Peneliti: Harus Pakai Masker Meski Sudah Gunakan Face Shield

Peserta mengenakan masker dan face shield saat mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta, Ahad, 5 Juli 2020. UNJ yang merupakan salah satu Pusat UTBK Perguruan Tinggi Negeri (PTN), menyelenggarakan ujian dalam dua tahap yakni pada tanggal 5-12 Juli 2020 dan 20-27 Juli 2020 dengan jumlah total peserta sebanyak 42.463 orang. ANTARA/Dhemas Reviyanto

kesehatan

Peneliti: Harus Pakai Masker Meski Sudah Gunakan Face Shield

Sabtu, 5 September 2020 08:00 WIB
Reporter : Antara Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Banyak di antara kita yang memakai face shield tanpa masker. Sebab mereka merasa tidak nyaman, panas, hingga menyulitkan bernapas saat memakai masker plus face shield. Namun, pelindung wajah ini tidak pernah dimaksudkan untuk digunakan sendiri, tapi harus bersama dengan masker untuk mencegah penyebaran infeksi virus yang ditularkan melalui udara. 

Itulah alasan staf rumah sakit dan orang-orang yang berada di area berisiko tinggi terkena Covid-19 mengenakan masker dan face shield secara bersamaan.

Face shield atau alat pelindung wajah transparan biasanya berupa lembaran plastik bening kaku atau semi-kaku yang melengkung di sekitar wajah Anda, tetapi tidak menempel di samping kulit di pipi atau di bawah mulut Anda.

Alat ini digunakan untuk melindungi pemakainya dari cipratan cairan tubuh yang bisa mengenai mata dan wajah mereka.

Di sisi lain, masker, jika dikenakan dengan benar menutupi sekitar hidung, pipi, dan dagu untuk menahan tetesan udara masuk dan mencegah tetesan dari luar terhirup.

Peneliti dari Florida Atlantic University College of Engineering and Computer Science melakukan eksperimen untuk melihat bagaimana tetesan bekerja ketika seseorang bersin atau batuk saat mengenakan pelindung wajah tanpa masker. Akankah pelindung wajah melindungi orang-orang di sekitar mereka? Jawabannya tidak.

Menurut peneliti, face shield menghentikan percikan tetesan setelah bersin atau batuk dan tetesan itu kemudian bergerak melintasi pelindung dan menyebar ke sisi dan bawahnya, memasuki lingkungan sekitarnya.

Meskipun masker dapat menyaring tetesan pernapasan saat Anda menarik napas, ruang terbuka di sekitar alat pelindung wajah memungkinkan aliran udara yang mungkin terkontaminasi di bawah pelindung bisa Anda hirup.

Para peneliti mengamati masker berkatup yang menurut produsen lebih nyaman untuk bernapas dan sama amannya dengan masker biasa. Ini tidak sama dengan masker resmi N-95, yang dirancang khusus untuk keamanan optimal.

Mereka menemukan, masker berkatup tidak menyaring virus apa pun. Jadi setiap kali Anda bernapas, jika Anda terkena virus, maka virus itu dikirim ke luar masker, ke tempat terbuka.

“Pengamatan kami menunjukkan, untuk meminimalkan penyebaran COVID-19 di komunitas, mungkin lebih baik menggunakan kain berkualitas tinggi atau masker bedah yang memiliki desain polos, daripada pelindung wajah dan masker yang dilengkapi dengan katup napas,” kata para peneliti seperti dilansir Medical Daily, Kamis, 3 September 2020.