Kolaborasi Kunci Cegah Masalah Gizi Sedini Mungkin

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Mitra Tarigan

google-image
Ilustrasi dokter gizi. shutterstock.com

Ilustrasi dokter gizi. shutterstock.com

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB),  Ali Khomsan menilai kolaborasi menjadi kunci dalam mencegah masalah gizi sedini mungkin. "Pencegahan masalah gizi harus dilakukan sedini mungkin, salah satunya dengan adanya kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak baik pemerintah, masyarakat, akademisi dan swasta atau industri," ujar dia dalam rilis pers yang diterima, Senin 29 Januari 2024.

Dia menilai kolaborasi antar berbagai pihak dapat mempercepat pencapaian target penurunan stunting di Indonesia menjadi 14 persen pada tahun 2024. Ali mengatakan gizi menjadi salah satu komponen penting bagi tumbuh kembang anak, terutama pada masa 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).

Di Indonesia, kata dia, permasalahan gizi yang terjadi disebabkan karena tidak seimbangnya asupan energi dan zat gizi lainnya. "Masalah gizi di antaranya kurus (gizi kurang), gemuk (gizi lebih), dan stunting (gizi kurang kronis)," kata dia.

Nestle Indonesia menggelar diskusi multisektoral bertajuk Implementasi Model Pentahelix dalam Upaya Penurunan Angka Stunting, yang bertujuan membahas mengenai pentingnya memenuhi gizi seimbang, upaya pencegahan stunting, sekaligus program “100 Hari Pendampingan Gizi”.

Program tersebut merupakan hasil kolaborasi multisektor di sepuluh fokus area di 12 provinsi prioritas penurunan stunting pemerintah Indonesia.

Direktur Corporate Affairs PT Nestle Indonesia Sufintri Rahayu menyampaikan bahwa pihaknya memiliki ambisi untuk membantu 50 juta anak menjalani hidup yang lebih sehat pada 2030.

Sejak tahun lalu, kata dia, PT Nestle Indonesia bermitra dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) meluncurkan Gerakan Keluarga Indonesia Bebas Stunting (KIBAS STUNTING). "Kami percaya akan pentingnya kolaborasi multi-sektor dalam mencegah dan menanggulangi stunting, dimulai dari pihak pemerintah, akademisi, industri, masyarakat, dan media. Setiap sektor memiliki keahlian masing-masing, dan bersama-sama kita dapat bergerak lebih cepat," ucap dia.

Tahun ini, salah satu bentuk komitmen PT Nestle Indonesia untuk mendukung terwujudnya keluarga bebas stunting diwujudkan melalui program “100 Hari Pendampingan Gizi”, yang memberikan pendampingan gizi kepada anak usia 12 hingga 60 bulan melalui makanan tambahan sumber protein dan zat gizi mikro lainnya guna meningkatkan kualitas asupan gizi.

Selain itu, masyarakat termasuk di dalamnya orang tua dan kader setempat akan mendapatkan edukasi mengenai gizi, tumbuh kembang, pola asuh, dan pola hidup bersih.

"Salah satu program kolaborasi multisektor Nestlé Indonesia '100 Hari Pendampingan Gizi' merupakan bentuk konsistensi kami untuk menunjukkan dukungan melalui kegiatan pendampingan gizi serta monitor dan evaluasi yang akan dilakukan setiap bulan hingga akhir pelaksanaan program," kata Corporate Nutritionist PT Nestle Indonesia Eka Herdiana.

Ketua Bidang Penguatan Ketahanan Keluarga TP PKK Pusat Ai Dariah mengatakan program “100 Hari Pendampingan Gizi” yang diimplementasikan melalui Rumah Pangan untuk mendukung KIBAS STUNTING merupakan bentuk dukungan terhadap agenda pemerintah dalam percepatan penurunan stunting di Indonesia.

"Kami berharap kolaborasi bersama PT Nestle Indonesia ini dapat berkesinambungan dan secara konsisten mendukung anak Indonesia menjadi lebih sehat, dan program ini nantinya dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan stunting yang dapat dimulai dari adanya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh, serta pola hidup yang bersih," kata dia.

Pilihan Editor: Ketahui Hidden Hunger, Penyebab, dan Asupan Gizi yang Bisa Mencegahnya

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."