Wabah Corona, Perhatikan Aturan Menumpuk Pakaian Kotor

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Rini Kustiani

google-image
Ilustrasi mencuci pakaian. ism.com

Ilustrasi mencuci pakaian. ism.com

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Berapa hari sekali Anda biasanya mencuci pakaian? Setiap hari, dua hari sekali, tiga hari sekali, atau tunggu mood untuk mencuci datang. Jika tak datang juga, oper semua pakaian kotor ke jasa laundry.

Kegiatan mencuci pakaian memang cukup menyita waktu dan tenaga. Karena itu, biasanya orang menumpuk dulu pakaian kotor selama beberapa hari, kemudian mencucinya sekaligus. Namun berapa lama pakaian kotor aman ditumpuk? Sebab jika terlalu lama akan menimbulkan bau tak sedap, pakaian jadi rusak, dan tentu saja semakin banyak tenaga yang terkuras untuk mencuci.

Brand Manager SoKlin, Rindu Melati Siregar mengatakan menumpuk pakaian kotor itu sah-sah saja. Batas toleransinya adalah selama dua sampai tiga hari untuk pakaian sehari-hari dengan derajat kotor yang normal. "Pakaian untuk kegiatan normal umumnya hanya terkena debu dan keringat," kata Rindu dalam keterangan tertulis kepada Cantika, Senin 27 April 2020.

Karyawan jasa laundry memilah pakaian yang selesai dicuci di Bandung, Jawa Barat, Selasa, 11 Juni 2019. ANTARA/M Agung Rajasa

Namun mengingat kondisi seperti sekarang, di mana masih terjadi wabah corona, ada baiknya langsung mencuci pakaian setelah digunakan. "Atau setidaknya langsung pisahkan pakaian tersebut ke tempat khusus atau ke dalam mesin cuci," kata Rindu.

Terlebih untuk pakaian yang sangat kotor dan memiliki resiko penyerapan noda yang besar. Untuk pakaian dengan kondisi seperti ini, sangat dianjurkan untuk langsung dicuci. Musababnya, jika noda terlanjur meresap ke dalam serat kain, maka pakaian akan sulit dibersihkan secara maksimal.

Ketika mencuci pakaian, Rindu Melati menambahkan, sangat dianjurkan menggunakan detergen yang mengandung formula anti-bakteri untuk menghilangkan kuman membandel. Dengan begitu, pakaian aman dikenakan serta terhindar dari resiko terpapar penyakit.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."