Sinta Nuriyah Bagi Pandangan Bedanya Jilbab dan Hijab

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Mantan ibu negara, Sinta Nuriyah Wahid hadir dalam pertemuan Gerakan Suluh Kebangsaan dengan KPU di Gedung KPU, Jakarta, Rabu, 10 April 2019. eruan Amien Rais itu disampaikan saat berorasi di depan massa yang berunjuk rasa di kantor KPU, 31 Maret 2019.  TEMPO/Muhammad Hidayat

Mantan ibu negara, Sinta Nuriyah Wahid hadir dalam pertemuan Gerakan Suluh Kebangsaan dengan KPU di Gedung KPU, Jakarta, Rabu, 10 April 2019. eruan Amien Rais itu disampaikan saat berorasi di depan massa yang berunjuk rasa di kantor KPU, 31 Maret 2019. TEMPO/Muhammad Hidayat

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Sinta Nuriyah, istri Presiden RI ke-4 mendiang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib untuk memakai jilbab. Ia pun menyadari bahwa masih banyak orang yang keliru mengenai kata jilbab dan hijab.

Menurut dia, hijab tidak sama pengertiannya dengan jilbab. "Hijab itu pembatas dari bahan-bahan yang keras seperti kayu, kalau jilbab bahan-bahan yang tipis seperti kain untuk menutup," kata Sinta di YouTube channel Deddy Corbuzier pada Rabu, 15 Januari 2020.

Ia mengakui bahwa setiap muslimah tidak wajib untuk mengenakan jilbab karena memang begitu adanya yang tertulis di Al Quran, jika memaknainya dengan tepat. "Enggak juga (semua muslimah harus memakai jilbab), kalau kita mengartikan ayat dalam Al Quran itu secara benar," kata Sinta. 

Sinta Nuriyah mengatakan jilbab tak sama dengan hijab saat podcast bersama Deddy Corbuzier. Youtuber.com

Selama ini, ia berusaha mengartikan ayat-ayat Al Quran secara kontekstual, bukan tekstual. Sinta juga mengakui bahwa kaum muslim banyak yang keliru mengartikan ayat-ayat Al Quran karena sudah melewati banyak terjemahan dari berbagai pihak yang mungkin saja memiliki kepentingan pribadi.

"Dipengaruhi oleh adat budaya setempat, cara berpikir dia juga itu mempengaruhi pemahaman terhadap ayat-ayat agama yang bukan menjadi bahasanya, yang sama bahasanya pun bisa salah juga mengartikannya," ucap Sinta.
 
Anaknya, Inayah Wahid yang berada di sebelahnya pun setuju dengan pendapat Sinta. Menurut dia, penafsir memang harus memiliki berbagai persyaratan untuk mengartikan ayat-ayat Al Quran. "Enggak boleh orang menafsirkan dengan sembarangan," ujar Inayah. 
 
Keduanya pun menyadari setelah berkata demikian akan banyak yang tidak setuju dengan
pandangannya hingga mendapatkan perisakan oleh warganet. Namun mereka juga tidak ingin memaksakan orang di luar sana untuk setuju dengan mereka.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."