7 Fakta Menarik Sepatu Bata dan Pabrik di Purwakarta yang Tutup

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Rezki Alvionitasari

google-image
Pekerja membuat pola dalam pembuatan sepatu di pabrik Sepatu Bata, Purwakarta, Jawa Barat, 28 Mei 2015. Bata mampu memproduksi 25000 pasang sepatu dalam setiap harinya. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

Pekerja membuat pola dalam pembuatan sepatu di pabrik Sepatu Bata, Purwakarta, Jawa Barat, 28 Mei 2015. Bata mampu memproduksi 25000 pasang sepatu dalam setiap harinya. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Produsen alas kaki, PT Sepatu Bata Tbk. (BATA) resmi menutup pabrik mereka di Purwakarta. Keputusan penghentian aktivitas produksi diambil akibat perusahaan merugi imbas permintaan yang terus menurun.

Dilansir dari keterbukaan informasi yang disampaikan manajemen perusahaan kepada Bursa Efek Indonesia, perusahaan telah melakukan berbagai upaya selama empat tahun terakhir di tengah kerugian dan tantangan industri. Hantaman perekonomian akibat pandemi dan perubahan perilaku konsumen yang begitu cepat menjadi salah satu penyebabnya.

Akibatnya permintaan pelanggan terhadap jenis produk yang dibuat di pabrik terus menurun.“Dengan adanya keputusan ini, maka Perseroan tidak dapat melanjutkan produksi di pabrik Purwakarta,”tulis Director & Corporate Secretary Sepatu Bata, Hatta Tutuko, 2 Mei 2024.

Sepatu Bata memiliki eranya sendiri. Sepatu ini pernah menjadi salah satu merk sepatu populer di Indonesia. Berikut fakta menarik sepatu Bata dan pabriknya di Purwakarta yang ditutup.

1. Bukan Asli Indonesia

Merek sepatu Bata kerap kali dianggap sebagai perusahaan yang berasal dari Indonesia. Hal ini karena namanya disangkutpautkan dengan nama salah satu material konstruksi bangunan yang berwarna kemerahan, bata. Namun, ternyata, pernyataan tersebut keliru.

Bata pada awalnya bukan asli Indonesia. Perusahaan ini melakukan ekspansi di Eropa, Asia, Afrika, Amerika Latin, hingga Amerika Utara. Produk-produk Bata menyebar sampai ke 50 negara dengan produsen yang berpusat di 26 negara.

2. Pendiri Sepatu Bata

Berdasarkan laman resminya, pemilik sekaligus pendiri sepatu Bata adalah tiga orang bersaudara asal Zlin, Cekoslowakia yang bernama Tomas, Anna, dan Antonin Bata. Mereka adalah inovator awal yang pertama kali mendirikan Bata pada 21 September 1894.

Pengenalan mesin pembuat sepatu yang digerakkan oleh uap pada 1897, mengawali periode modernisasi sepatu dengan cepat. Hal ini memungkinkan perusahaan yang didirikan oleh tiga bersaudara itu menjadi salah satu produsen sepatu massal pertama di Eropa.

3. Sepatu Bata Masuk ke Indonesia

Kemunculan Bata di Indonesia dimulai pertama kali pada 1931. Pada awalnya, Bata melakukan kerja sama dengan perusahaan kolonial, Netherlandsch-Indisch sebagai importir sepatu yang beroperasi di Tanjung Priok.

4. Pabrik Pertama di Kalibata

Enam tahun kemudian, pemilik Bata, Tomas Bata, mendirikan pabrik pertama di Indonesia tepatnya di tengah perkebunan karet di area Kalibata, Jakarta Selatan. Pabrik Bata pertama itu pun beroperasi mulai 1940. Namun, kini pabrik tersebut sudah tidak ada.

5. Pembangunan Pabrik Terbesar di Purwakarta

Pada 1982, perusahaan mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia. Saat itulah Bata mulai mengembangkan bisnis hingga membuka cabang produksi di Purwakarta pada 1994.

Bata membangun pabrik terbesar di Purwakarta. Pembangunannya pun rampung di tahun yang sama.

Selama 30 tahun beroperasi, pabrik Bata di Purwakarta itu menjadi salah satu pemasok utama sepatu Bata di Indonesia. Bata memiliki spesialisasi produk sepatu injeksi untuk konsumsi dalam dan luar negeri.

6. Pabrik di Purwakarta telah Beroperasi 30 Tahun

Pabrik di Purwakarta yang berdiri sejak 1994 itu, hasil produksinya dijual ke sekitar 400 ritel toko di Indonesia.

Seiring perkembangannya, perusahaan ini produksi berbagai macam alas kaki termasuk sepatu kulit dan sandal kanvas built up, sepatu olahraga kasual, sandal cetakan injeksi, dan sandal

7. Bata Merambah Impor

Berbekal sejarah dalam bisnis sepatu tersebut, Bata menawarkan berbagai koleksi sepatu yang melayani semua tingkat kelompok pendapatan dan usia.

PT Sepatu Bata juga memegang lisensi untuk merek lainnya selain Bata, seperti North Star, Power, Bubblegummers, Marie-Claire, dan Weinbrenner. Pada 2004, Bata tercatat memperoleh izin impor dan distribusi umum. 

Di dunia, Bata mengoperasikan 27 fasilitas produksi di 20 negara dengan penjualan di 5.000 toko retail di lebih dari 90 negara. Namun di Indonesia, perusahaan mengalami kerugian. Pada 2021, perusahaan tersebut juga pernah mengumumkan penutupan 50 toko selama pandemi Covid-19.

Demikianlah fakta menarik dari sepatu Bata dan pabrik terbesarnya di Purwakarta yang tutup. Sahabat Cantika mungkin pernah memiliki sepatu Bata?

Pilihan Editor: Sejarah Pabrik Sepatu Bata di Purwakarta yang Tutup 2 Mei 2024

ANDIKA DWI | RADEN PUTRI | ILONA ESTHERINA| FRANCISCA CHRISTY ROSANA

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."