5 Support System yang Dibutuhkan Ibu dengan Anak Berkebutuhan Khusus

Terapis membimbing seorang anak yang tengah menjalani terapi di RS Jiwa Provinsi Jawa Barat di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Februari 2020. Rumah sakit ini melayani terapi bagi anak-anak usia 4-10 dan 10-19 tahun yang membutuhkan penanganan psikiater, khususnya anak-anak usia 4-10 tahun yang mengalami masalah dengan kemampuan berbicara dan kurangnya kemampuan untuk berinteraksi secara sosial. Kecanduan gadget adalah salah satu penyebab meningkatnya depresi, autisme, bipolar, psikosis, dan anti sosial. TEMPO/Prima Mulia

ragam

5 Support System yang Dibutuhkan Ibu dengan Anak Berkebutuhan Khusus

Selasa, 21 Desember 2021 15:30 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Ibu yang dikaruniai anak berkebutuhan khusus (ABK) membutuhkan sistem pendukung atau support system untuk mengasuh buah hati tercinta. Dengan support system yang solid, ibu semakin kuat dan tak merasa sendirian dalam menghadapi situasi yang mungkin baru pertama kali dihadapinya.

Support system pertama yang dibutuhkan ibu dengan anak berkebutuhan khusus adalah dukungan emosi dan tenaga dari keluarga dan teman.

“Keluarga dan teman, fokusnya memberikan dukungan emosi yang paling banyak diharapkan ibu ABK. Dan juga dukungan tenaga karena memiliki ABK itu sangatlah lelah. Lahir dan batin. Jadi, butuh bantuan tenaga dan emosi dipeluk,” jelas psikolog Anisa Cahya Ningrum kepada Cantika via telepon, Sabtu, 18 Desember 2021.

“Kalau kita punya teman, dia ibu ABK, peluklah dia. Dukungan itu sangat berarti bagi mereka,” sambungnya.

Dukungan kedua yang dibutuhkan ibu dengan anak berkebutuhan khusus adalah konsultasi dengan para profesional.

“Dukungan dari profesional juga dibutuhkan. Seperti dokter, psikolog, terapis terkait dengan tata laksana terapi atau pengasuhan buah hati. Orang tua tidak bisa sendiri, justru orang tua memang harus belajar dari para profesional untuk mendapatkan ilmu-ilmu soal mengasuh ABK dengan baik dan optimal,” Anisa menuturkan.

Selain para profesional, komunitas juga berperan penting dalam memberi dukungan kepada ibu dengan anak berkebutuhan khusus. Saling berbagi pengalaman dengan ibu dengan anak berkebutuhan khusus lainnya membuat ibu tak merasa sendirian. 

“Di komunitas, selain dukungan emosi, dapat saling berbagi cerita. Saat dokter, psikolog berbicara, bagi ibu ABK, rasanya beda kalau yang testimoni itu dari orang yang sudah mengalami. Ketika mereka saling berbagi pengalaman, ‘iya ibu saya pernah mengalaminya, saya pernah berada di posisi itu jadi langkahnya begini ibu.’ Itu kena banget, feel-nya dapat,” kata Anisa.

“Jadi, ibu-ibu ABK tidak merasa sendirian bahwa ada orang juga yang merasakan. Wadah bercerita, juga edukasi. Di komunitas itu pasti ada para profesional untuk memberi edukasi,” lanjut pendiri Cahya Communication ini.

Dukungan selanjutnya yang dibutuhkan ibu dengan anak berkebutuhan khusus adalah rohaniawan, sebut Anisa. Dukungan rohaniawan bisa membantu ibu di tahap penerimaan atau acceptance dan mencari pemaknaan atas situasi yang sedang terjadi. Rohaniawan juga bisa berperan saat ibu mengalami tantangan baru yang membuat siklus emosi mereka bisa berputar seperti di tahap awal.

“Yang keempat rohaniawan sesuai agama masing-masing. Dukungan rohaniawan ini bisa membantu mereka di tahapan acceptance. Dukungan mereka bisa membuat orang lebih tenang. Pengalaman religius yang memberikan makna,” tuturnya.

Yang kelima adalah dukungan dari lembaga pendidikan. Menurut Anisa, lembaga pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus sudah dilengkapi program yang mengoptimalkan tumbuh kembang dan mengeksplor minat anak.

“Ada lembaga-lembaga khusus yang menangani ABK. Di sana ada program-program yang sudah ditata untuk membantu tumbuh kembang anak. Terapinya juga sesuai dengan keterbatasan anak-anak ini, sehingga bisa mengoptimalkan kemampuan anak berkebutuhan khusus,” ungkap Annisa.

 

Baca juga: Manfaat Time Out Bagi Orang Tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus