul 05.00 WIB dan dinyatakan meninggal pukul 05.37 WIB. "Jadi sempat ada waktu 37 menit dan tidak tertolong," lanjut Mayong.

Mayong melanjutkan bahwa kemungkinan kondisi sang putri memang sudah drop karena kurang istirahat karena mempersiapkan wisuda yang akan dilaksanakan pada Maret mendatang di Sydney University.

"Dia tidak tidur, lagi mengurusi wisudanya dari Sydney University, baru selesai S2," ujar Mayong.

"Kemudian dia juga melamar kerja, mungkin karena stress beberapa hari tidak tidur, ya begitulah. Ternyata ada beberapa hal yang tidak bisa dideteksi oleh kita semua," lanjut dia.

Mayong juga menegaskan bahwa Maura tidak mengeluhkan apapun mengenai kesehatannya sebelum meninggal dunia. "Relatif tidak (tidak ada penyakit lain)," pungkas Mayong.

Maura Magnalia Madyarti disemayamkan di rumah duka di Puri Cinere, Pangkalan Jati, Depok, dan akan menyelenggarakan misa malam ini. Rencananya Maura akan dimakamkan besok di San Diego Memorial.

Nurul Arifin bersama suaminya Mayong Suryolaksono berduka didekat peti jenazah putri sulungnya Maura Magnalia Madyaratri, dikawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, Selasa 25 Januari 2022. Maura Magnalia Madyaratri putri dari pasangan Mayong Suryolaksono dan Nurul Arifin meninggal dunia di rumah sakit Puri Cinere dan akan di kebumikan esok hari, Rabu 26 Januari 2022 di San Diego Hills Memorial. TEMPO/Nurdiansah

Sudden Cardiac Arrest (SCA) adalah kondisi jantung berhenti bekerja dan berkontraksi sehingga tidak ada aliran darah yang cukup untuk menghidupi otot jantung dan organ vital lain. Dr. Ivan Noersyid, Sp.JP dari RS Primaya Bekasi Timur menjelaskan pada dasarnya jantung dilengkapi dengan sistem listrik yang berfungsi untuk membangkitkan impuls-impuls penyebab timbulnya kontraksi otot jantung.

Henti jantung dapat terjadi dalam kondisi jantung tidak bekerja namun masih terdapat aliran listrik.

“Hal tersebut dapat terjadi karena gangguan irama atau beberapa faktor lain. Jadi, kontraksi jantungnya bergetar saja namun jantung tidak memompa aliran darah,” ujar Ivan.

Ivan menegaskan tidak semua pasien yang mengalami henti jantung akan meninggal dunia. Henti jantung harus melalui beberapa proses. Tahapan henti jantung dimulai dari kematian otot-otot.

Dia memerinci, setiap 4 menit bagian-bagian otot jantung di dalam tubuh akan mengalami kematian. Semakin lama penanganan seseorang yang mengalami henti jantung, maka akan semakin banyak otot jantung yang mengalami kematian.

“Jika seseorang mengalami henti jantung namun tidak dilakukan tindakan medis lebih lanjut, maka orang tersebut dapat mengalami kematian,” sambungnya.

Seseorang yang mengalami henti jantung, dibuktikan dengan tidak teraba nadi karotis, akan dilakukan pengecekan irama jantung melalui Elektokardiogram (EKG). Ada dua kondisi irama jantung yang terlihat dari hasil EKG, yaitu kondisi irama asistol berupa garis datar atau dengan kata lain irama jantungnya datar (tidak berirama) dan irama pulseless electrical activity (PEA), dan kondisi irama seperti garis rumput alias ventrikular takikardi atau fibrilasi.

Untuk pasien dengan kondisi irama jantung asistol atau PEA, maka pasien akan dilakukan tindakan Resusitasi Jantung Paru, yaitu tindakan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu.

“Hal yang dilakukan adalah kompresi dinding dada alias pemompaan jantung dari dinding luar dada, pemberian napas, baik melalui alat bantuan pernapasan, pemberian cairan atau obat,” sambungnya.

Jika pasien telah ditemukan riwayat penyakit yang menyebabkan henti jantung, maka pasien tersebut akan diberikan pengobatan definitif (utama) yang berbeda, tergantung pada riwayat penyakit.

Jika pasien henti jantung didiagnosis mengalami serangan jantung, maka ia masih dapat dibantu melalui kateterisasi jantung. Jika pasien mengalami kekurangan cairan, maka akan diberikan cairan agar jantung bisa bekerja. Semua penyebab henti jantung akan dievaluasi untuk diberikan tindakan medis yang tepat.

“Untuk pasien dengan riwayat penyakit jantung, diharapkan ia tidak melakukan aktivitas atau olahraga berat agar terhindar dari henti jantung,” ungkap Ivan.

Baca: Nurul Arifin: Maura Magnalia Madyaratri Adalah Anak yang Nyentrik

ANTARA | BISNIS | YAYUK WIDIARTI