Panduan Mengonsumsi Obat dan Suplemen Selama Isolasi Mandiri

Ilustrasi obat. TEMPO/Subekti

kesehatan

Panduan Mengonsumsi Obat dan Suplemen Selama Isolasi Mandiri

Senin, 30 Agustus 2021 21:25 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Mitra Tarigan

CANTIKA.COM, Jakarta - Persediaan obat selama isolasi mandiri (isoman) biasanya menjadi perhatian pasien. Menurut dokter spesialis penyakit dalam, Jeffri Aloys Gunawan, sekarang banyak sekali tersedia paket obat untuk isoman. Obat itu dikemas dalam boks dan dilengkapi daftar obat beserta dosisnya. “Kita harus kritis dan tahu, apa saja isinya. Jangan cuma terima paket dan langsung minum obatnya. Di dalam paket banyak sekali obat, bisa belasan,” katanya dalam Instagram Live dengan tema “A-Z Tips Isoman Antipanik” oleh Good Doctor bersama Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), Sabtu 28 Agustus 2021.

Jeff menjelaskan panduan mengonsumsi obat selama isoman. Pertama, penting sekali agar pasien isoman mencocokkan obat dengan daftarnya. Pasien isoman pun perlu tahu dia masuk kategori pasien Covid-19 mana? Apakah orang tanpa gejala (OTG), ketegori ringan, sedang, atau berat. Setelah itu cek pedoman yang sudah disusun, antara lain bisa dilihat di Panduan Isolasi Mandiri dari GoodDoctor. Untuk gejala ringan obatnya lebih sederhana, cukup vitamin C, D, zinc, juga vitamin B dan E," kata Jeff.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah obat tambahan. Biasanya obat tambahan itu bisa berupa antivirus (favipiravir), dan mungkin juga antibiotik. Namun pasien harus ada indikasinya bila pasien akan menggunakan obat ini. Indikasi itu biasanya ditemukan oleh dokter atau tenaga kesehatan. Untuk antibiotik, indikasinya yaitu infeksi sekunder, biasanya oleh bakteri H. influenza atau Strepococcus. Kedua bakteri ini sering menjadi infeksi oportunistik pasien Covid. "Kalau ada tanda infeksi bakteri ini, apalagi ada tanda atipikal/tidak khas, boleh diberikan antibiotik, biasanya azithromycin," kata Jeff.

Bila pasien Covid-19 memiliki gejala batuk, maka dahak perlu diperiksa dulu dengan pemeriksaan laboratorium. Hal itu dilakukan untuk mengetahui apakah ada kuman infeksi sekunder.

Bila pasien mengalami gejala berat juga diperlukan antivirus, dan bisa dipertimbangkan antikoagulan (pengencer darah). "Ini harus berdasarkan pertimbangan dokter, jangan konsumsi sendiri," kata Jeff.

Untuk pasien dengan gejala berat, diperlukan steroid. Biasanya hal ini diperlukan jika ada penurunan saturasi oksigen, sehingga perlu oksigen. "Namun sering ada salah kaprah. Di dalam paket isoman terdapat steroid tablet, padahal yang dianjurkan adalah steroid infus/IV, bukan yang tablet. Untuk steroid tablet, bukti ilmiahnya untuk Covid-19 belum jelas," kata Jeff.

Jeff mengingatkan agar penggunaan obat itu perlu penilaian dokter. "Biar tidak bingung, wajib dipantau oleh dokter, bisa melalui telemedicine," kata Jeff.

Untuk memudahkan masyarakat menjalani isolasi mandiri, Good Doctor memiliki e-book panduan isolasi mandiri yang bisa diakses melalui akun Instagram Good Doctor https://www.gooddoctor.co.id/hidup-sehat/covid-19/panduan-isolasi-mandiri-covid-19-2/. Aplikasi GoodDoctor juga melayani pendaftaran vaksinasi COVID-19.

Head of Medical Management Good Doctor Technology Indonesia (GDTI), dokter Adhiatma Gunawan mengingatkan, meskipun saat ini kasus Covid-19 mulai menurun, kewaspadaan tetap harus dilakukan, mengingat pandemi belum sepenuhnya berakhir. Program vaksinasi Covid-19 masih terus ditingkatkan oleh pemerintah dengan melibatkan banyak instansi termasuk swasta. Mewakili Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), Svida Alisjahbana, CEO GCM Group mengatakan timya terus mendukung program vaksinasi Covid-19. “HIPPINDO saat ini membuka sentra-sentra vaksinasi di seluruh Pulau jawa dan rencananya juga luar pulau Jawa, bekerja sama dengan Good Doctor,” kata Svida.

Baca: Bisa Bahaya, Hindari 5 Minuman Ini Saat Hendak Minum Obat