Ciri-ciri Awal Corona dan Bagaimana Penanganannya

Anggota Paspampres memeriksa suhu tubuh seorang tamu di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa 3 Maret 2020. Pemeriksaan kondisi suhu tubuh bagi tamu maupun pejabat tersebut untuk mengantisipasi penyebaran virus corona atau Covid-19 di lingkungan Istana Kepresidenan. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

kesehatan

Ciri-ciri Awal Corona dan Bagaimana Penanganannya

Kamis, 5 Maret 2020 09:00 WIB
Reporter : Antara Editor : Rini Kustiani

CANTIKA.COM, Jakarta - Presiden Joko Widodo mengumumkan dua warga Indonesia yang positif terinfeksi virus corona baru atau COVID-19 pada Senin, 2 Maret 2020. Masyarakat perlu mengetahui apa ciri-ciri awal corona mulai masuk ke tubuh.

Mengutip informasi dari Kementerian Kesehatan, berikut ciri-ciri awal corona diduga menginfeksi seseorang:

  1. DemamWaspada terhadap demam dengan suhu tubuh mencapai 38 derajat Celcius atau lebih. Kondisi ini bisa mengindikasikan seseorang terkena COVID-19.

  2. Batuk PilekPenderita merasa demam diikuti batuk pilek.

  3. Sakit TenggorokanSejumlah penderita juga mengalami batuk kering

  4. Gangguan PernapasanSetelah satu minggu, napas pasien akan tersengal-sengal atau sesak napas.

  5. Lelah LesuVirus corona yang bermula dari Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, ini mengakibatkan penderita sering merasa letih.

  6. Riwayat pasienPasien punya riwayat kontak dengan pasien COVID-19 atau bepergian ke daerah terjangkit.

Ilustrasi demam. shutterstock.com

Jika mengalami gejala tersebut, Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Diah Handayani mengimbau segera memeriksakan diri ke dokter. "Jangan meludah dan membuang dahak sembarangan, serta hindari kerumunan," kata dia.

Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Pondok Indah - Puri Indah, Ikhsan Mokoagow mengatakan positif atau negatifnya seseorang dari infeksi virus corona baru ini hanya bisa dideteksi dengan uji laboratorium. Caranya, petugas laboratorium akan mengambil sampel darah, swab tenggorokan, atau dahak.

Ahli pulmonologi Jaka Pradipta mengataka, jika pada pemeriksaan pertama pasien dinyatakan negatif COVID-19, uji laboratorium tersebut bisa diulang kembali 24 jam berikutnya. "Bila hasilnya kembali negatif, maka pasien bisa dikeluarkan dari pengawasan," kata dia.