Selain Tanda Lapar, Ini 3 Sebab Perut Keroncongan

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Ilustrasi wanita mengelus perutnya. shutterstock.com

Ilustrasi wanita mengelus perutnya. shutterstock.com

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Perut keroncongan tak selalu menjadi sinyal lapar. Ada beberapa sebab lainnya Anda mengalami hal itu, bisa jadi alergi makanan atau sinyal stres. Dan, perut berbunyi itu juga bagian dari proses pencernaan.

"Sebenarnya ada istilah medis untuk perut keroncongan atau bunyi, yaitu borborygmus," kata Will Bulsiewicz, MD, ahli gastroenterologi dan penulis Fiber Fueled dikutip dari laman Well and Good, Selasa, 13 Juli 2021.

"Perut keroncongan itu benar-benar normal dan tidak hanya terjadi saat Anda lapar," sambung dokter Bulsiewicz. "Bahkan, jika saya memeriksa pasien dan meletakkan stetoskop di perut mereka dan tidak mendengar apa-apa, itu sebenarnya pertanda ada yang tidak beres," tegasnya.

Perut keroncongan adalah bagian pencernaan yang sehat dan jika Anda mengalami itu tanpa rasa sakit, ketidaknyamanan, atau gejala lainnya, berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lantas, apa yang memicu perut berbunyi? Setelah Anda makan, makanan, cairan, maupun gas bergerak dari lambung ke usus kecil, pergerakan itu yang membuat perut Anda berbunyi.

Tapi lain ceritanya, jika perut Anda berbunyi disertai gejala diare, sembelit atau otot perut menegang. Menurut dokter Bulsiewicz, itu pertanda tubuh sedang memberitahu apa yang terjadi di dalam tubuh seperti berikut ini.

3 penyebab umum perut keroncongan, menurut ahli gastroenterologi

1. Bisa jadi Anda stres

Siapa pun yang pernah mengalami masalah perut sebelum melakukan presentasi atau berkencan memahami betul hubungan pikiran-usus itu sangat nyata. Jika Anda stres atau cemas, itu juga bisa menjadi alasan mengapa perut Anda keroncongan.

"Ketika saya masih di sekolah kedokteran, saya sering mengalami perut keroncongan setiap kali saya menghadapi ujian besar," tutur dokter Bulsiewicz. "Itu hanya salah satu tanda stres untuk saya."

Menurutnya, stres bisa menyebabkan otot perut berkontraksi dan rileks. Ketika itu terjadi, gas dan cairan pencernaan "diperas" melalui usus kecil. Ini bisa terjadi saat perut kosong atau perut penuh.

"Itu hampir seperti Anda meremas balon," ungkapnya. "Kejang menekan otot di sekitar usus yang mendorong gas dan cairan ke tempat lain."

Jika Anda mengalami perut keroncongan saat stres, coba tarik napas dalam-dalam beberapa kali. Anda benar-benar dapat menenangkan perut dalam waktu kurang dari lima menit menggunakan latihan pernapasan yang tepat.

2. Sinyal sindrom iritasi usus besar atau sensitif terhadap makanan

Jika perut bunyi disertai dengan diare atau sembelit dan terjadi secara teratur, dokter Bulsiewicz mengatakan itu bisa menjadi tanda sindrom iritasi usus atau sensitif terhadap makanan, seperti gluten atau produk susu. Akan sangat membantu, jika Anda mencatat kapan Anda mengalami itu dan gejala lainnya.

Apa yang Anda makan dalam 24 jam sebelum gejala dimulai? Mungkinkah suasana hati Anda berkontribusi? Misalnya, apakah Anda sangat cemas atau stres hari ini? Bawa daftar jawaban tersebut saat berkonsultasi dengan dokter.

Baca juga:  6 Cara untuk Menghindari Perut Kembung dan Penyebabnya

Perut bunyi juga bisa terjadi pada seseorang dengan penyakit celiac jika mereka makan sesuatu dengan gluten. "Dokter dapat menjalankan tes untuk mengetahui dengan pasti apakah Anda memiliki alergi atau sensitivitas terhadap makanan.

3. Alami kekurangan sukrosa

Orang sering berbicara tentang sensitif terhadap gluten atau produk susu, tetapi dokter Bulsiewicz mengatakan ada sensitivitas makanan lain yang sangat umum dan jarang dibicarakan. "Saya melihat begitu banyak pasien yang kekurangan sukrosa dan ini bisa menyebabkan perut keroncongan disertai gejala lain seperti gas yang berlebihan, diare, atau sembelit," katanya.

Sukrosa adalah enzim yang memecah gula. Ia mengatakan banyak orang kekurangan enzim ini sejak lahir.

Jika seseorang dengan defisiensi sukrosa menyantap makanan dengan gula, pemanis alternatif, atau bahkan buah dan sayuran yang mengandung sukrosa, dapat mengalami perut bunyi. 

Bila kekurangan sukrosa dikonfirmasi, penting untuk bekerja dengan dokter (dan mungkin ahli gizi) tentang cara terbaik untuk mengelola gejala karena banyak makanan sehat mengandung sukrosa dan Anda tidak ingin mengurangi lebih dari yang diperlukan atau menjadi takut makan. 

Jadi, ahli mengungkapkan tak perlu khawatir perut bunyi meski dalam kondisi tak lapar. Tapi segera temui dokter jika perut bunyi disertai kondisi gejala lainnya seperti di atas.

WELL AND GOOD

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."