Riset Karier: Atasan Bijaksana, Karyawan Setia

Ilustrasi wawancara calon karyawan. profeel-rh.net

Karir

Riset Karier: Atasan Bijaksana, Karyawan Setia

Jumat, 5 Januari 2018 06:10 WIB
Reporter : Larissa Huda Editor : Rini Kustiani

TEMPO.CO, Jakarta - Penghasilan bukan satu-satunya tolok ukur yang membuat karyawan bertahan di perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian tentang karier bertajuk “Global Leadership Study” oleh Dale Carnegie, pola kepemimpinan atasan langsung mempengaruhi kepuasan karyawan di sebuah perusahaan. Sebanyak 85 persen karyawan menganggap apresiasi dan pujian dari atasan atas pekerjaan yang mereka lakukan sangatlah penting.

Baca juga:Kata Zodiak tentang Kariermu di Tahun 2018

“Namun, praktiknya, hanya 36 persen atasan yang melakukannya. Inilah yang menjadi salah satu faktor karyawan berniat mencari pekerjaan baru,” kata Direktur Pemasaran Nasional Dale Carnegie Indonesia, Joshua Siregar. Sekitar 3.300 responden dari level karyawan hingga direktur yang berusia 22–61 tahun dari 14 negara dilibatkan dalam penelitian tersebut, termasuk 205 orang dari Indonesia. Hasilnya, hanya 17 persen karyawan yang mengaku puas atas pekerjaannya.

Joshua menuturkan, ada beberapa perilaku atasan yang mempengaruhi kepuasan karyawan, salah satunya menyangkut kesediaan memberi apresiasi yang tulus kepada bawahan. Kemauan atasan melihat masalah dari sudut pandang orang lain juga berpengaruh. Atasan juga dituntut bisa menjadi pendengar yang baik, mengakui kesalahan, serta mau menghargai kontribusi karyawan. “Terbukti, atasan yang menunjukkan perilaku tersebut mampu meningkatkan kepuasan karyawan hingga 36 persen,” ujar Joshua.

Sebanyak 78 persen karyawan menginginkan atasan yang berani mengakui kesalahan. Kenyataannya, hanya 37 persen yang mau melakukan hal itu secara konsisten. Selain itu, hanya 48 persen atasan yang mau memberi penghargaan secara tulus.

Ilustrasi rapat karyawan. shutterstock.com

Psikolog industri dan organisasi, Dian Puty Oscarini, mengatakan berdasarkan pengalamannya bekerja di bidang personalia di sebuah perusahaan, penyebab karyawan pindah biasanya terungkap dari hasil survei opini karyawan atau exit interview. Kebanyakan karyawan, kata Dian, menganggap apa pun yang dilakukan atasan sebagai representasi perusahaan. “Sehingga bukan tidak mungkin sikap atasan akan mempengaruhi kepuasan karyawan terhadap perusahaan,” ucapnya.

Dian bertutur, seharusnya seorang atasan mampu menyeimbangkan situasi antara pencapaian target dan hubungan dengan bawahan. Atasan juga dituntut dapat berperan sebagai pembimbing, sehingga karyawan memiliki kesempatan berkembang, berinovasi, dan berpendapat. Meski begitu, persoalan hubungan kerja tidak hanya berpusar pada atasan. Menurut Dian, bawahan pun harus mengerti posisi atasan yang harus menyesuaikan diri dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari satu orang. Belum lagi adanya tuntutan perusahaan yang harus dicapai.

Bagi karyawan, apresiasi memang menjadi pemicu untuk bekerja lebih baik. Namun Dian menyarankan agar tidak menjadikan apresiasi dari atasan sebagai satu-satunya tolok ukur. Menurut dia, sebaiknya melakukan yang terbaik karena tidak akan ada ruginya bekerja dengan baik. “Memang bekerja tanpa apresiasi dari atasan langsung sangat menyakitkan, namun pasti ada orang lain yang menyadari potensi diri kita nantinya,” ucap Dian.

LARISSA HUDA