Anak Kota Juga Bisa Alami Gizi Buruk, Cek Penyebabnya

Ilustrasi obesitas. Shutterstock

kesehatan

Anak Kota Juga Bisa Alami Gizi Buruk, Cek Penyebabnya

Senin, 20 Mei 2019 21:09 WIB
Reporter : Antara Editor : Yayuk Widiyarti

CANTIKA.COM, Jakarta - Jangan mengira masalah gizi buruk hanya bisa terjadi di pedalaman, daerah tertinggal, atau daerah miskin. Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng M. Faqih, mengungkap pola makan yang tidak teratur dan ketidaktahuan tentang makanan gizi seimbang menjadi salah satu penyebab kondisi gizi buruk yang terjadi di perkotaan.

Daeng menerangkan bahwa kondisi gizi buruk terbagi dua, yaitu kekurangan nutrisi dan nutrisi berlebih yang dapat menyebabkan obesitas.

Kekurangan gizi akan mengakibatkan kasus stunting, sementara obesitas akan mengarah pada kasus penyakit-penyakit tidak menular. Daeng menyebut masyarakat yang sibuk karena suami istri bekerja sehingga menyerahkan anak pada pengasuh di rumah yang bisa berdampak pada asupan gizi anak tidak terjaga.

Baca juga:Pentingnya Peran Orang Tua Mencegah Anak Kurang GiziCara Mencegah Stunting dengan Pola Makan dan Asupan Gizi

Sementara bagi masyarakat kalangan mampu, jika tidak memiliki pengetahuan tentang gizi seimbang, terkadang tidak terarah dalam menjaga asupan makan sehingga berpotensi menyebabkan kegemukan.

“Makanan yang dikenal masyarakat kita fast food, makanan impor yang gizinya tidak seimbang. Yang lebih kaya gizi, seimbang, itu makanan lokal,” jelas Daeng.

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), penyakit tidak menular disebabkan oleh minimnya aktivitas fisik dan asupan makan yang tidak seimbang. Sebanyak 55 persen dari 14,5 juta kematian di Asia Tenggara disebabkan oleh penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, ginjal, diabetes, dan stroke.

Indonesia saat ini masih menghadapi beban kesehatan ganda, yaitu gizi buruk yang mengakibatkan stunting dan kegemukan yang berdampak pada penyakit tidak menular. Daeng mengatakan dua masalah kesehatan tersebut akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia ke depan.