Daftar Bos Kosmetik dan Skincare Lokal Perempuan, dari Mooryati Soedibyo hingga Lizzie Parra

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Ecka Pramita

google-image
Lizzie Parra, Founder BLP Beauty dan BLP Skin/Foto: Instagram/Lizzie Parra

Lizzie Parra, Founder BLP Beauty dan BLP Skin/Foto: Instagram/Lizzie Parra

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Industri kecantikan dan skincare lokal terus menunjukkan perkembangan pesat di tengah tantangan global, dengan Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan utama. Munculnya brand-brand baru mewarnai pasar industri kecantikan di Indonesia bersama dengan para pemain lama yang terus eksis dan berinovasi. 

Berikut daftar pemimpin perempuan di bidang kecantikan dan skicare lokal di Indonesia yang berhasil dihimpun Cantika: 

1.  Mooryati Soedibyo - Founder Mustika Ratu 

Mooryati Soedibyo - Founder Mustika Ratu. ANTARA/Teresia May

Mooryati Soedibyo adalah pendiri bisnis jamu dan kecantikan Mustika Ratu. Dia juga dikenal sebagai pendiri dari Yayasan Puteri Indonesia dan pencetus kontes kecantikan Puteri Indonesia yang digelar setiap tahun sejak 1992.

Mooryati merupakan cucu dari Raja Keraton Surakarta, Pakubuwono X yang lahir pada 5 Januari 1928. Dia adalah anak dari pasangan K.R.M.T.A Poernomo Hadiningrat dan G.R.A Kussalbiyah.

Sejak berusia tiga tahun, Mooryati telah tinggal di Keraton Surakarta. Dia belajar banyak hal di tempat yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa tersebut. Mulai dari tata krama, seni tari klasik, karawitan, membatik, ngadi saliro ngadi busono, mengenal tumbuh-tumbuhan berkhasiat, meramu jamu, hingga kosmetika tradisional, dan lain sebagainya.

Pelajaran tentang meramu jamu itu menumbuhkan hobi Mooryati untuk rutin mengonsumsi minuman herbal tersebut. Hal itu juga yang memberikan Mooryati ide untuk membangun bisnis jamu kesehatan dan kecantikan.

Mooryati kemudian mulai merintis bisnis jamu pada pertengahan 1973. Saat itu, dia memikirkan masa depan pendidikan anak-anaknya yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di sisi lain, suaminya Soedibyo Purbo Hadiningrat akan segera pensiun sebagai pegawai negeri sipil.

Dengan semangat tersebut, Mooryati memutuskan untuk memulai bisnisnya. Dia tidak mempedulikan pandangan keraton yang menilai, tidak pantas jika anggota keraton berjualan. Pasalnya, orang keraton yang berdagang, dianggap rendah.

Mooryati bergerak merintis bisnis dengan bermodalkan Rp 25.000 dan garasi rumah untuk memproduksi jamu. Bahkan, dia hanya dibantu oleh dua orang asisten untuk membuat jamu. Dengan modal puluhan rupiah tersebut, ia dapat memproduksi seratus botol jamu beras kencur yang dijual seharga Rp 1.000 per botol.

Pada awalnya, Mooryati hanya menjual jamu untuk menolong teman atau tetangga, jika ada yang sakit, menikah, atau melahirkan. Jamu tersebut diberikan kepada kerabat dekat dengan diantarkan langsung oleh Mooryati bersama asistennya menggunakan sepeda motor. Bahkan, Mooryati sampai belajar mengendarai motor untuk mengirimkan jamu buatannya kepada pembeli. 

Seiring dengan berjalannya waktu, bisnis jamu buatan Mooryati mulai banyak mendapatkan pesanan. Tidak cepat puas, dia kemudian melakukan inovasi kepada jamu racikannya.  Selain itu, semua masukan dari pelanggan mendorong dirinya untuk meningkatkan kualitas dan jenis produk yang dijual. Bahkan, dia juga melebarkan sayap bisnisnya dalam bidang kecantikan, hingga berhasil mendirikan perusahaan Mustika Ratu.

Pada 1992, Mooryati mencetuskan kontes kecantikan Puteri Indonesia setelah menyaksikan gelaran Miss Universe di Bangkok, Thailand pada tahun yang sama. Untuk mewadahi ajang tersebut, didirikanlah Yayasan Puteri Indonesia. Sejak saat itu, kontes Puteri Indonesia digelar setiap tahun.

Selain menjadi pengusaha, Mooryati juga pernah terjun ke dunia politik dengan menjadi Wakil Ketua II Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Periode 2004-2009. Dia juga tercatat oleh MURI sebagai peraih gelar doktor tertua di Indonesia, dan sebagai “Empu Jamu”.

Pada 2003 silam, dia pernah mewakili Indonesia di ajang World Entrepreneur of the Year versi Ernst & Young. Saat itu, dari 26 finalis yang berasal dari berbagai negara, dia menjadi perempuan satu-satunya yang hadir di acara tersebut. Lalu pada 2007, namanya masuk urutan nomor 7 dalam daftar 99 wanita paling berpengaruh di Indonesia versi majalah Globe Asia.

Saat ini, usaha yang dirintis Mooryati Soedibyo dari nol sudah besar dan merambah ke berbagai bidang lain, termasuk hotel. Kepemimpinan perusahaan pun sudah diwariskan kepada putri keduanya, Putri Kuswisnu Wardani. Mooryati wafat pada hari Rabu, 24 April 2024, pukul 1.00 WIB dinihari dalam usia 96 tahun.

2. Nurhayati Sukabakat - Founder PT Paragon Technology and Innovation 

Nurhayati Sukabakat - Founder PT Paragon Technology and Innovation. Foto: Dok. Nurhayati Subakat

Nurhayati Subakat adalah satu dari sangat sedikit perempuan pengusaha sukses berskala nasional. Memulai home industry kosmetika pada tahun 1985 dengan hanya dua karyawan, kini PT Paragon Technology and Innovation (PTI) berkekuatan 12.000 karyawan. 

Sosok Ibu Nurhayati Subakat sebagai pengusaha memiliki nilai istimewa bagi bangsa Indonesia. Pertama, tentu saja, karena kesuksesan usahanya dalam skala nasional yang bertumpu pada pemanfaatan teknologi untuk mengolah keberlimpahan sumberdaya alam. Kedua, sosoknya sebagai perempuan pengusaha.

Tahun 1995, merupakan salah satu titik balik dalam sejarah perusahaan yang Nurhayati dirikan. Berangkat dari kesulitan mencari kosmetik halal di pasaran, Nurhayati mendapat dorongan dari sekelompok komunitas untuk meluncurkan brand kosmetik Wardah, yang kini dikenal sebagai pelopor brand kecantikan halal di Indonesia. Pada waktu itu, tidak pernah terbayangkan jika akhirnya Wardah bisa menjadi brand besar pemimpin pasar seperti sekarang.

Dalam perjalanannya, ada banyak tantangan yang dialami perusahaan dalam memperkenalkan serta mengembangkan kosmetik Wardah. Antara lain, masih rendahnya jumlah pengguna kosmetik, minimnya antusiasme masyarakat terhadap konsep produk kosmetik halal, dan terbatasnya jumlah distributor. Namun, terlepas dari semua tantangan itu, Wardah tetap teguh memosisikan diri sebagai brand kosmetik halal, yang pada saat itu belum ada merek lain yang memiliki keunikan serupa.

Nurhayati percaya, cepat atau lambat, Wardah dapat menarik perhatian publik dengan konsep produk halal yang diusungnya, mengingat adanya ceruk pasar yang belum terjangkau. Dengan kecermatan pemilihan bahan baku dan formulasi yang tepat, perusahaan pun berusaha memperkenalkan kosmetik halal di masa ketika kebutuhan akan hal tersebut belum ada.

Di tahun 1998, perusahaan Nurhayati kembali diuji dengan krisis ekonomi moneter. Krisis ini benar-benar mengajarkannya untuk tidak menyerah dan bersamasama membangun kembali ekonomi Indonesia lewat usaha nyata. Kala itu, banyak pesaing yang tidak sanggup lanjut berproduksi dan menutup usaha, tetapi Nurhayati dan timnya terus berusaha melanjutkan proses produksi, sehingga akhirnya pasar produknya pun semakin bertambah.

Tahun 2002, anak pertama Nurhayati, Harman, alumni Kimia ITB mulai bergabung dalam perusahaan. Kemudian tahun 2003, Salman, anak kedua, alumni Elektro ITB juga ikut bergabung. Dan, terakhir putri bungsu Nurhayati, dr. Sari Chairunnisa, Sp.KK., juga ikut menyusul kedua kakaknya, dan memegang kendali Riset dan Pengembangan (R&D). 

Nurhayati merasakan ini kembali merupakan pertolongan dari Allah. Begitu lulus, ketiga anaknya langsung bergabung membantu orang tua mengembangkan perusahaan. Dengan keikutsertaan mereka, alhamdulillah, perusahaan semakin berkembang pesat. Mereka adalah figur-figur pekerja keras dan kreatif. 

PT Paragon Technology and Innovation adalah salah satu perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) bidang kosmetik terbesar di Indonesia. Paragon sebagai perusahaan nasional kini telah menjadi market leader yang menaungi merek-merek unggulan seperti Wardah, Make Over, Emina, Kahf, Labore, Putri, Biodef, Instaperfect, Crystallure, Beyondly, OMG, Wonderly dan Tavi.

3. Martha Tilaar - Founder  Martha Tilaar 

Martha Tilaar - Founder Martha Tilaar.TEMPO/Arnold SImanjuntak

Lahir di Kebumen, Jawa tengah, 4 September 1937, lulusan Academy of Beauty Culture, Indiana pada 1968 dan IKIP Jakarta pada 1963. Ia adalah pendiri dan direktur utama Martha Tilaar Group yang merupakan sebuah perusahaan kosmetik terkemuka dengan produk utama Sariayu yang memproduksi dan menyediakan produk-produk kosmetik dan perawatan diri (makeup dekoratif, perawatan wajah, tubuh, dan rmabut), jamu, spa, dan pelayanan kecantikan yang inovatif dan berkualitas timggi dengan memanfaatkan bahan-bahan tradisional Indonesia dan ekstrak tanaman alami lainnya untuk perempuan modern dari segala kelompok dan penghasilan. 

Martha Tillar menjadi Perekayasa Utama Kehormatan kategori obat dan herbal dari BPPT tahun 2012 atas prestasinya mengembangkan kosmetik asli Indonesia yang berbasis alam. Martha Tilaar Group telah mengembangkan manajemen branding korporasi dengan menganggap Martha Tilaar sebagai "home brand merk", dari mana nama NET - I3 muncul. NET adalah singkatan dari Natural, Eastern, Technology; I3 singkatan dari Icon, Innovation and Institution.

Konsep NET menyoroti keunikan konsep pengembangan merek dan bisnis, sedangkan rangkaian produknya diperkaya dengan nilai-nilai tradisional timur dan dirancang oleh penggunaan teknologi modern. Perusahaan sangat percaya bahwa penerapan konsep ini menguntungkan Martha Tilaar Group dalam mendapatkan keunggulan kompetitifnya di industri kosmetik lokal dan global. Lebih dari itu, konsep tersebut diajukan untuk menguntungkan pemangku kepentingan, pemegang saham, karyawan, konsumen akhir dan masyarakat secara keseluruhan.

Martha Tilaar Group dimulai dari salon kecantikan kecil yang didirikan oleh DR. (H.C.) Martha Tilaar di garasi berukuran 4x6 meter pada tahun 1970. Pada tahun 1981, perusahaan bernama PT. Martina Berto didirikan oleh Dr. HC. Martha Tilaar, (almarhum) Pranata Bernard, dan Theresa Harsini Setiady, mendirikan pabrik modern pertama di Jl. Pulo Ayang No. 3, Pulogadung Industrial Estate, yang memproduksi kosmetik dan obat herbal dengan merek "Sariayu-Martha Tilaar" untuk pertama kalinya. Pada tahun 1986, Perusahaan mendirikan pabrik modern kedua di Jl. Pulo Kambing, Kawasan Industri Pulogadung.

4. BLP - Lizzie Parra

Lizzie Parra/Foto: Cantika/Ecka Pramita

BLP Beauty adalah sebuah brand kecantikan yang didirikan oleh Elizabeth Christina Prameswari, seorang makeup artist dan beauty influencer yang lebih dikenal dengan nama Lizzie Parra. Dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang kecantikan, Lizzie telah memahami seluk beluk produk kecantikan ideal yang diinginkan customer maupun profesional. Di bulan Mei 2016, impiannya terwujud. BLP hadir sebagai salah satu pionir brand kecantikan lokal berkualitas.

Gebrakan besar BLP Beauty di awal tahun 2022, setelah bermain di dunia makeup dengan bekal yang dimiliki selama lima tahun dengan BLP Beauty, kali ini Lizzie dan BLP Team ingin mencoba suatu hal yang baru.

"Hal ini tentunya sudah dipikirkan dan dipersiapkan matang-matang dengan jangka waktu dan pertimbangan yang sangat panjang. Oleh karena itu, aku dan BLP Team ingin memperkenalkan BLP Skin. Semoga dengan hadirnya BLP Skin, menjadi lembaran baru bagi Kami dan dapat menjadi solusi atas kebutuhan teman-teman akan produk perawatan kulit,” tambah Lizzie dalam acara Eksklusif Media Launch, Jumat, 28 Januari 2022.

Menurut Lizzie, BLP Skin merupakan hal yang sangat berbeda dengan BLP Beauty. Di mana dengan BLP Beauty membahas segala sesuatunya mengenai riasan wajah atau dekoratif, BLP Skin hadir untuk membantu masyarakat dalam menjaga dan merawat kulit yang lebih dalam dengan rangkaian perawatan kulit atau skincare. 

BLP Skin resmi diluncurkan pada tahun 2022. Lewat slogannya “Be Adored,” BLP ingin agar setiap wanita dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mencintai dirinya sendiri. Makeup berperan sebagai confidence booster, menjadi elemen yang mampu menonjolkan keunikan tiap-tiap individu. Saat ini BLP Beauty telah memiliki 3 lini makeup utama yaitu #FaceIt, #InYourEyes, dan #OnTheLips, dengan toko offline bernama Beauty Space BLP yang ada di Jakarta, Bekasi, Bandung, dan Surabaya.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."