Seven Summits, 2 Mahasiswi Unpar Berangkat Mendaki Gunung Everest

Mathilda Dwi Lestari (kiri) dan Fransisca Dimitri Inkiriwang dari tim WISSEMU di sekretariat Mahitala, Bandung, 9 Agustus 2017. Pada 2018 keduanya akan mendaki puncak ke-7 yaitu Everest. Dan jika berhasil akan menjadi pendaki wanita Seven Summiter pertama dari Indonesia. TEMPO/Prima Mulia

ragam

Seven Summits, 2 Mahasiswi Unpar Berangkat Mendaki Gunung Everest

Jumat, 30 Maret 2018 08:23 WIB
Reporter : Anwar Siswadi (Kontributor) Editor : Rini Kustiani

CANTIKA.COM, Bandung - Dua mahasiswi dari Universitas Parahyangan atau Unpar Bandung, Jawa Barat, akan menuntaskan misi pendakian tujuh gunung tertinggi di dunia di tujuh benua atau Seven Summits. Dua mahasiswi Unpar itu adalah Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari yang sudah bertolak ke Himalaya, Nepal, pada Kamis 29 Maret 2018.

Fransiska dan Mathilda yang sama-sama berusia 24 tahun itu akan menghadapi keganasan alam Everest demi mencapai puncak setinggi 8.848 meter dari permukaan laut. Fransiska Dimitri Inkiriwang mengatakan Everest adalah puncak tertinggi di Asia maupun dunia dan menjadi penutup perjalanan mereka menaklukkan Seven Summits.

"Kami memilih lewat rute utara yang melalui Tiongkok dan akan memakan waktu tempuh 57 hari," katanya Fransiska, Kamis, 29 Maret 2018. Tantangan terberat yang akan dihadapi tim The Women of Indonesia's Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU) itu adalah adaptasi tubuh dengan lingkungan.

Fransiska dan Mathilda akan tinggal di Everest selama 1,5 bulan bersama pendamping dari penduduk lokal atau sherpa. Mereka sudah berlatih dan melakukan simulasi pendakian ke puncak yang memakan waktu selama 24 jam, serta mengikuti arahan dari pemandu agar bisa pulang ke Tanah Air dengan selamat. "Setelah berlatih maksimal, kami pasrah dan ikhlas akan apa yang akan terjadi di sana," ucap Mathilda.

Pendaki wanita Mathilda Dwi Lestari (kanan) dan Fransisca Dimitri Inkiriwang. TEMPO | Prima Mulia

Menurut Seven Summiters asal Indonesia, Xaverius Frans, sebelum mencapai ketinggian 8.000 meter, oksigen kian menipis. Jumlahnya kira-kira hanya sepertiga dari yang biasa dihirup di daratan. Kondisi itu membuat kaki sulit melangkah, badan pun terasa dingin walau sudah berbalut jaket tebal. "Jalan satu langkah membutuhkan empat kali pengambilan napas," ujarnya. Tantangan lain yaitu angin berkecepatan 200 meter per jam.

Indonesia sebelumnya telah memiliki beberapa orang yang berhasil mencatatkan diri sebagai Seven Summiters seperti Sofyan Arief Fesa, Xaverius Frans, Broery Andrew Sihombing dan Janatan Ginting yang mewakili Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala UNPAR (2009-2011). Selain itu ada Iwan Irawan, Martin Rimbawan, Fadjri Al Lufhfi dan Nurhuda yang tergabung dalam Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Wanadri. Baru kali ini Indonesia punya tim putri.

Ketinggian Everest hampir sama dengan menumpuk dua Gunung Carstensz, gunung tertinggi di Indonesia yang pertama mereka daki dalam ekspedisi Seven Summits setinggi 4.884 mdpl. Selanjutnya puncak Gunung Elbrus (5.642 mdpl), Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl), Gunung Aconcagua (6.962 mdpl), Gunung Vinson Massif (4.892 mdpl), dan Gunung Denali (6.190 mdpl).

"Semua pengalaman yang telah kami dapat selama empat tahun melakukan ekspedisi ini menjadi bekal untuk melaksanakan ekspedisi terakhir ini," kata Mathilda. Perjalanan ke Everest ini hampir terancam gagal karena terganjal dana. Bank BRI menyokong tim sebagai sponsor utama dan biaya lain dari donatur. Adapun taksiran biaya pendakian ke Everest sekitar Rp 1,8 miliar per orang.