Coronasomnia, Gangguan Tidur Pandemi yang Berakar pada Insomnia dan Hipersomnia

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Kinanti Munggareni

google-image
Sering mengantuk biasanya disebabkan oleh kebiasaan tidur yang buruk, tapi ada beberapa gangguan tidur lain yang bisa jadi penyebab. (Canva)

Sering mengantuk biasanya disebabkan oleh kebiasaan tidur yang buruk, tapi ada beberapa gangguan tidur lain yang bisa jadi penyebab. (Canva)

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Di masa pandemi, ada gangguan tidur baru yang dikenal dengan istilah coronasomnia. Masalah ini sebenarnya bersumber dari gangguan tidur yang telah lama kita kenal, yakni insomnia. Namun, ini juga bersumber dari hipersomnia.

Dikutip dari Psychology Today, menurut National Institutes of Health, “Insomnia adalah gangguan tidur yang umum. Dengan insomnia, Anda mungkin mengalami kesulitan tidur, tetap tertidur, atau kualitas tidur yang baik."

Insomnia terjadi meski Anda punya waktu dan lingkungan yang tepat untuk tidur nyenyak. Insomnia mengganggu aktivitas harian Anda dan mungkin membuat Anda merasa tidak nyaman atau mengantuk di siang hari.

Insomnia jangka pendek dapat disebabkan oleh stres atau perubahan dalam jadwal atau lingkungan Anda. Itu bisa berlangsung selama beberapa hari atau minggu. Insomnia kronis (jangka panjang) terjadi tiga malam atau lebih dalam seminggu, berlangsung lebih dari tiga bulan, dan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh masalah kesehatan atau obat lain.

Dikutip dari Bisnis praktisi kesehatan tidur, dr. Andreas Prasadja mengatakan ada perbedaan antara insomnia dan hipersomnia. 

“Insomnia gangguan tidur dimana penderitanya sulit tidur. Sebaliknya, hipersomnia membuat penderitanya mengalami kantuk berlebihan di siang hari. Hal itu membuat tidur malam mereka lebih lama,” katanya pada acara virtual Philips, Selasa (16/3/2021).

Penderita hipersomnia sulit untuk mengatasi rasa kantuknya. Mereka yang mengalami gangguan ini bahkan bisa tidur dalam situasi apapun dan di manapun.

Baik insomnia dan hipersomnia, efeknya bisa sangat berbahaya pada pasien. Dikutip dari Bisnis, apabila ini dibiarkan terlalu lama akan membuat metabolisme seseorang berkurang, kekuatan otak menurun, kemudian gangguan pada mental.

Andreas mengatakan, sebagai langkah awal untuk penyebuhan penyakit tersebut haruslah di cari faktor dan sumber gejala.

“Apabila sudah ditemukan sumber yang menjadi masalah dalam gangguan tidurnya, maka pasien haruslah meningggalkan kebiasaan buruk tersebut. Itu merupakan cara yang paling sederhana untuk menyebuhkan. Namun apabila terlalu sulit, pilihan berkonsultasi dengan dokter adalah yang paling tepat,” tutup Andreas.

Pandemi, tentu saja, adalah pemicu stres utama yang disertai dengan berbagai tekanan lainnya, seperti kekhawatiran tentang kesehatan kita sendiri dan orang yang dicintai, masalah keuangan, pola baru dalam bekerja, situasi rumah yang padat dan tegang, kesepian, kecemasan, dan sebagainya. Gangguan yang sedang berlangsung telah menciptakan malam yang terjaga bahkan bagi orang-orang yang biasanya tidur nyenyak.

Dikutip dari Psychology Today, tidak tidur pada saat bahaya adalah perilaku wajar dan, dari sudut pandang evolusi, bahkan menyehatkan. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan tahun lalu di jurnal Brain Sciences, sekelompok peneliti dari seluruh AS dan Inggris menulis, “Berbicara secara evolusioner ... jika tidak aman untuk tidur, seseorang tidak boleh tidur (terlepas dari durasi bangun sebelumnya dan / atau waktu hari).”

Baca juga: Sering Mengantuk? Kebiasaan Tidur yang Buruk Bisa Jadi Penyebab

BISNIS | PSYCHOLOGY TODAY

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."