Studi: Gigi Berlubang Meningkatkan 20 Persen Penyakit Jantung

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Ilustrasi sakit gigi. Shutterstock

Ilustrasi sakit gigi. Shutterstock

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Diakui atau tidak banyak di antara kita malas ke dokter gigi. Alasan enggan ke dokter gigi karena dianggap menyeramkan sekaligus mahal. Tentu, hal itu berisiko pada masalah gigi dan mulut, seperti gigi berlubang

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2018, sebanyak 57,6 persen penduduk Indonesia mengalami masalah gigi dan mulut, termasuk gigi berlubang. Kebanyakan dari kita saat mengalami sakit gigi biasanya didiamkan saja atau cukup mengonsumsi analgesik untuk menghilangkan nyeri. 

Padahal, gigi berlubang bisa memicu komplikasi kesehatan yang lebih serius, misalnya penyakit jantung. “Kalau gigi sudah berlubang sangat dalam sampai rongga pulpa (lapisan gigi terdalam) yang isinya saraf dan pembuluh darah, berbahaya. Kita tahu pembuluh darah di tubuh saling berhubungan. Bakteri gigi bisa menjalar ke organ lain seperti jantung,” kata Andy di acara Dentist Talk Cobra Dental di Jakarta, Kamis, 20 Februari 2020.

Mengutip laman Healthline, sejumlah penelitian juga menunjukkan hubungan antara penyakit gusi dan jantung. Sebuah penelitian di 2014 membuktikan bahwa orang yang melakukan perawatan gigi dan mulut dengan baik mengeluarkan biaya lebih rendah 10-40 persen untuk perawatan kardiovaskular. Temuan dalam penelitian lain membuktikan bahwa penyakit gusi meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit jantung sekitar 20 persen.

Dengan bukti ini, American Dental Association dan American Heart Association telah mengakui hubungan antara penyakit gusi dan penyakit jantung. Penyakit gusi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung karena peradangan pada gusi dan bakteri pada akhirnya dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah penting.

Sejumlah penelitian juga mengaitkan masalah gigi dan gusi dengan penyakit lainnya, seperti penyakit pernapasan serta kanker ginjal dan pankreas. Perlu ada penelitian lebih lanjut tentang hal tersebut.

Itu sebabnya, Andi menyarankan melakukan perawatan gigi dengan benar. Selain sikat gigi minimal dua kali sehari setelah sarapan dan sebelum tidur, perawatan juga dilakukan dengan rutin mengunjungi dokter gigi setidaknya enam bulan sekali.

“Jangan nunggu sakitnya parah baru ke dokter gigi. Pas datang biayanya lebih besar karena perawatannya kompleks. Tapi kalau dari awal sudah berkunjung ke dokter gigi setiap enam bulan, masalah gigi tidak akan muncul,” kata host Dr. OZ Indonesia 2015-2017 ini.

Kunjungan ke dokter gigi bisa dimulai sejak usia enam bulan, meskipun belum memiliki gigi. Tujuannya adalah membiasakan anak sehingga kelak tidak takut.

MILA NOVITA 

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."