Hari Kesehatan Nasional, Hindari Kesalahan Ini saat Membuat MPASI

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
 Ilustrasi bayi makan MPASI (pixabay.com)

Ilustrasi bayi makan MPASI (pixabay.com)

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Hari Kesehatan Nasional diperingati setiap tanggal 12 November. Sebagai ibu, menjaga kesehatan anak menjadi bagian penting dalam rutinitas harian. Terutama di dari masa Air Susu Ibu (ASI) eksklusif ke masa Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Saat berusia enam bulan, anak sudah mulai diperkenalkan dengan MPASI. Sebab, gizi dari ASI sudah tidak mencukupi kebutuhan tumbuh kembang mereka. 

Namun, pakar gizi menilai kebanyakan orang tua Indonesia melakukan kesalahan saat memberikan MPASI anak. Akibatnya, gizi mereka tidak terpenuhi, terutama zat besi. Zat besi berfungsi untuk membentuk sel darah merah yang penting dalam proses metabolisme tubuh, pertumbuhan dan perkembangan fungsi normal sel-sel tubuh, serta pembentukan hormon dan jaringan ikat. Dan yang penting, zat besi juga penting dalam perkembangan otak. 

Pakar gizi medik Profesor Saptawati Bardosono mengatakan, akibat pola pemberian MPASI yang salah, angka anak Indonesia yang mengalami anemia defisiensi zat besi mengalami kenaikan. Berdasarkan Risset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018, balita penderita anemia sebesar 35,5 persen, naik dibandingkan dengan data 2013 yang tercatat 28,1 persen.

“Penyebabnya, 86 persen asupan zat besi anak-anak Indonesia jauh dari mencukupi,” ucap Prof. Tati di acara peluncuran Nestle Cerelac Risenutri di Jakarta, akhir Oktober 2019 silam.

Menurut Prof. Tati, sapaan Saptawati, kesalahan yang sering dilakukan orang tua antara lain MPASI umumnya berbasis beras. Hal itu wajar saja karena beras merupakan makanan pokok orang Indonesia pada umumnya. Hanya saja, kebanyakan tidak menambahkan nutrisi yang berasal dari jenis makanan lain.

Selanjutnya, kebanyakan orang tua memberikan protein nabati dibandingkan hewani. Protein nabati berasal dari tumbuhan seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan, sementara protein hewani berasal dari hewan seperti daging dan ikan. “Padahal zat besi dari protein hewani lebih udah diserap tubuh,” tutur Prof. Tati.

Prof. Tati mengatakan di antara semua sumber protein, kandungan zat besi tertinggi ada di daging merah seperti daging sapi, daging kambing, dan daging bebek. Ia menyarankan memberikan protein ini sejak enam bulan. Tapi jika bayi belum dapat mencernanya, ia menyarankan mengambil kaldunya saja.

Kebutuhan zat besi anak berbeda-beda setiap tahapan usianya. Di usia enam bulan, anak membutuhkan 8 miligram zat besi per hari. Setelah itu, kebutuhan meningkat hingga 26 miligram per hari saat usianya 18 tahun.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."