Sejarah Panjang Hari Perempuan Internasional 8 Maret

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Kinanti Munggareni

google-image
Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret berawal dari gerakan 15.000 perempuan New York City. (Canva)

Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret berawal dari gerakan 15.000 perempuan New York City. (Canva)

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Hari Perempuan Internasional diperingati setiap tanggal 8 Maret setiap tahun oleh berbagai negara di seluruh dunia. Secara resmi perayaan ini diakui oleh PBB sejak tahun 1977. Namun jika kita menelusuri sejarah, perayaan ini bermula pada tahun 1900-an.

Ide Gerakan Perempuan Bersama di 1900-an

Tahun 1900-an mengantarkan manusia ke era baru. Ini adalah momen ketika cara pandang dan penggambaran realitas menempuh cara yang baru. Di era modern ini segala ekspansi dan pergolakan besar di dunia industri telah menjadi kebangkitan segala ideologi radikal

Keresahan besar dan perdebatan kritis terjadi di antara perempuan. Penindasan dan ketimpangan yang ada telah memacu perempuan untuk lebih vokal dan aktif untuk mengkampanyekan perubahan. Salah satunya terjadi pada tahun 1908.

Kala itu, 15.000 perempuan berbaris melalui New York City menuntut jam kerja yang lebih pendek, gaji yang lebih baik dan hak suara. Gerakan ini pun berlanjut. Melalui deklarasi Partai Sosialis Amerika, National Woman's Day atau Hari Perempuan Nasional pertama diperingati di seluruh Amerika Serikat pada 28 Februari tahun 1909.

Pada tahun 1910, Konferensi Wanita Buruh Internasional kedua diadakan di Kopenhagen. Dalam pertemuan ini, Clara Zetkin, yang merupakan pemimpin 'Kantor Wanita' untuk Partai Sosial Demokrat di Jerman, mengajukan gagasan tentang Hari Perempuan Internasional.

Zetkin mengusulkan bahwa setiap tahun di setiap negara harus ada perayaan pada hari yang sama - Hari Perempuan - untuk mendesak tuntutan mereka. Konferensi yang terdiri dari lebih 100 perempuan dari 17 negara ini menyambut saran Zetkin dan menyetujuinya dengan suara bulat. 

Menyusul keputusan ini, pada tahun 1911, Hari Perempuan Internasional dirayakan untuk pertama kalinya di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss pada 19 Maret. Lebih dari satu juta perempuan dan laki-laki menghadiri demonstrasi IWD yang mengkampanyekan hak perempuan untuk bekerja, memilih, dilatih, untuk memegang jabatan publik dan mengakhiri diskriminasi.

Namun naas, pada tanggal 25 Maret, 'Kebakaran Segitiga' yang tragis di New York City merenggut nyawa lebih dari 140 wanita pekerja, kebanyakan dari mereka adalah imigran Italia dan Yahudi. Bencana ini menarik perhatian yang signifikan terhadap kondisi kerja dan undang-undang ketenagakerjaan di Amerika Serikat yang menjadi fokus acara Hari Perempuan Internasional berikutnya. 

Baru pada tahun 1917, Hari Perempuan Internasional disepakati dirayakan setiap tanggal 8 Maret. Enam dekade kemudian untuk pertama kalinya Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB merayakan International Women's Day. 

PBB resmikan Hari Perempuan Internasional

Dua tahun kemudian pada December 1977, Majelis Umum mengadopsi resolusi yang memproklamasikan Hari Persatuan Bangsa-Bangsa untuk Hak-Hak Perempuan dan Perdamaian Internasional yang akan dirayakan setiap hari dalam setahun oleh Negara-negara Anggota, sesuai dengan tradisi sejarah dan nasional mereka.

Pada tahun 1996, PBB mengumumkan tema tahunan pertama mereka, yakni "Merayakan masa lalu, Merencanakan Masa Depan". Setelah itu setiap tahun, PBB memberikan tema tahunan untuk perayaan ini. Termasuk, "Wanita di Meja Perdamaian" (1997), "Wanita dan Hak Asasi Manusia" (1998), dan "Dunia Bebas dari Kekerasan Terhadap Kekerasan Wanita" (1999).

Milenium baru, tantangan baru

Di milenium baru, pada tahun 2000, Hari Perempuan Internasional tak lagi semarak. Kala itu, feminisme bukanlah topik yang populer. Akhirnya pada tahun 2001, setelah situs resmi internationawomensday (IWD) diresmikan, Hari Perempuan Internasional kembali terdengar gaungnya hingga sekarang. 

Tahun 2011 lalu diperingati sebagai 100 tahun Hari Perempuan Internasional. Perayaan peringatan ini digelar di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss. Sementara di Amerika Serikat, Presiden Barack Obama memproklamasikan Maret 2011 sebagai "Bulan Sejarah Wanita". Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri Hillary Clinton meluncurkan "Inisiatif 100 Wanita: Memberdayakan Wanita dan Anak Perempuan melalui Pertukaran Internasional".

Di Inggris Raya, aktivis selebriti Annie Lennox memimpin pawai melintasi salah satu jembatan ikonik London untuk meningkatkan kesadaran dalam mendukung badan amal global Women for Women International. Badan amal lainnya seperti Oxfam telah menjalankan aktivitas IWD yang ekstensif. Banyak selebritas dan pemimpin bisnis secara aktif mendukung hari itu.

Kini di tahun 2021 International Women's Day diperingati dengan tema #ChooseToChallenge. Kampanye ini mengajak sejumlah perempuan dunia untuk sama-sama membangun kesetaraan gender dengan meningkatkan kesadaran melawan bias dan merayakan prestasi para perempuan. 

Baca juga: Google Doodle Rayakan International Women's Day 2021

INTERNATIONAL WOMEN'S DAY

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."