Mengenal Herd Immunity di Tengah Pandemi Corona, Apa Itu?

Ilustrasi virus corona atau Covid-19. REUTERS

kesehatan

Mengenal Herd Immunity di Tengah Pandemi Corona, Apa Itu?

Sabtu, 28 Maret 2020 14:40 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Di tengah pandemi virus corona baru atau COVID-19 beragam istilah medis yang harus kita perhatikan dengan seksama maknanya. Salah satunya herd immunity, sudah pernah dengar?

Menurut Wakil Ketua Tim Pencegahan dan Kewaspadaan COVID-19 Universitas Padjadjaran Irvan Afriandi, herd community populer lewat tulisan Topley dan Wilson, yaitu artikel "The spread of bacterial infection, the problem of herd immunity" yang dipublikasikan pada Journal of Hygiene pada 1923. Saat itu wabah penyakit memunculkan pertanyaan kenapa pada populasi tertentu tidak mengalaminya.

"Lalu dilakukan pengukuran kekebalan individu pada populasi yang mengalami wabah dan dibandingkan dengan kekebalan individu pada populasi yang tidak mengalami wabah," kata Irvan, Selasa, 24 Maret 2020.

Ia menjelaskan herd immunity sebagai kekebalan bersama yang terbentuk dari individu-individu yang memiliki kekebalan terhadap suatu infeksi secara alami tanpa vaksin.

Ketika jumlah mereka mencapai proporsi tertentu dari suatu populasi, maka peluang terjadinya infeksi di populasi tersebut akan menurun. Tantangannya, kata Irvan, adalah seberapa cepat bisa tercapai ambang minimum yang akan efektif melindungi masyarakat luas itu. 

“Dan peran untuk mempercepat tercapainya ambang minimum herd immunity tidak sepenuhnya berada di tangan pemerintah, tapi ada peran dari perilaku masyarakat juga,” ujarnya.

Dosen di Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran atau UNPAD itu memberi ilustrasi dengan upaya distribusi vaksin dari suatu penyakit oleh pemerintah. Jika masyarakat tidak menggunakan atau mengakses vaksin itu, maka pencapaian ambang minimum herd immunity akan lambat.

Selain vaksinasi, ia menambahkan, “Yang nggak kuat imunnya harus dikuatkan dengan melakukan perilaku hidup bersih dan sehat." Irvan merujuk pola hidup sehat dan bersih seperti kebiasaan makan yang bergizi dan seimbang, istirahat atau tidur yang memadai, berolahraga, dan tidak merokok.

Bagi kalangan yang berdaya tahan rendah atau terganggu perlu dilindungi dengan menghindari paparan terhadap yang terinfeksi. Pada kasus COVID-19, ini dianjurkan dilakukan lewat physical distancing atau jaga jarak fisik. “Dengan asumsi siapa pun berpotensi sebagai agen penular termasuk orang yang tampak sehat tak bergejala.”

 

ANWAR SISWADI