Ketombe dan 5 Penyebab Masalah Rambut yang Bikin Sakit Kepala

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Ecka Pramita

google-image
Ilustrasi rambut berketombe. Foto: Freepik.com

Ilustrasi rambut berketombe. Foto: Freepik.com

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Pernah merasakan sakit kepala yang dipicu oleh masalah rambut?  Rasa sakit di kulit kepala karena rambut mungkin terdengar aneh. Tapi itu dialami oleh banyak orang. Helai rambut memang tidak sakit, rasa sakit ini bisa muncul karena kondisi kulit kepala yang kaya akan pembuluh darah, ujung saraf, dan kelenjar minyak.

"Kami mengalami rasa sakit ketika otak menafsirkan sinyal yang dikeluarkan oleh saraf," kata Joshua Zeichner, direktur penelitian kosmetik dan klinis di bidang dermatologi di Rumah Sakit Mount Sinai, Amerika Serikat. "Ada berbagai alasan mengapa kulit kepala sakit, [seperti] masalah neurologis [atau] peradangan di kulit."

Zeichner membahas penyebab paling umum dari masalah rambut dan nyeri kulit kepala

1. Ketombe

Ketika serpihan ketombe sedang banyak, muncul nyeri kulit kepala. Ketombe adalah suatu kondisi yang ditandai dengan jamur yang lebih tinggi di kulit kepala. Pertumbuhan jamur berlebihan ini mendorong peradangan, yang ditunjukkan dengan kemerahan, bersisik, gatal dan, dalam kasus yang lebih parah, rasa sakit, kata Dr. Zeichner.

Gunakan sampo ketombe yang mengandung zinc parathion, yang membantu menurunkan kadar jamur di kulit kepala dan dapat membantu mengurangi peradangan, kata Dr. Zeichner.

2. Eksim

Tidak hanya di tangan atau leher, eksim juga dapat tumbuh di kulit kepala dan menimbulkan rasa sakit. "Eksim adalah suatu kondisi di mana penghalang kulit tidak berfungsi sebagaimana mestinya, menyebabkan retakan pada lapisan kulit luar," kata Dr. Zeichner. Hal ini menyebabkan hilangnya hidrasi dan masuknya peradangan, yang dapat menyebabkan gatal, ketidaknyamanan atau rasa saki.

3. Folikulitis

"Folikulitis adalah suatu kondisi di mana bakteri menyerang folikel rambut, menyebabkan jerawat nanah," kata Dr. Zeichner. Penyakit yang berhubungan dengan kulit ini juga dapat disebabkan oleh virus, jamur dan bahkan rambut yang tumbuh ke dalam yang teriritasi, menurut Mayo Clinic.

Dalam beberapa kasus, folikulitis bisa menjadi luas, menyebabkan peradangan dan gatal, terbakar, dan kulit yang sangat lembek, kata Dr. Zeichner.

4. Allodinia

Kulit kepala yang sakit mungkin disebabkan oleh allodynia, sejenis nyeri saraf yang membuat orang sangat sensitif terhadap sentuhan, menurut Klinik Cleveland.

Hal-hal yang tidak menyakitkan bagi sebagian besar orang — seperti menyisir rambut, mengikat kuncir kuda, atau keramas — bisa menjadi sangat tidak nyaman karena kondisi ini. 

Nyeri neuropatik pada kulit kepala ini seringkali merupakan efek samping dari kondisi kesehatan lain seperti diabetes, herpes zoster, fibromyalgia, dan sakit kepala migrain, menurut Klinik Cleveland.

5. Penumpukan minyak 

"Kita secara alami memiliki konsentrasi tinggi kelenjar minyak di kulit kepala, dan jika kita tidak mencuci rambut secara teratur, minyak itu bisa menumpuk," kata Dr. Zeichner.

Minyak berlebih ini tidak hanya akan membuat rambut lepek, tetapi juga dapat menyebabkan gatal. Ketika digaruk, muncul luka gores yang sakit.  

6. Ikat rambut kencang 

Rambut menimbulkan sakit juga bisa karena ikatan rambut terlalu kencang. "Menarik rambut ke belakang dengan kencang dapat memberi tekanan pada folikel rambut itu sendiri, yang menyebabkan peradangan," kata Dr. Zeichner.

Hal ini tidak hanya dapat menyebabkan rasa sakit, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan permanen pada folikel dan bentuk tertentu dari kerontokan rambut yang dikenal sebagai traksi alopecia, di mana orang biasanya mengalami penipisan di sepanjang garis rambut frontal. 

Pilihan Editor:  Pahami Gejala Stroke pada Perempuan, Sakit Kepala Hebat dan Nyeri Dada

LIVE STRONG | MILA NOVITA

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."