Mau Naik Haji? Periksa Kesehatan Ini Sebelum Berangkat

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Mitra Tarigan

google-image
Calon jemaah haji kloter Jawa Barat asal Bogor tiba di Asrama Haji Bekasi, Sabtu, 6 Juli 2019. Tempo/Adi Warsono

Calon jemaah haji kloter Jawa Barat asal Bogor tiba di Asrama Haji Bekasi, Sabtu, 6 Juli 2019. Tempo/Adi Warsono

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Perhimpunan kedokteran haji Indonesia (Perdokhi) mengingatkan Istitha'ah (kemampuan) kesehatan merupakan hal yang penting dilakukan oleh setiap calon jamaah haji sebelum bertolak ke Tanah Suci Mekkah. "Istitha'ah adalah suatu cara untuk membina jamaah, bukan menyeleksi jamaah untuk tidak boleh berangkat haji," kata Ketua umum Perdokhi Dr Fidiansjah, di Jakarta, Rabu 17 Juli 2019.

Ia menjelaskan Istitha'ah dibuat dalam rangka menyiapkan para calon jamaah haji yang sehat sebelum bertolak ke Tanah Suci. Hal itu dilakukan dengan memanfaatkan waktu tunggu yang cukup lama agar dalam kondisi prima sebelum keberangkatan.

Apabila masing-masing jamaah calon haji minimal bisa menyiapkan Istitha'ah satu tahun sebelum keberangkatan, maka hal itu dianggap sudah baik. Sebagai contoh jamaah yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes dan sebagainya maka harus disiapkan pengobatan. "Itu prinsip yang ingin kami senantiasa sampaikan kepada para jamaah, sampaikan apapun status kesehatannya jangan ditutupi," kata dia.

Jika jamaah calon haji mencoba menutupi riwayat penyakitnya, maka hal itu membahayakan saat tiba di Tanah Suci Mekkah karena Perdokhi tidak memiliki riwayat rekam medis yang dimiliki sebelum berangkat.

Ia mengatakan jika calon jamaah haji mengidap penyakit tuberkulosis dan menyembunyikannya kepada petugas di Indonesia, maka berpotensi besar diisolasi oleh petugas di Tanah Suci apabila ketahuan. "Kalau ketahuan tidak bisa berbuat apa-apa, pulangnya pun setelah jamaah haji selesai," ujar dia.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam, mengatakan masih banyak masyarakat yang minim informasi terkait persiapan kesehatan maupun selama melaksanakan rangkaian ibadah haji.

Ia mengatakan ibadah haji harus menyiapkan fisik atau kesehatan yang baik karena akan melalui sejumlah rangkaian panjang dan menguras tenaga. "Masalah kesehatan ini penting karena apalagi prosesnya panjang, oleh karena itu jamaah calon haji yang memiliki riwayat penyakit harus berobat secara teratur," kata dia.

Kondisi kesehatan jamaah calon haji menjadi komponen vital yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan dengan baik. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Indonesia pada 2018 jumlah jamaah haji Indonesia yang wafat yaitu 364 orang dari 205.884 orang.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."