Kasus Pelecehan Seksual National Hospital, Ingat Kampanye #MeToo

#MeToo. adage.com

ragam

Kasus Pelecehan Seksual National Hospital, Ingat Kampanye #MeToo

Jumat, 26 Januari 2018 17:00 WIB
Reporter : Astari Pinasthika Sarosa Editor : Rini Kustiani

CANTIKA.COM, Jakarta - Peristiwa pelecehan seksual yang dialami seorang pasien perempuan di National Hospital di Surabaya, Jawa Timur oleh perawat laki-laki, mengejutkan publik. Dalam sebuah video yang viral di Internet, perawat lelaki itu mengaku khilaf ketika melakukan perbuataan asusila tersebut. Pasien tadi telah melaporkan kejadian tersebut ke manajemen rumah sakit dan prosedur hukum sedang berjalan.

Baca juga:Pelecehan Seksual di National Hospital, 3 Langkah Korban

Kasus pelecehan seksual tak bisa dibiarkan. Sejumlah orang tergerak membantu mengungkap dan memulihkan kondisi para korban pelecehan seksual yang kerap menghadapi kendala di berbagai wilayah. Tekanan dari diri sendiri seperti rasa malu, marah, desakan kultural, dan sulitnya membela diri karena lemahnya instrumen hukum membuat sejumlah korban kekerasan seksual memilih bungkam.

Di Amerika Serikat, muncul gerakan #MeToo yang mendorong para korban pelecehan seksual untuk berani menceritakan pengalaman buruknya. Sekarang, kampanye ini menjadi salah satu gerakan besar di seluruh dunia. Kampanye yang menggunakan tanda pagar atau #MeToo dimulai oleh seorang aktivis sosial, Tarana Burke.

#MeToo. cbc.ca

#MeToo kian populer setelah aktris Alyssa Milano memberikan pengakuan yang menghebohkan publik. Alyssa Milano menggunakan tagar tersebut untuk mengungkapkan pelecehan seksual yang dilakukan produser film Harvey Weinstein pada Oktober 2017.

Sekarang tagar ini digunakan oleh masyarakat luas yang menceritakan pengalaman masing-masing. Kampanye #MeToo mendapatkan banyak dukungan termasuk dari para selebriti, diantaranya Gwyneth Paltrow, Jennifer Lawrence, Reese Witherspoon, Lady Gaga, Sarah Hyland, dan Ellen DeGeneres. Kampanye #MeToo memberi ruang bagi para korban pelecehan seksual yang sebelumnya takut menceritakan pengalaman mereka. Gerakan ini juga membantu para korban agar mereka tak merasa sendiri dan punya dukungan dari banyak orang.

Seperti dilansir Huffington Post, kampanye #MeToo mendorong para pemimpin terutama di Amerika Serikat, untuk membuat peraturan perlindungan bagi korban pelecehan seksual. “Semakin banyak orang yang menceritakan pengalaman mereka dengan #MeToo maka akan menghasilkan banyak perubahan," kata Ilse Knecht, Direktur Kebijakan dan Advokasi Joyful Heart Foundation.

Kendati banyak yang mendukung, ada pula yang antipati terhadap kampanye #MeToo. Salah satunya adalah aktris Prancis, Catherine Deneuve. Menurut dia, gerakan #MeToo terlalu berlebihan.

ASTARI PINASTHIKA SAROSA