Riset Menunjukkan Kopi Menekan Risiko Kematian Dini Asalkan Tepat Takaran

Ilustrasi kopi. Unsplash.com/Kira Auf Der Heide

kesehatan

Riset Menunjukkan Kopi Menekan Risiko Kematian Dini Asalkan Tepat Takaran

Senin, 14 September 2020 11:42 WIB
Reporter : TB. Firman D. Atmakusuma Editor : Rini Kustiani

CANTIKA.COM, Jakarta - Banyak alasan orang meminum kopi, dari sebagai teman sarapan pagi sampai untuk meningkatkan semangat. Tak sedikit yang percaya kopi bisa menambah stamina. Semua alasan itu benar, asalkan orang meminumnya dengan takaran yang pas.

Menurut studi oleh European Society of Cardiology baru-baru ini, kopi diyakini bisa menurunkan risiko kematian dini. Studi observasi terhadap 20 ribu responden itu menunjukkan kopi bisa menjadi alternatif minuman sehat. Adela Navarro, ahli jantung dari Hospital de Navarra di Pamplona, Spanyol, dan timnya memulai penelitian dari fakta bahwa kopi merupakan minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia.

Mereka pun mencoba menguji hubungan antara minum kopi dan risiko mortalitas pada kelompok setengah baya (rata-rata di atas 37 tahun) di kawasan Mediterania daerah Eropa Selatan, Portugal, dan Spanyol; serta di Afrika Utara. Studi inilah yang pertama mengungkap kaitan kopi dan mortalitas di daerah tersebut.

Para peserta diminta mengisi kuesioner seputar konsumsi kopi, gaya hidup, dan karakteristik sosiodemografi, serta menjalani pengukuran antropometrik (fisik) dan kondisi kesehatan sebelumnya. Perkembangan para peserta riset diamati selama 10 tahun.

Metode statistik yang digunakan adalah model regresi Cox, biasa digunakan untuk menghitung estimasi ketahanan hidup suatu kelompok. Selama penelitian, ada 337 peserta yang meninggal. "Kalau ada yang meninggal, keluarga diminta memberitahukan detail kematian kepada kami serta catatan kesehatannya," ujar Navarro, seperti dikutip dari laman European Society of Cardiology.

ilustrasi perempuan dan temannya mengobrol sembari minum kopi. (Purewow/Twenty20)

Setelah dianalisis, partisipan yang meminum kopi empat cangkir per hari memiliki risiko kematian 64 persen lebih rendah ketimbang yang tak pernah minum kopi. Adapun yang meminum dua cangkir sehari memiliki risiko kematian 22 persen lebih rendah.

Navarro juga memeriksa faktor jenis kelamin, usia, dan pola makan. Hasilnya, responden berumur 45 tahun dan mengkonsumsi dua cangkir kopi sehari memiliki risiko kematian 30 persen lebih rendah ketimbang mereka yang tak minum kopi.

Studi ini mengkonfirmasi temuan sebelumnya di jurnal Nature Medicine. Riset itu dilakukan ilmuwan dari Stanford University. Penelitian ini menganalisis data sampel darah dan sejarah medis lebih dari 100 partisipan untuk melihat proses penuaan.

Peserta di atas 45 tahun memiliki kadar protein peradangan, yang disebut IL-1-beta, lebih tinggi ketimbang orang muda. Dalam kelompok orang tua pun banyak yang memiliki kadar IL-1-beta sangat tinggi. "Mereka punya risiko tinggi terkena hipertensi dan penyumbatan arteri lebih cepat karena peradangan," ujar Mark Davis, anggota studi yang juga pakar mikrobiologi dan imunologi di Stanford, seperti dikutip Live Science.

Davis dan timnya kemudian menyelidiki kelompok orang tua dengan jumlah IL-1-beta rendah. Mereka lantas menemukan hubungan yang menarik, yakni kelompok tersebut menyatakan mengkonsumsi kopi secara rutin. Hal itu dibuktikan saat tim menganalisis sampel darah mereka dan melihat kandungan kafein di dalam darah partisipan. Setelah diuji di laboratorium, kafein ternyata mencegah IL-1-beta menyebabkan inflamasi pada sel tubuh.

Tentunya ini menjadi kabar gembira bagi penikmat kopi. "Untuk saat ini, minum kopi dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi risiko kematian dini, selain pola hidup sehat," kata Navarro.

EUROPEAN SOCIETY OF CARDIOLOGY | LIVE SCIENCE