Hari Peduli Autisme Sedunia, Simak 5 Mitos dan Fakta Seputar Autisme

Ilustrasi anak autis jalani terapi. shutterstock.com

kesehatan

Hari Peduli Autisme Sedunia, Simak 5 Mitos dan Fakta Seputar Autisme

Jumat, 2 April 2021 13:30 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta -  Setiap tanggal 2 April diperingati sebagai World Autism Awareness Day atau Hari Peduli Autisme Sedunia. Hari tersebut ditetapkan oleh PBB agar masyarakat dunia bisa lebih peduli dan peka kepada teman-teman autisme.

Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan masalah komunikasi, keterampilan sosial serta perilaku. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu dari 160 anak di dunia pasti mengidap masalah kesehatan ini.

Sayangnya, ada sejumlah mitos seputar autisme yang beredar di masyarakat. Agar tidak salah persepsi dan informasi, berikut fakta seputar autisme dilansir dari laman Boldsky dan Autism Speaks.

Mitos pertama: autisme disebabkan oleh pola asuh dan vaksin yang salah

Banyak yang mengatakan bahwa autisme bisa muncul seiring dengan pola asuh dan pemberian vaksin yang salah bagi anak. Padahal, para peneliti mengatakan tidak ada bukti yang mendukung vaksinasi pada masa kanak-kanak dan pola asuh yang buruk menyebabkan perkembangan autisme. Bahkan, hingga kini belum ada penyebab jelas dari autisme itu sendiri.

Mitos kedua: orang dengan autisme tidak memiliki perasaan

Ada kesalahpahaman tentang orang autis sehingga mereka dianggap tidak dapat merasakan atau mengekspresikan isi hati. Padahal, penelitian telah menunjukkan kebanyakan orang autis mampu merasakan atau mengungkapkan cinta atau empati.

Beberapa orang mungkin menunjukkan perasaan dengan cara yang kurang jelas. Tetapi itu tidak berarti mereka tidak dapat merasakan atau mengungkapkan perasaan.

Mitos ketiga: semua penyandang autisme memiliki kemampuan luar biasa

Beredar pendapat anak autisme memiliki kemampuan yang luar biasa dalam satu atau lebih bidang, seperti memori, seni, musik, perhitungan matematika, dan kemampuan komputer. Meski hal tersebut benar, namun rasionya hanya satu dari 10 orang autisme saja yang memiliki kemampuan luar biasa. Sedangkan sebagian besar dari mereka memiliki keahlian biasa.

Mitos keempat: anak autisme itu kasar

Anak-anak autisme mungkin terlihat bereaksi agresif. Hal tersebut utamanya karena mereka frustrasi lantaran merasa sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain. Jadi, itu bukan berarti mereka bertindak karena kedengkian atau menimbulkan bahaya bagi orang lain.

Mitos kelima: autisme dapat disembuhkan

Hingga saat ini belum ada obat untuk autisme. Namun, terapi perilaku intensif dini dapat sangat meningkatkan perkembangan dan pembelajaran serta mengurangi gejala autisme pada anak.

Banyak pula program yang membahas berbagai kesulitan bahasa, perilaku, dan sosial yang terkait dengan autisme. Hal itu berfokus pada pengajaran anak-anak tentang bagaimana berkomunikasi dengan lebih baik atau bertindak dalam situasi sosial.

Baca juga:

Cara Dian Sastro Ajarkan Putranya yang Autisme Berbagi Perasaan

 
 
SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA