Karyawan Gen Z Dinilai Kurang Motivasi dan Mudah Tersinggung, Kata Survei

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Generasi Z. Foto: Freepik.com/pch.vector

Generasi Z. Foto: Freepik.com/pch.vector

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Gaya bekerja Gen Z (generasi kelahiran rentang 1996 hingga 2010) menjadi topik perbincangan yang menarik di kalangan profesional. Sebuah survei memaparkan bahwa manajer dan pemimpin perusahaan kerap menemukan tantangan saat bekerja dengan Gen Z, di antaranya menuntut hak dan kurangnya motivasi. Untuk lebih lengkapnya, berikut plus minus karyawan Gen Z yang dihimpun dari sejumlah survei dikutip dari Times of India, 24 Oktober 2023.

Kurang Motivasi

Menurut survei ResumeBuilder, sebanyak 74 persen manajer dan pemimpin perusahaan menganggap bekerja dengan Gen Z adalah tantangan. Menuntut hak, kurang motivasi, kurangnya usaha, dan masalah produktivitas menjadi masalah yang berkaitan dengan karyawan Gen Z. Hal ini menimbulkan perhatian dan tanda tanya bagaimana etis kerja anak generasi sekarang.

Berjuang dengan Kesehatan Mental

Menurut survei McKinsey & Company, Gen Z kerap deklarasikan diri sebagai generasi tertinggi yang mengalami masalah dan berjuang dengan kesehatan mental.

Secara mengejutkan, 55 persen dari usia 18 hingga 24 tahun menyatakan telah didiagnosis dan mendapat terapi untuk kesehatan mental mereka. Informasi ini merupakan tantangan Gen Z dalam berkarier di dunia kerja.

Keterampilan Teknologi dan Perilaku Kerja

ResumeBuilder juga menyatakan bahwa 49 persen pemimpin perusahaan kesulitan bekerja sama dengan Gen Z sepanjang waktu. Alasan utamanya meliputi kurang terampilnya dalam teknologi, usaha, dan motivasi.

Tambahannya, 65 persen responden menyatakan bahwa mereka lebih sering memecat karyawan Gen Z daripada generasi lain di minggu pertama bekerja. Alasan pemecatan ini karena karyawan Gen Z sangat mudah tersinggung.

Pola Produktif Unik Gen Z

Gaya bekerja Gen Z memiliki pola yang berbeda dari generasi sebelumnya. Menurut survei Adobe, tidak seperti generasi lain, waktu produktif Gen Z dilaporkan berada dalam rentang waktu pukul enam sore hingga tiga pagi.

Sebagian besar karyawan Gen Z dan Milenial (generasi kelahiran 1981 hingga 1995) juga senang mengganti pekerjaan setiap tahun untuk perubahan dan kondisi kerja yang lebih baik.

Keseimbangan Hidup jadi Pertimbangan Gen Z Menerima Pekerjaan

Survei Deloitte mengungkap 37 persen Gen Z telah menolak banyak tawaran kerja karena bertentangan dengan etis pribadi. Sebanyak 49 persen Gen Z dan 69 persen Milenial menganggap keseimbangan hidup menjadi faktor utama ketika memilih pekerjaan dengan alasan menghindari stres dan cemas.

Banyak Gen Z mengatakan terganggu dengan masalah pembayaran dan pembayaran, sehingga memiliki ekspektasi gaji yang tinggi. Jika perusahaan itu tidak menyanggupi, menurut mereka lebih baik mencari pekerjaan baru.

Kesimpulannya, apakah Gen Z adalah pekerja yang menantang merupakan pertanyaan yang kompleks dan memiliki banyak sudut pandang mengenai jawabannya. Memang terdapat keluhan seperti kurangnya motivasi, usaha, dan sebagainya, tetapi penting juga untuk diingat bahwa Gen Z menghadapi tantangan yang unik dan berbeda dari generasi sebelumnya, salah satunya kesehatan mental. Karyawan Gen Z juga memiliki pola kerja yang berbeda dan kesadaran mereka mengenai kehidupan yang seimbang juga perlu diperhatikan.

Pilihan Editor: Sering Dihakimi, Gen Z Ternyata Memiliki Potensi Bisa Membuat Hidup Lebih Seimbang

ANNISA YASMIN | TIMES OF INDIA

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."