Incar Beasiswa Luar Negeri, Simak Beda Surat Rekomendasi dan Motivation Letter

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Ecka Pramita

google-image
Ilustrasi beasiswa. Freepik

Ilustrasi beasiswa. Freepik

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta -  Kuliah dengan mendapat beasiswa luar negeri menjadi impian banyak pelajar Indonesia. Tapi, sebelum sampai di sana, banyak hal yang perlu dipersiapkan, salah satunya biaya. Bukan tidak mungkin jika Anda berangkat ke luar negeri dengan biaya sendiri atau melalui sponsor. Tapi, pilihan lainnya yang tidak boleh Anda lewatkan adalah beasiswa.

Selain sertifikat IELTS, dokumen yang cukup penting dalam pengajuan beasiswa adalah surat rekomendasi beasiswa dan motivation letter. Tahukah apa perbedaan keduanya?

Perbedaan Surat Rekomendasi dan Motivation Letter

Ada banyak cara mendapatkan beasiswa luar negeri. Meski begitu, persyaratan dan ketentuan yang mereka butuhkan tidak jauh berbeda, seperti dokumen surat rekomendasi beasiswa dan motivation letter. Surat rekomendasi beasiswa adalah surat yang dibuat oleh seseorang yang pernah bekerja atau membimbing Anda secara langsung, contohnya guru, dosen, atau atasan, yang dapat memberikan penilaian terhadap kinerja atau potensi Anda. Karena itu, umumnya surat rekomendasi berisi penjelasan tentang pengalaman dan keterampilan yang Anda miliki dari sudut pandang orang lain secara objektif.

Sementara, motivation letter adalah surat yang berisi penjelasan tentang motivasi dan kualifikasi Anda sehingga layak menerima beasiswa. Berbeda dengan surat rekomendasi, motivation letter dibuat oleh Anda sendiri sebagai pelamar beasiswa.

Nah, di bawah ini, kita tidak akan membahas tentang contoh surat rekomendasi beasiswa. Tetapi, kita fokus pada bagaimana cara menulis dan contoh motivation letter.

Tips Menulis Motivation Letter

Motivation letter menjadi surat permohonan beasiswa yang cukup penting. Meskipun tidak semua beasiswa membutuhkan surat ini, tetapi jika Anda memiliki kesempatan untuk menyertakannya pada saat pendaftaran, lakukanlah yang terbaik. Motivation letter yang Anda tulis untuk beasiswa sedikit berbeda dengan esai yang mungkin harus Anda sertakan saat melamar. 

Surat ini menunjukkan kualitas diri Anda agar pemberi beasiswa atau universitas yakin bahwa Anda adalah orang yang tepat untuk menerima beasiswa tersebut. Secara garis besar, motivation letter berisi dua hal umum, yaitu tentang alasan mengapa Anda adalah kandidat yang tepat untuk mendapatkan beasiswa, serta kontribusi apa yang akan Anda berikan dengan ilmu yang dimiliki. Dalam menulis motivation letter, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan agar surat tersebut mempunyai struktur yang jelas dan isi yang meyakinkan, di antaranya:

1. Mengikuti Pedoman Penulisan Lamaran

Meskipun terlihat sederhana, Anda perlu memeriksa kembali bagaimana pedoman penulisan lamaran beasiswa. Pastikan apa yang Anda tulis sudah mengikuti ketentuannya mulai dari format, panjang, dan isi atau konten. Jika lembaga pemberi beasiswa tidak memberikan panduan khusus, Anda bisa menuliskannya dengan format standar seperti panjang teks sekitar setengah hingga satu halaman dengan font Times New Roman atau Arial berukuran 12 poin.

2. Mengetahui Apa yang Ingin Anda Tulis

Sebelum menuliskan motivation letter, Anda perlu memahami bagaimana kerangka surat tersebut. Jangan sampai ada bagian yang terlewat.

Menceritakan alasan mendaftar beasiswa luar negeri.

Karena surat ini bertujuan untuk beasiswa, Anda perlu menyampaikan alasan mengapa memilih beasiswa tersebut dengan menjelaskan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang Anda miliki.

Jika sudah pernah bekerja, melakukan magang, atau mengikuti kegiatan sosial, Anda bisa menceritakan pengalaman-pengalaman tersebut untuk memperkuat alasan Anda mendaftar beasiswa. Dengan penyampaian dan alur yang baik, surat lamaran beasiswa Anda bisa meninggalkan kesan tersendiri bagi penilai.

Menjelaskan alasan mengapa memilih jurusan dan kampus tujuan.

Selain alasan memilih beasiswa, Anda juga perlu menuliskan alasan mengapa memilih jurusan dan kampus tertentu. Misalnya, Anda memiliki kemampuan public speaking yang baik, sehingga beasiswa ini ditujukan untuk memperdalam dan mengasah ilmu tersebut. Hal seperti inilah yang sebaiknya Anda tambahkan sebagai alasan memilih jurusan dan kampus tujuan.

Menyampaikan kontribusi untuk beasiswa.

Pada bagian ini, Anda bisa fokus pada misi, tujuan belajar, dan hal apa yang ingin Anda capai atau rencanakan melalui beasiswa ini. Contohnya, Anda bertujuan untuk mendapatkan beasiswa magister kesehatan dengan harapan bisa membangun klinik di daerah terpencil di Indonesia.

3. Fokus pada Kekuatan Anda

Saat menceritakan latar belakang pendidikan dan pengalaman Anda, tambahkan juga hal-hal yang menjad kekuatan Anda secara khusus. Fokuslah pada kekuatan pribadi, bukan pada tantangan atau keterbatasan. Dengan begitu, Anda akan dilihat sebagai seseorang yang mampu memahami nilai dalam diri sendiri dan bisa memanfaatkannya untuk rencana ke depan.

4. Menghubungkan Antara Jurusan yang Dinginkan dengan Beasiswa yang Dilamar

Motivation letter harus menghubungkan rencana masa depan Anda dengan beasiswa yang dilamar. Surat ini harus memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa Anda benar-benar tertarik untuk mempelajari bidang tertentu, dan pilihan Anda tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri tetapi juga bagi pemberi beasiswa dan orang lain. Hal ini bisa menguatkan alasan mengapa Anda pantas mendapatkan beasiswa tersebut.

5. Menulis dengan Kepribadian Anda Sendiri

Minat, gaya bahasa, dan perspektif setiap orang berbeda-beda. Jadi, tulislah motivation letter Anda dengan cara tersendiri yang mencerminkan bagaimana Anda akan berbicara kepada pemberi beasiswa jika mereka benar-benar ada di depan Anda. Tulis surat sealami mungkin dengan memberikan hal menarik tentang diri Anda yang bisa membuat surat tersebut menonjol dibandingkan yang lain.

Pilihan Editor: Cegah Penipuan Beasiswa dengan Mengetahui 6 Tanda Berikut Ini

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."