Angkie Yudistia, Keterbatasan Bukan Halangan Wujudkan Mimpi

Angkie Yudistia (23 tahun), pendiri Thisable Enterprise, pemberdayaan ekonomi kreatif untuk disabilitas Indonesia. Presiden meminta Angki menjadi jubir Presiden di bidang sosial. Instagram/@Angkieyudistia

ragam

Angkie Yudistia, Keterbatasan Bukan Halangan Wujudkan Mimpi

Jumat, 22 November 2019 16:35 WIB
Reporter : Eka Wahyu Pramita Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, JAKARTA -  Pada Kamis, 21 November 2019 silam, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengumumkan 12 anggota staf khusus  yang juga diisi kaum milenial, salah satunya CEO Thisable Enterprise Angkie Yudistia

Jokowi menjelaskan Angkie adalah penyandang disabilitas yang mendirikan Thisable Enterprise dan anggota Asia Pacific Deaf Person. "Mbak Angkie khusus juru bicara bidang sosial. Saya tambahi tugas itu," kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 21 November 2019.

Angkie Yudistia ialah satu dari tiga perwakilan milenial perempuan yang dipercaya bergabung sebagai anggota staf khusus Presiden. Angkie salah satu sosok yang membuktikan keterbatasan bukan halangan besar. Ia tetap bermimpi, meraih kesuksesan, dan bermanfaat bagi orang lain, khususnya untuk kaum disabilitas.

Dihimpun dari berbagai sumber, Angkie sebenarnya terlahir sebagai anak yang sempurna. Saat usia 10 tahun, ia mengalami demam tinggi dan meminum antibiotik sesuai dengan anjuran dokter. Efek dari minum antibiotik, pendengarannya terhenti, kemudian tuli dan memanfaatkan alat bantu hingga saat ini.

Jika ingin berbicara dengannya harus berhadap-hadapan, maka ia bisa melihat gerakan bibir Anda dan bisa memahami apa yang Anda katakan. 

Lalu, bagaimana ia bisa melewati keterbatasannya? Sebagai tuli, kesulitan Angkie mulai dialami saat menjejaki dunia pendidikan. Meski memiliki keterbatasan itu, orang tuanya tidak dapat membedakan dengan anak-anak sebayanya kala itu. 

Tak hanya itu, saat duduk di bangku sekolah dasar, Angkie juga harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda, karena orang tuanya sering ditugaskan ke luar kota.

Jadi, pendidikan Sekolah Dasar (SD) Angkie dilalui di tiga kota berbeda, yaitu Ternate, Bengkulu dan Bogor. Barulah, setelah orang tuanya menetap, SMP dan SMA Angkie diselesaikan di Bogor.

Angkie Yudistia. Instagram

Selain itu, untuk memahami pelajaran di sekolah umum yang tidak mudah, perempuan 31 tahun ini menyiasatinya dengan belajar lebih giat dan meminta guru privat.

Selain giat belajar, Angkie juga menyediakan pelatihan untuk mengurangi kesulitan tuli. Tak hanya memanfaatkan alat bantu dengar, Angkie terus menerus melatih diri sendiri melihat gerakan bibir seseorang berbicara untuk memudahkan dirinya dalam berkomunikasi.

Selain berjuang dalam hal komunikasi, ia pun kerap meneriman cacian dan hinaan. Rasa malu sempat membuat Angkie Yudistia menutup jati dirinya. Alat bantu dengarnya pun dia tutupi dengan rambut. Angkie kecil pernah diledek, dibilang budek dan sejenis itu.

Diakui Angkie, ia pun sempat menyalahkan kondisinya. Mengadu kepada sang pencipta. Namun ia pun bingung harus membantah siapa, karena orang tua yang ia sayangi tidak berbeda dengan anak yang lain. Pencerahan itu datang, kala itu di kereta. Seorang bapak-bapak menyadarkannya untuk bangkit. Saat itu ia mengaku, Angkie mulai menerima dan berhasil menemukan jati dirinya.

Angkie mengenakan outer warna beige dengan aksen kancing dan tali yang bisa dilepas pasang serta hijab senada dan inner berwarna broken white. Penampilannya semakin sempurna dengan aksesoris anting tassel sebagai statement. Ia merupakan lulusan London School Public Relations dan pernah menerbitkan buku berjudul 'Become Rich as Sociopreneur'. Instagram/@angkie.yudistia Angkie Yudistia merupakan salah satu dari tujuh anak muda yang dipilih Presiden Joko Widodo sebagai staf khususnya. Ia bertugas sebagai juru bicara bidang sosial. Sebagai milenial, penyandang tunarungu ini memiliki selera fashion yang bagus. Seperti pada foto ini, Angkie terlihat mengenakan atasan hitam berlengan puff yang dilapisi kamisol bermotif bunga. Instagram/@angkie.yudistia

Namun, masalah tak berhenti pada saat melewati pendidikan menengah. Permasalahan kemudian muncul lagi saat perempuan yang kini berhijab ini lulus SMA. Di mana, dokter yang merawatnya meminta Angkie untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan.

Alasannya, stres bisa mempengaruhi kondisi pendengarannya. Di mana, saat itu telinga kanan Angkie hanya mampu mendengar 70 desibel, telinga kiri 98 desibel. Kegigihannya untuk meraih pendidikan, membuat Angkie harus melawan saran dokter.

Angkie kemudian memutuskan untuk melanjutkan ke bangku kuliah dan berhasil menyelesaikan studinya di jurusan periklanan di Londok School of Public Relations (LSPR), Jakarta dengan indeks prestasi 3.5.

Semasa kuliah pun dia sosok penuh percaya diri, selalu aktif dalam setiap kegiatan positif. Kecintaan Angkie di dunia pendidikan pun mengantarkannya meraih gelas master setelah lulus dari bidang komunikasi pemasaran melalui program akselerasi di LSPR.

AHMAD FAIZ IBNU SANI