Curhat Penerus Pisang Goreng Madu Bu Nanik: Mami Strict Soal Uang

Michelle K Molloy, COO CV Bu Nanik Group sekaligus putri dari Nanik Soelistiowati Founder Pisang Goreng Madu Bu Nanik saat ditemui di acara Paxel Ngopi #NgobrolUKM "Rahasia Sukses Pisang Goreng Madu Bu Nanik" di Cohive 101, Jakarta Selatan, Selasa 19 November 2019. TEMPO/Silvy Riana Putri

karir

Curhat Penerus Pisang Goreng Madu Bu Nanik: Mami Strict Soal Uang

Selasa, 19 November 2019 22:30 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, JakartaPisang Goreng Madu Bu Nanik didirikan sejak 2007 dari etalase kecil di rumah Nanik Soelistiowati, sang pendiri pisang dengan jargon si hitam manis. Uniqe selling dari pisang ini adalah manis dari madu, bentuknya yang bulat, tekstur tebal, ada jendolan-jendolan tak merata, dan sedikit warna hitam menyerupai gosong. Selama 12 tahun ini, Nanik membangun dan mengembangkan brand dengan mengikutsertakan kedua anaknya.

“Saya tanya kepada anak-anak mau kerja atau bantu mami usaha. Kalau kerja ikut orang, majuin usaha orang lain. Saya motivasi dulu mereka. kalau kerja sama mami, berarti untuk kalian juga,” ungkap Nanik saat ditemui di Jakarta, Selasa 19 November 2019.

Lebih lanjut ia berkisah, “Kalau gedein usaha pisang dua-duanya mau. Memang katering itu susah dan melelahkan. Okelah, saya kan memang merintis usaha untuk anak-anak. maka kita beralih, jasa katering yang sudah berdiri lebih dari 20 tahun ditutup, sama-sama kami bertiga berkolaborasi membesarkan pisang.”

Sejak 2013 Michelle K Molloy sudah aktif membantu di bisnis milik ibunya sembari kuliah. “Sejak 2013 saya udah lumayan aktif. Sebelumnya sedikit-dikit saja. Saya kuliah jurusan kuliner, S1 di Bina Nusantara dan S2 di Inggris. Kakak saya sebagai CEO yang mengurusi manajemen, sementara saya COO bertanggung jawab di operasional hingga marketing, mami tetap di bagian produksi,” tutur Michelle.

(ketiga dan keempat dari kiri) Nanik Soelistiowati, founder Pisang Goreng Madu Bu Nanik beserta Michelle K Molloy COO CV Bu Nanik Group saat ditemui di acara Paxel Ngopi #NgobrolUKM "Rahasia Sukses Pisang Goreng Madu Bu Nanik" di Cohive 101, Jakarta Selatan, Selasa 19 November 2019. TEMPO/Silvy Riana Putri

Menurut perempuan kelahiran 28 Mei 1991 ini salah satu tantangan family business saat mengambil keputusan. “Salah satu challenge kami ributnya banyak, sama seperti family business lain. Saya sama kakak saya, mami, dan suami saya, kami selalu brainstorming. Kalau ambil keputusan, kami sistemnya voting,” imbuh ia.

Dalam pengambilan keputusan bisnis, setiap orang harus besar hati dengan hasilnya. “Bukan berarti mami selaku founder sekaligus bosnya, lalu semua pendapatnya harus didengerin. Tapi kan yang di lapangan kami. Kalau enggak terpenuhi keinginannya harus besar hati,” ucap Michelle.

Ia menambahkan, “Kalau Mami lebih strict soal keuangan. Kadang kalau kami pengen lari terlalu cepat, ibu  yang ngerem. Terlalu ambisius, kadang biasalah anak muda. Terlalu plan-nya ini, goals-nya ini itu, ibu bilang satu-satu. Jadi, kami buat time plan bersama.”

Michelle dan kakaknya memahami betul maksud baik dari ibunya yang sudah kaya pengalaman bisnis kuliner lebih dari tiga dekade. “Mami selalu ingatkan kalau kamu terlalu cepat, bisa jatuh nanti kamu hilang. Lebih baik cari pegangan dulu. Jadi, kalau jatuh, masih ada pegangan untuk backup,” tandas Michelle.