Hari Batik Nasional, Mari Mengenal Kain Tradisional Papua Bernama Terfo

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Rini Kustiani

google-image
Kain tenun terfo. Dok. Hari Suroto

Kain tenun terfo. Dok. Hari Suroto

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menjadi momentum untuk mengingat dan menghargai kekayaan wastra Nusantara. Selain kain batik, Indonesia juga memiliki jenis kain tradisional lain yang menjadi ciri khas suatu daerah.

Di Papua misalkan, masyarakat di sana memiliki kain tradisional bernama tenun terfo. Uniknya, jika kain batik dibuat dengan benang kapas, tenun terfo terbuat dari serat alam hasil pintalan daun pohon nibun. Pohon nibun merupakan sejenis palem yang banyak tumbuh alami di hutan Sarmi.

Seorang perajin kain terfo, Since Yaas mengatakan tenun terfo ini merupakan budaya Suku Sobey yang tinggal di Kampung Sawar, Distrik Sarmi, Kabupaten Sarmi, Papua. Pada masa lalu, kain terfo berfungsi sebagai pakaian dan untuk keperluan adat. Kain tenun terfo memiliki motif persilangan garis yang menarik.

Perajin kain terfo, Since Yaas. Dok. Hari Suroto

"Tenun terfo ini warisan dari nenek moyang kami" kata Since Yaas dalam keterangan tertulis yang diterima Cantika dari Balai Arkeologi Papua pada Jumat, 2 Oktober 2020. Since Yaas belajar menenun terfo dari ibunya. Dia juga menyimpan kain terfo yang pernah dibuat oleh ibunya sebagai kenang-kenangan. "Walau kondisinya sudah tua, tapi tetap saya simpan."

Proses pembuatan selembar kain tenun terfo membutuhkan waktu satu bulan. Mulai dari pengambilan bahan dari hutan, perebusan daun nibun, pewarnaan, pemintalan menjadi benang, hingga proses menenun. Kain tenun Terfo terbuat dari anyaman daun nibun. Hanya bagian daun pucuk muda pohon nibun yang bisa digunakan.

Pewarnaan setiap helai benang pada kain terfo juga menggunakan warna alam. Dalam proses pewarnaan, daun palem dikeringkan selama tiga hari, kemudian direbus selama 1 jam, hingga serat-seratnya terlepas. Serat-serat itu disimpan dalam sebuah wadah. Setelah dingin dan kering, serat dipisah-pisah dan dibersihkan.

Alat tenun terfo koleksi Museum Negeri Provinsi Papua. Dok. Hari Suroto

Pertama dibersihkan dalam air laut kemudian dibilas dengan air bersih. Akhirnya serat-serat dikeringkan di bawah matahari selama beberapa jam dan dipilin menjadi benang. Benang selanjutnya dicelup ke dalam bahan pewarna merah, hitam, kuning, atau biru. Kemudian masuk proses penenunan menggunakan alat tenun gedogan yang sederhana.

Ragam hias yang ditenun pada kain itu terdiri dari garis-garis arah lungsi atau persilangan garis lungsi dengan garis pakan. Proses yang alami dan memakan waktu lama ini menentukan nilai kain tenun terfo. Satu lembar tenun terfo seharga Rp 1 juta. "Saya sangat sedih ketika ada yang menawar dengan harga rendah, sebab kami membuatnya dalam waktu lama dan prosesnya panjang," katanya.

Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto mengatakan kain tenun terfo harus dilestarikan. Salah satu caranya dengan mengusulkan tenun terfo masuk daftar perlindungan mendesak UNESCO. "Tenun terfo dapat dikategorikan sebagai warisan budaya tak benda," katanya. "Para perajin tenun terfo ini adalah maestro seni. Mereka perluruang untuk mewariskan ilmunya, misalkan dengan memasukkan mata pelajaran menenun ke sekolah atau kampus."

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."