Herbal Juice, Cara Menikmati Jamu Masa Kini untuk Milenial

ilustrasi jamu (pixabay.com)

kuliner

Herbal Juice, Cara Menikmati Jamu Masa Kini untuk Milenial

Senin, 13 Januari 2020 16:00 WIB
Reporter : Non Koresponden Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Apa yang terbesit di pikiran kamu saat pertama kali mendengar kata jamu? Beragam jawabannya tidak jauh dari pahit, kuno, dan lain-lain. Tapi di luar kesan pahitnya, jamu memiliki segudang manfaat untuk menjaga kesehatan. 

Hal itu diungkapkan Dedi Sopiyandi, salah satu penyuluh jamu dari Martha Tilaar Group. Dalam  acara 20 Tahun Martha Tilaar Innovation Centre (MTIC) Berkarya Global untuk Indonesia, ia menceritakan bahwa telah melakukan penelitian pada 100 orang dari generasi milenial.

Hampir semua orang yang ditanya tentang jamu, jawabannya adalah pahit. Hal itu menjadi tantangan tersendiri baginya dan penyuluh jamu lainnya bagaimana bisa menjangkau kaum milenial dengan jamu dan obat tradisional.

Dedi dan timnya pun membuat satu inovasi, namanya herbal juice. Karena stigma yang ada pada masyarakat jamu itu pahit, ia dan rekan-rekan membuat minuman dengan campuran buah-buahan, sayur-sayuran, dan tanaman herbal. Salah satu rasa yang menjadi andalan herbal juice adalah jamu yang mengurangi kolesterol, dengan campuran buah nanas, madu, dan jahe.

Jamu lainnya yang terbukti khasiatnya adalah jamu untuk menghilangkan nyeri saat haid, dengan campuran nanas, temulawak, dan kunyit.

Jamu atau minuman herbal merupakan campuran tanaman-tanaman herbal asli indonesia yang diolah tanpa menggunakan campuran bahan kimia. Tujuannya, agar saat dikonsumsi aman dan menghasilkan metabolisme yang diperlukan tubuh secara alami.

Di Kampoeng Djamoe, ada sekitar 650 jenis tanaman herbal asli indonesia yang telah lama digunakan sebagai bahan baku obat dan kosmetik Sari Ayu Martha Tilaar.

(kedua dari kiri) Martha Tilaar (Pendiri Martha Tilaar Group), Kilala Tilaar (Corporate Creative and Innovative Director PT Martina Berto Tbk, Martha Tilaar group), dan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Bambang P.S. Brodjonegoro, Ph.D. saat menghadiri acara 20 Tahun Martha Tilaar Innovation Centre (MTIC) Berkarya Global Untuk Indonesia di Cikarang, Jawa Barat, Rabu, 8 Januari 2020. Foto: Dok. Martha Tilaar Group

Dedi juga menjelaskan bahwa pengolahan jamu sebenarnya sangat mudah, “Yang namanya jamu itu ya, kamu tanam, kamu panen, cuci, rebus, lalu kamu minum, itu jamu,” kata ia saat ditemui di Cikarang, Jawa Barat, Rabu, 8 Januari 2020. 

Manurut Dedi, jamu dan obat tradisional kini kurang kurang dilirik karena banyak pengetahuan tentang jamu yang kurang diketahui masyarakat. “Mereka mungkin kurang paham, bagaimana mengolahnya, bagaimana dosisnya, bagaimana efeknya, dan lain-lain,” tutur ia

Dedi juga mengatakan bahwa hal ini bisa datang dari kurangnya pembuktian secara ilmiah tentang pengolahan dan efek-efek jamu, “Jadi memang perlu penelitian lebih lanjut,” ujar ia.

Untuk mempopulerkan jamu, pemerintah mendukung Martha Tilaar Group dengan ikut mengembangkan inovasi-inovasi melalui ranah penelitian. Hal tersebut diungkapkan Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Bambang Brodjonegoro dalam sambutannya.

“Karena produk-produk yang dihasilkan Martha Tilaar merupakan suatu produk yang inovatif, jadi harus kita patenkan karena bisa menjadi modal bisnis yang berpengaruh,” kata Bambang Brodjonegoro saat ditemui di acara tersebut.

NURUL FARA