Mendaki Gunung di Benua Asia Lebih Ramah Perempuan, Mengapa?

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Laksmi Prasvita. Instagram.com/@katiemimie

Laksmi Prasvita. Instagram.com/@katiemimie

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Laksmi Prasvita salah satu sosok pendaki perempuan yang berpengalaman. Di usia 50 tahun, Laksmi tercatat sudah mendaki 20 gunung. Di antaranya mendaki Gunung Salak, Lawu, Gede, Cikuray hingga pendakian teranyar di Gunung Kilimanjaro, Tanzania, Afrika, yang dilakukannya pada Oktober 2019.

Dari beragam pengalaman itu, Laksmi pun mempunyai tips dan trik untuk menghadapi jalur pendakian, kondisi alam hingga kebiasaan di masing-masing gunung. Ketika bicara kondisi gunung di Benua Asia dengan Eropa dan Amerika, Laksmi menekankan perbedaan iklim yang berdampak pada penguasaan teknik mendaki.

“Pastinya iklim. Kalau di Amerika dan Eropa, kita belajar technical-nya, seperti mendaki di salju. Bagaimana memakai tali-temalinya. Bagaimana kita memakai crampon dan cara berjalannya. Itu bisa dipelajari,” kata Laksmi Prasvita saat ditemui di acara Summit on Girls Getting Equal: Let’s Invest in Girls! di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Selasa 10 Desember 2019.

Laksmi Prasvita, pendaki perempuan, saat ditemui di acara Summit on Girls Getting Equal: Let's Invest in Girls! di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Selasa 10 Desember 2019. TEMPO/Silvy Riana Putri

Selain itu, ia juga mengingatkan perbedaan jarangnya porter di kawasan pegunungan luar Benua Asia. “Kalau kita mendaki secara individu di Asia, udah pasti ada guide (pemandu) dan porter (pembawa barang). Di Eropa atau Amerika, mungkin ada guide dan enggak ada porter. Karena mahal banget harganya,” jelas  Head of Corporate Communications and Public Affairs di Bayer Indonesia ini. 

Lebih lanjut ia memaparkan, “Jadi, kita harus siap membawa barang kita sendiri, kalau di Eropa dan Amerika. Kalau di Asia masih lebih ramah untuk perempuan, karena ada porter.”

Ia juga mengingatkan untuk tidak membawa barang bawaan berlebihan. Selain pertimbangan ada atau tidak porter, itu bagian dari melatih kedisiplinan juga.

Laksmi Prasvita. Instagram.com/@katiemimie

“Kita harus buat list dan disiplin bener bahwa kita membawa yang seperlunya. Soalnya kalau dalam pendakian ya, kita itu dibatasin hanya boleh berapa kilogram. Misalnya saja, di pendakian saya di Kilimanjaro hanya boleh membawa 10 kilogram,” tutur Laksmi.

Jikalau membawa barang lebih dari itu, di Gunung Kilimanjaro ditawarkan jasa porter dengan risiko mengeluarkan uang lebih banyak dari anggaran. “Kalau kamu mau tetap sama, ya stick sama list dan itu membangun sikap disiplin dalam diri juga," tandas Laksmi.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."