Perjalanan Karier Claudia Sheinbaum: dari Aktivis, kini menjadi Presiden Meksiko

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Claudia Sheinbaum terpilih menjadi presiden perempuan pertama di Meksiko. Perjalanan Claudia menuju kursi orang nomor satu di Meksiko butuh proses panjang. Dan, dunia politik sudah akrab dengan dia sedari kecil.

Claudia diketahui baru berusia enam tahun ketika orang tuanya terlibat dalam aksi protes selama salah satu periode paling gelap dalam sejarah modern negara tersebut. Saat itu tahun 1968, Partai Revolusioner Institusional telah memerintah Meksiko dengan tangan besi selama beberapa dekade. Negara ini dilanda demonstrasi besar-besaran yang menuntut perubahan demokratis. Dalam sebuah insiden yang mengerikan, sebanyak 400 mahasiswa yang sedang melakukan demonstrasi dibunuh oleh tentara dan pasukan paramiliter.

Tragedi tersebut menggembleng Sheinbaum yang dibesarkan dalam sebuah keluarga yang sangat aktif dalam aktivisme.

Kini Sheinbau mengatakan bahwa dia berutang banyak pada ayahnya yang seorang insinyur kimia dan ibunya yang seorang ahli biologi seluler.

"Mereka memberikan semangat untuk politik, kecintaan terhadap alam dan minat yang mendalam pada ilmu pengetahuan," katanya dalam sebuah film biografi yang dirilis tahun lalu yang disutradarai oleh putranya.

"Saya tumbuh dengan dualitas tersebut - sebuah keyakinan bahwa politik dapat mengubah dunia bersama dengan pola pikir akademis dan ilmiah," ucap perempuan 61 tahun itu.

Melihat ke belakang, tampaknya wajar jika dia kemudian menjadi mahasiswa yang juga aktivis, ilmuwan iklim, dan politikus.

Nilai-nilai Sheinbaum selaras dengan kebijakan Lopez Obrador yang telah dia janjikan untuk dilanjutkan.

Dia ingin mengambil alih jubahnya sebagai pembela negara, memperkuat kontrol publik atas sumber daya alam, serta memperkuat program kesejahteraan dan proyek-proyek infrastruktur andalannya. Dalam sebuah perubahan kecil, ia menyerukan penekanan yang lebih besar pada penggunaan energi terbarukan.

Menjadi Aktivis

Anak kedua dari tiga bersaudara, Claudia Sheinbaum berasal dari keluarga Yahudi, termasuk orang tua ibunya yang bermigrasi ke Meksiko dari Bulgaria saat mereka melarikan diri dari agresi Nazi pada tahun 1930-an.

Tumbuh besar di Mexico City, dia belajar bermain gitar dan belajar balet. Hal itu yang digunakan para pengkritiknya untuk menggambarkan dirinya sebagai orang yang elitis dan tidak bersentuhan dengan masyarakat Meksiko pada umumnya.

Pada usia 15 tahun, dia menjadi sukarelawan untuk membantu kelompok ibu-ibu yang mencari anak-anak mereka yang hilang, sebuah penderitaan yang sudah berlangsung lama di negara yang memiliki sejarah kekerasan antar geng.

Kala itu, dia bertemu dengan aktivis hak asasi manusia terkemuka dan politisi sayap kiri Rosario Ibarra, yang kelak menjadi wanita pertama yang mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 1982. Sheinbaum kemudian mengatakan bahwa partai sayap kiri MORENA yang berkuasa telah mengambil alih perjuangan Ibarra.

Riwayat Pendidikan

Sheinbaum menjadi peserta aktif dalam gerakan mahasiswa selama tahun 1980-an, bergabung dengan protes menentang intervensi negara dalam kebijakan pendidikan.

Pada 1995, dia meraih gelar doktor di bidang teknik energi dari National Autonomous University of Mexico. Saat mempersiapkan tesis doktoralnya, dia menghabiskan waktu di Universitas California di Berkeley, Amerika Serikat, di mana dia mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya yang fasih.

Sheinbaum mengejar karier mengajar dan akademis di tahun-tahun berikutnya, termasuk bertugas di Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) PBB, yang kemudian berbagi Hadiah Nobel Perdamaian dengan mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Al Gore.

Karier Politik

Karier politik Shienbaum dimulai pada tahun 2000, ketika Wali Kota Mexico City Lopez Obrador yang baru saja terpilih, memilih dia untuk menjadi kepala lingkungan. Lopez baru saja bertemu dengannya, tetapi jelas bahwa dia menginginkan seorang ilmuwan dengan nilai-nilai progresif untuk membantu mengatasi polusi akut dan kemacetan transportasi di kota besar tersebut.

Dia meninggalkan Balai Kota untuk mengambil peran sebagai kepala juru bicara untuk kampanye pertama Lopez Obrador sebagai presiden pada 2006, yang kemudian kalah.

Pada tahun 2015, dia terpilih untuk memimpin wilayah terbesar di Mexico City, Tlalpan.

Dalam jabatan tersebut, dia menghadapi tuduhan manajemen yang buruk setelah gempa bumi tahun 2017 menyebabkan runtuhnya sebuah sekolah dasar, menewaskan 19 anak. Sekolah tersebut baru saja diperluas dengan lantai tambahan.

Namun, hal itu tidak menghentikan dia untuk meraih kemenangan bersejarah dalam pemilu sebagai wali kota perempuan pertama di ibu kota pada tahun 2018, di tahun yang sama ketika Lopez Obrador mencalonkan diri untuk ketiga kalinya sebagai presiden dengan kemenangan telak.

Selama masa jabatannya, dia mendapat pujian karena berhasil meningkatkan keamanan dengan tingkat pembunuhan di ibu kota yang turun 50 persen.

Namun, Claudia juga dikritik karena kecelakaan kereta bawah tanah pada 2021 yang menewaskan 26 orang, sebuah insiden yang kemudian disalahkan sebagian karena kurangnya inspeksi keselamatan dan penundaan pemeliharaan di bawah pengawasannya. Dia pun membantah bahwa pemeliharaan adalah penyebabnya.

Sebagai informasi, Claudia Sheinbaum memenangkan kursi orang nomor satu di Meksiko dengan suara 58,3 persen dan 60,7 persen berdasarkan hasil hitung cepat oleh Komisi Pemilihan Umum Meksiko pada awal Juni 2024. Ini adalah angka tertinggi dalam sejarah demokrasi Meksiko. 

Pilihan Editor: Sejajar dengan Michelle Obama, Potret Oprah Winfrey Diabadikan di Museum Bersejarah Amerika Serikat

IDA ROSDALINA | REUTERS

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."