Ini Bedanya Gejala Virus Corona pada Anak dan Dewasa

Petugas medis melakukan senam bersama pasien anak-anak yang terjangkit virus Corona di salah satu rumah sakit di Wuhan, Cina, 1 Maret 2020. Sekelompok petugas medis bahkan mengambil jam kerja ekstra untuk berolahraga hingga belajar bersama pasien anak. Youtube

kesehatan

Ini Bedanya Gejala Virus Corona pada Anak dan Dewasa

Selasa, 17 Maret 2020 21:30 WIB
Reporter : Eka Wahyu Pramita Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Hingga Selasa, 17 Maret 2020, diketahui ada 2 pasien di bawah usia lima tahun dari 172 kasus positif virus corona baru atau COVID-19. Itu sebabnya Perwakilan Unit Kerja Koordinasi atau UKK Respirologi Anak IDAI, Dr. Darmawan B. Setyanto menyatakan butuh penanganan khusus untuk anak yang terjangkit virus corona, termasuk kawalan spesialis anak untuk pasien anak.

Darmawan menjelaskan infeksi penyakit ini mirip dengan selesma atau common cold dengan gejala seperti batuk, pilek, dan demam sehingga menyulitkan dokter untuk dapat mengetahui diagnosis pasti COVID-19 tanpa adanya kejelasan sumber penularan.

Gejala pada anak sama dengan orang dewasa, termasuk gejala dari hari ke hari. Mulai dari demam, nafsu makan turun, badan pegal, rewel, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan suara napas. 

"Kalau kena ke paru-paru menjadi sesak sama dengan orang dewasa. Nah bedanya kalau anak kecil yang belum bisa bicara jadi rewel atau malah tidak dirasa," papar Darmawan dalam konferensi pers online IDAI di Jakarta, Senin 16 Maret 2020.

Selain itu, gejala COVID-19 pada anak tidak selalu diawali dengan demam. Sekitar 30-40 persen tidak selengkap pasien dewasa.

Lebih lanjut Darmawan menjelaskan, secara umum virus corona menyerang sistem pernapasan yang terdiri dari 2 bagian, saluran dari hidung atau trakea (tabung pernapasan) dan bronkus (cabang batang tenggorokan). 

Diketahui, virus corona bisa menyerang keduanya baik saluran pernapasan dan paru-paru. Kalau menyerang saluran pernapasan mengakibatkan selesma dan common cold. Sementara jika menyerang paru bisa terkena pneumonia yang berakibat fatal.

"Penyakit infeksi di saluran napas ini berpotensi menular lebih cepat karena semua bernapas. Percikan dari bersin atau batuk bisa mengkontaminasi. Jika orang memegang kena maka bisa masuk ke permukaan dalam tubuh kita. Kulit tidak bisa ditembus oleh virus tapi melalui mukosa lewat mata, mulut, dan hidung mudah ditembus," papar Darmawan. Sebab itu, sangat penting menjaga jarak sejauh satu meter dengan orang lain. 

EKA WAHYU PRAMITA