Profesi Astronom Kurang Diminati? Ini Kata Peneliti Bosscha

Dosen astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB), Premana W. Premadi saat berkunjung ke Tempo, Jakarta, 2 Januari 2016. Tempo/ Aditia Noviansyah

karir

Profesi Astronom Kurang Diminati? Ini Kata Peneliti Bosscha

Sabtu, 30 November 2019 14:00 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Profesi astronom yang meneliti benda-benda langit dan fenomena alam di luar atmosfer bumi belum keras gaungnya seperti pebisnis startup ataupun pengusaha makanan di telinga masyarakat. Pada kenyataannya, minat mempelajari bidang astronomi selalu berkembang, ungkap Kepala Observatorium Bosscha, Premana Wardayanti Premadi atau akrab disapa Nana.

“Minat itu selalu tinggi. Misalnya kami ikuti perkembangan mahasiswa di program studi astronomi awalnya dari beberapa belas di S1 sekarang sudah lima puluh. Ketika awal tahun 2000 saat bikin rekap alumni astronomi dari tahun 50-an sampai awal 2000 itu jumlahnya lebih sedikit dari jumlah jurusan sipil per Angkatan. Tapi sekarang sudah banyak,” jelas Nana saat menerima penghargaan wanita inspiratif di bidang Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) di acara GE Indonesia Recognition for Inspiring Women in STEM di Jakarta, Rabu 27 November 2019.

Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) juga menjabarkan bahwa jurusan astronomi tidak hanya tingkat S1, tetapi sudah mencakup S2 dan S3.

“Minat itu banyak. Kami pun menerima mahasiswa pasca dari background yang berbeda, misalnya astronomi fisika, pendidikan sains, dan sebagainya. Perkaranya adalah lapangan pekerjaan untuk lulusan astronomi di Indonesia belum banyak,” ucap perempuan yang berkarier di dunia astronomi sejak 1997 ini.

Selain itu, ia juga menjabarkan astronomi belum menjadi prioritas dibandingkan sektor ekonomi untuk negara berkembang seperti Indonesia.

Dr. Premana Wardayanti Premadi Ph.D., Ahli Astrofisika dan Kepala Observatorium Bosscha saat ditemui di acara GE Indonesia Recognition for Inspiring Women in STEM di Jakarta Selatan, Rabu 27 November 2019. TEMPO/Silvy Riana Putri

“Ada juga lebih kepada prioritas. Kalau kita lihat secara umum aja, undangan-undangan proposal riset, semuanya adalah dampaknya kepada pembangunan nasional. Harus ada produk. Sementara astronomi enggak gitu, produknya adalah knowledge,” tutur ilmuwan yang nama belakangnya diabadikan menjadi nama asteroid oleh International Astronomical Union (IAU).

Lebih lanjut, ia memaparkan, “Jadi akhinya boleh enggak kita, hasil keluarannya knowledge? Untuk negara-negara berkembang kayak gini kadang-kadang masih belum cukup. Keluarannya harus produk yang bisa dipakai, meningkatkan ekonomi. Susah kita bertanding dengan itu, jadi baru belakangan saja.”

Namun ia tak patah arang dengan kondisi tersebut, Nana pun berbagi kiat agar profesi astronom  terus berkembang di Indonesia.

“Itulah yang kami lakukan kerja keras, bukan hanya menciptakan lapangan pekerjaan untuk astronom muda. Tapi juga memperluas network. Ibaratnya, langit kan cuma ini-ini aja, maksudnya begitu kita lihat galaksi yang jauh-jauh, begitu pula yang dilihat orang Amerika, Jepang, Antartika hingga Afrika,” ungkap perempuan yang baru menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha sejak 2018.

“Dalam dunia astronomi, international network itu adalah modal yang besar sekali. Bahkan kita enggak perlu investasi observatorium yang besar-besar untuk saat ini. Kita cukup berteman dengan kolega di berbagai negara, tahun depan kita sudah dapat datanya. Kita kaitkan diri kita di konsorsium internasional, kita bisa dapat data dari observatorium besar,” tandas anggota Universe Awareness (UNAWE) ini bersemangat.