Mengalami Sindrom Bridezilla? Atasi Kecemasan Jelang Pernikahan dengan Cara Ini

Sindrom bridezilla adalah istilah yang biasa digunakan untuk menyebut pelampiasan rasa stres dan kecemasan yang dialami calon mempelai wanita. (PexelsTrung Nguyen)

cinta

Mengalami Sindrom Bridezilla? Atasi Kecemasan Jelang Pernikahan dengan Cara Ini

Senin, 29 Maret 2021 21:34 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Kinanti Munggareni

CANTIKA.COM, Jakarta - Dikutip dari Psychology Today, kata "bridezilla" pertama kali digunakan pada pertengahan 1990-an untuk merujuk pada calon pengantin yang berubah menjadi "monster" saat merencanakan pernikahan. Belakangan kata ini kemudian bergeser menjadi sindrom bridezilla.

Istilah bridezilla bisa dilihat sebagai ambiguitas antara citra feminin yang diharapkan pada calon mempelai wanita dan tekanan yang dirasakan mereka dalam perencanaan pernikahan. Para pengantin yang dianggap memiliki sindrom bridezilla saat merencanakan pernikahan biasanya membuat ulah ketika tidak mendapatkan yang diinginkan.

"Cita-cita feminitas yang dibungkus dalam peran pengantin tradisional -kepolosan, ketundukan, manis- tidak terlalu cocok dengan tuntutan menjadi perencana pernikahan yang efektif," tulis Dr. Juliana Breines dalam artikelnya di Psychology Today.

Sulit untuk menghindari sindrom bridezilla. Bukan hanya karena perencanaan pernikahan menuntut atau memunculkan kualitas seperti itu, tetapi pernikahan memang bisa sangat menegangkan.

Pernikahan adalah situasi emosional dan menimbulkan tingkat stres yang tinggi bagi hampir semua orang. Dari tekanan sosial hingga drama keluarga (belum lagi pembicaraan tentang uang), mudah membuat kita merasa kewalahan. Meskipun demikian, dengan beberapa perencanaan lanjutan dan bantuan dari para profesional, ada cara untuk membuat hari pernikahan Anda sedikit lebih mudah diatur.

Baca juga: Sederet Pemeriksaan Kesehatan untuk Calon Pengantin

Cara terbaik untuk menangani aspek mental yang mencoba pada hari pernikahan Anda adalah mengambil langkah-langkah terukur untuk mempersiapkan diri dan mengatasi masalah apa pun sebelumnya.

Dikutip dari Brides, psikolog klinis Dr. Ben Michaelis menyebut bahwa merencanakan pernikahan bisa menjadi pertarungan untuk dominasi antara dua pihak.

“Saat Anda menggabungkan gagasan dongeng dengan tekanan keuangan dan keluarga yang sangat nyata — dan kemudian menempatkan orang-orang dari berbagai aspek kehidupan Anda dalam satu ruangan — itu adalah resep untuk kecemasan. Penting untuk diingat bahwa yang paling penting adalah pernikahannya. Saya pernah melihat pasien yang mengalami bencana pernikahan, tetapi memiliki pernikahan yang luar biasa — dan sebaliknya. ” kata Dr. Michaelis.

Untuk itu ia menyarankan pada calon pengantin, alih-alih berfokus pada detail yang dibutuhkan untuk hari pernikahan yang sempurna, curahkan energi itu untuk mempersiapkan diri Anda untuk pernikahan yang fantastis.

“Dan ketahuilah bahwa Anda bukanlah satu-satunya yang mengalami hal ini,” katanya. “Setiap pasangan akan menghadapi kecemasan dalam merencanakan pernikahan dengan satu atau lain cara, jadi ingatlah bahwa Anda tidak sendirian.”

Untuk meringankan tekanan dan cek-cok saat pengambilan keputusan, ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan. Doktor Susan Heitler, seorang psikolog serta konselor pernikahan dan keluarga, mengatakan kepada WebMD, mempelajari keterampilan kolaboratif bisa jadi efektif.

Berikut beberapa cara tersebut.

1. Fokus pada apa yang Anda suka daripada apa yang tidak Anda sukai adalah salah satu cara. Kata "tidak suka" mengundang sikap defensif, sedangkan kata "ingin" mengundang kerja sama. Misalnya, daripada mengatakan "Saya tidak ingin keluarga Anda menginap di rumah kita selama akhir pekan pernikahan", Anda dapat mengatakan "Saya ingin semua teman luar kota, termasuk keluarga Anda, menginap di hotel untuk akhir pekan pernikahan. "

2. Gunakan aku, bukan kamu. Ini mengundang respons yang tidak terlalu defensif dari pasangan Anda. Misalnya, alih-alih mengatakan "Kamu meninggalkan kekacauan di dapur," katakan "Aku putus asa ketika aku pulang dan melihat kekacauan di dapur."

3. Ubah penggunaan kata "harus" menjadi "dapat". Kata "harus" cenderung memberi tekanan pada kedua belah pihak, sedangkan kata "bisa" atau "dapat" mendorong dialog yang lebih konstruktif. Dalam contoh, "Kita harus mengundang semua teman kita," dan "Kita bisa mengundang semua teman kita," kalimat terakhir mendorong lebih banyak diskusi dua arah.

4. Dengarkan untuk belajar daripada mendengarkan tapi meremehkan. Apapun yang dikatakan pasangan Anda, perhatikan hal yang masuk akal dalam perkataannya. Jika Anda mengatakan "Ya, tapi ..." Anda mendengarkan apa yang salah dalam apa yang mereka katakan. Jika apa yang mereka katakan tidak masuk akal, mintalah lebih banyak informasi sampai apa yang mereka katakan masuk akal bagi Anda.

Keterampilan komunikasi ini dapat mendorong arus informasi yang baik, yang merupakan inti dari pernikahan yang baik, kata Heitler.

"Jika Anda ingin menjadi sebuah tim, Anda perlu memahami kekhawatiran satu sama lain dengan cara yang saling menghormati dan belajar membuat keputusan bersama," katanya. "Jika tidak, yang satu menarik ke kiri, yang satu menarik ke kanan, atau kalian akan menabrak satu sama lain."

Dengan belajar untuk berkomunikasi dengan baik, maka tak ada lagi kekhawatiran untuk berubah menjadi bridezilla saat akan merancang pernikahan.

Baca juga: 7 Cara Membangun Ikatan Batin dengan Pasangan dalam Pernikahan

PSYCHOLOGY TODAY | BRIDES