Bisakah Memperbaiki Relasi saat Pasangan Selingkuh? Pahami Penyebabnya Lebih Dulu

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Ecka Pramita

google-image
Ilustrasi selingkuh. Shutterstock

Ilustrasi selingkuh. Shutterstock

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Terdapat faktor risiko penyebab perselingkuhan yang umumnya bukanlah faktor tunggal, baik faktor risiko individu maupun kontekstual. Hal itu dikatakan oleh Psikilog, Ayoe Sutomo yang menyarankan agar memahami penyebab seseorang selingkuh, sebab jika tidak ditangani sampai ke akar ibarat membersihkan luka tetapi di permukaan saja. 

Merujuk laman Instagram @ayoesutomo yang juga psikolog Tiga Generasi ini terdapat beberapa faktor risiko penyebab perselingkuhan, antara lain: 

1. Karakter kepribadian dan attachment tertentu 

Dalam salah satu riset, individu dengan pola kelekatan insecure avoidant diketahui memiliki kecenderungan untuk berselingkuh karena alasan kemandirian, terbiasa untuk melakukan apa-apa sendiri dan tidak terbiasa memiliki relasi yang intens dengan orang lain. Sementara individu dengan pola kelekatan insecure anxious diketahui memiliki kecenderungan berselingkuh karena alasan kebutuhan untuk dekat secara emosi dan self esteem

"Namun demikian, hal tersebut bukanlah satu-satunya penyebab. Terdapat beragam faktor risiko lain terkait kepribadian," tulis Ayoe. 

2. Rendahnya kepuasan terhadap relasi dan relasi seksual

Dua individu dalam relasi belum tentu memiliki kebutuhan yang sama terkait dengan pemenuhn kebutuhan seksual. Oleh karenanya penting untuk saling mengkomunikasikan kebutuhan dengan pasangan agar mendapat kecocokan dalam aktivita seksual. Selain itu, rendahnya kepuasan terhadap relasi secara umum juga menjadi salah satu faktor risiko perselingkuhan. 

3. Tingkat komitmen yang rendah terhadap relasi 

Individu dengan tingkat komitmen rendah memiliki kecenderungan untuk berpikir jangkapanjang saat mengambil keputusan untuk terlibat dalam relasi intim di luar relasinya dengan pasangan. Sebaliknya, individu dengan komitmen jangka panjang yang tinggi cenderung berpikir risiko jangka panjang terlibat perselingkuhan terhadap relasi, pasangan, dan dirinya. 

"Individu dengan tingkat komitmen yang tinggi juga cenderung mempertimbangkan kesejahteraan psikologis pasangan dan berpikir bagaimana hal itu dapat melukai pasangan," kata Ayoe. 

4. Perilaku permisif terhadap seks dan ketidaksetiaan 

Perilaku permisif terhadap seks cenderung membuat individu lebih mudah terlibat dalam aktivitas seksual tanda kedekatan secara emosi, komitmen, dan tanpa cinta. 

5. Norma sosial yang permisif terhadap perselingkuhan 

Lingkungan yang memberikan kewajaran dan penerimaan atas kondisi meningkatkan risiko terjadi perselingkuhan. Oleh karena itu, bijaksana dan saling menjaga dalam lingkungan yang dekat dengan kita dan pasangan juga menjadi bagian penting mencegah risiko ketidaksetiaan. 

"Lebih mendalam penyebab seseorang berselingkuh menjadi penting dalam upaya memperbaiki relasi pasca perselingkuhan. Karena beda penyebab, tentu berbeda penanganan dan upaya perbaikan yang dilakukan," pungkas Ayoe. 

Pilihan Editor: Ciri-ciri Suami Selingkuh lewat Ponsel yang Perlu Diwaspadai

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."