5 Cara Menggunakan Dry Shampoo yang Tepat Menurut Penata Rambut

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Ilustrasi perempuan memakai dry shampoo di kamar mandi. Foto: Freepik.com/

Ilustrasi perempuan memakai dry shampoo di kamar mandi. Foto: Freepik.com/

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Sampo kering atau dry shampoo salah satu solusi bagi mereka yang memiliki jadwal sibuk atau ingin menghindari kerusakan rambut dengan sering keramas. Namun, penggunaan dry shampoo yang kurang tepat dapat menyebabkan hasil yang kurang ideal, membuat rambut terasa berminyak dan berat. Untuk menghindari hal itu terjadi, ada beberapa cara menggunakan dry shampoo yang tepat menurut ahli.

Dry shampoo bisa menjadi keras jika digunakan terlalu sering dan dapat menghilangkan minyak alami dari kulit kepala serta membuat rambut Anda kusam.

Penata rambut selebriti Darshan Yewalekar menyarankan agar Anda menggunakan produk rambut dengan hati-hati  "Ada banyak merek dry shampoo alami organik, bebas paraben dan sulfat, tidak beracun, bahkan ramah vegan yang tersedia di pasaran sekarang yang tidak akan merusak rambut Anda," tuturnya.

Dry shampoo tersebut mengandung bahan-bahan seperti arang, witch hazel, ekstrak lidah buaya, teh hijau, biotin akar rhatany, tanah liat putih, tepung jagung, bubuk garut, madu organik, tapioka, minyak kelapa, dan minyak pohon teh.

Berikut Cara Menggunakan Dry Shampoo yang tepat Menurut Darshan

1. Jangan Menyemprotkan Dry Shampoo Langsung ke Rambut

Kocok dry shampoo dengan baik dan alih-alih menyemprotkannya langsung ke rambut, pegang botol/wadah empat hingga enam inci dari kepala dan aplikasikan langsung ke akar. Sampo seharusnya tidak menutupi rambut Anda dengan tebal atau membuatnya terlihat berkapur.

Pastikan juga untuk tidak memercikkan dry shampoo ke ujung rambut karena ujungnya sudah rapuh dan menyemprotkan sampo bisa membuatnya lebih kering.

2. Jangan Gunakan Dry Shampoo di Seluruh Rambut

Semprotkan sampo hanya pada bagian yang berminyak. Jika Anda menggunakan dry shampoo yang pada dasarnya adalah penyerap minyak di seluruh kepala, rambut akan menjadi kaku, rapuh, dan kusam.

Gunakan sedikit demi sedikit untuk memeriksa apakah terlihat dan terasa benar, lalu aplikasikan lebih banyak jika diperlukan.

3. Ratakan Dry Shampoo

Setelah menyemprot, pijat produk secara menyeluruh dari akar ke atas dan diamkan selama lima hingga sepuluh menit sebelum Anda menyikatnya. Semakin lama didiamkan, semakin efektif hasilnya.

Memijat rambut membantu mengaktifkan bahan-bahan yang akan membantu menyerap minyak berlebih dan bila tidak ada bekas sampo yang terlihat, itu pertanda sampo telah mencapai setiap bagian kulit kepala Anda. Jika Anda merasa masih ada sampo yang berlebih, cukup sikat dengan sikat berbulu kaku.

4. Oleskan Sampo Semalaman

Kulit kepala menghasilkan minyak maksimal dalam semalam dan kadang-kadang, boleh saja dibiarkan dalam sampo kering alami semalaman dan biarkan bekerja. Di pagi hari, Anda bisa memijatnya di bagian akar dan menyikat sisa bubuk untuk tampilan yang lebih segar.

5. Gunakan Dry Shampoo Sesekali

Menggunakan dry shampoo setiap hari akan menyebabkan folikel tersumbat dan menumpuk di kulit kepala. Penggunaan yang sering juga dapat membuat rambut kering, kusam, dan berubah warna. Beberapa orang mungkin juga mengalami kerontokan rambut.

Penggunaan dry shampoo berlebihan juga dapat menyebabkan masalah kulit seperti jerawat dan infeksi bakteri dan jamur pada folikel rambut yang disebut folikulitis. Atau juga bisa bikin masalah kulit kepala yang meradang seperti dermatitis seboroik. Oleh karena itu, disarankan untuk menggunakan dry shampoo sekali atau dua kali seminggu, dan hanya jika Anda memiliki rambut yang terlalu berminyak.

Pilihan Editor: Respons Unilever Indonesia Terkait Sampo Kering yang Ditarik di AS dan Kanada

HINDUSTAN TIMES

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."