Juwita Bahar Dibilang Kumpul Kebo, Simak Kata Psikolog

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Rini Kustiani

google-image
Juwita Bahar. TEMPO/Pribadi Wicaksono

Juwita Bahar. TEMPO/Pribadi Wicaksono

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Annisa Bahar marah besar ketika mengetahui putrinya, Juwita Bahar sudah tinggal satu rumah alias kumpul kebo dengan pacarnya, Deddy. Kekecewaan Annisa Bahar ini memucak hingga dia tak lagi mau mengakui Juwita Bahar sebagai anaknya. Annisa Bahar mengatakan tak tahu lagi bagaimana cara menyadarkan Juwita Bahar sehingga terpaksa mempublikasikan urusan privat ini.

Baca juga:
Konflik Juwita Bahar, Sikap Anak Jika Orang Tua Tolak Pacar

Penyanyi dangdut 41 tahun ini menjelaskan semua yang dia lakukan demi membantu Juwita Bahar. "Setiap orang punya cara berbeda dalam menghadapi masalah,” tulis Annisa Bahar di Instagram Story. Dan sikap Annisa Bahar terhadap kumpul kebo, sama seperti masyarakat kebanyakan yang tidak menerima itu.

Anisa Bahar. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

Namun di era yang kian individualistis dan bebas ini, ada orang yang masa bodoh atau membiarkan perilaku kumpul kebo. Psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indoneia, Mira D. Amir mengatakan orang yang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan biasanya menutupi hubungan mereka.

"Sebenarnya sudah mulai ada orang yang tidak terganggu dengan keluarga atau teman dekat yang tinggal bersama pacar, tetapi masih sangat sedikit," kata Mira Amir kepada Tempo, Kamis 8 Februari 2018. Dia menjelaskan jika keluarga dekat masih ada yang bisa menerima hubungan serumah tanpa pernikahan, namun itu bukan karena norma. Tapi di luar sana, masih banyak orang di lingkungan tempat tinggal yang tak bisa menerima itu.

Mira Amir menjelaskan sebagian besar orang tidak menerima pasangan yang belum menikah untuk tinggal serumah. Selain tak sesuai dengan ajaran agama, tinggal serumah dengan pacar akan memberi dampak psikologis kepada pasangan, baik yang laki-laki maupun perempuan.

“Kalau terjadi sesuatu, misalnya hamil tapi statusnya belum menikah, pasti akan menemukan kesulitan,” tutur Mira Amir. Walaupun keluarga atau teman dekat sudah menerima situasi tersebut, kondisi ini masih dianggap tabu oleh masyarakat.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."