Intip Makna Khusus Karangan Bunga di Olimpiade Tokyo 2020

Ganda Putri Indonesia, Apriyani Rahayu dan Greysia Polii berpose setelah raih medali emas di Olimpiade Tokyo di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, 2 Agustus 2021. Tidak hanya Pemerintah pusat dan Pemerintah daerah yang memberi bonus untuk Greysia / Apriyani, influencer Arief Muhammad juga akan membukakan cabang Baso Aci Akang untuk ganda putri Indonesia tersebuts etelah emraih medali emas. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/hp.

ragam

Intip Makna Khusus Karangan Bunga di Olimpiade Tokyo 2020

Selasa, 3 Agustus 2021 16:15 WIB
Reporter : Bisnis.com Editor : Mitra Tarigan

CANTIKA.COM, Jakarta - Memenangkan medali di Olimpiade adalah pencapaian besar dan hebat dari para atlet. Pada Olimpiade Tokyo 2020 yang sedang berlangsung, banyak atlet telah mengharumkan negaranya dengan mendapatkan medali. Di saat medali emas, perak dan perunggu menjadi sorotan khalayak, namun tidak banyak orang yang mengetahui arti penting dari karangan bunga yang juga diberikan kepada para atlet.

Karangan bunga kecil berwarna kuning, hijau, dan biru tua yang diikat dengan pita biru adalah lambang kebangkitan Jepang dari bencana alam yang pernah melanda, yaitu gempa bumi dan tsunami 2011. Selain itu ada pula bencana pembangkit nuklir Fukushima yang menyebabkan kehancuran tiga reaktor.

Tiap elemen buket bunga yang diberikan pada atlet membawa cerita yang dalam. Ada sekitar 20 ribu orang tewas saat bencana itu terjadi. Rumah-rumah tersapu dan seluruh area menjadi kosong. Prefektur Iwate, Fukushima dan Miyagi menjadi yang paling terdampak. Lebih dari 5 ribu karangan bunga akan diserahkan kepada atlet. Bunga-bunga itu ditanam di tiga distrik di timur laut Jepang yang hancur.

Dilansir dari npr.org, Selasa 3 Juli 2021, jenis bunga Eustoma berwarna hijau dan berenda yang ada di karangan tersebut ditanam di Fukushima. Setelah tsunami menewaskan ribuan orang di daerah itu dan kian hancur oleh bencana nuklir, banyak warga mengungsi. Padahal, setelah kejadian itu, tempat itu tidak mungkinkan untuk menanam bunga. Namun, penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 mengatakan jika sebuah organisasi nirlaba mulai mencoba membudidayakan Eustoma di sana.

Hal itu dalam upaya untuk memulai ekonomi dan membantu upaya pemulihan. Membudidayakan bunga juga merupakan pilihan praktis bagi beberapa produsen pertanian. Padahal pada awal sayuran juga pernah ditanam setelah bencana nuklir, namun menunjukkan tingkat radiasinya terlalu tinggi untuk dikonsumsi manusia. Dan pada tahun-tahun sejak bencana, Eustoma telah berkembang di Fukushima. "Saya berharap ada kesempatan untuk memperkenalkan kepada dunia seberapa banyak Fukushima telah pulih melalui bunga-bunga," kata Yukari Shimizu, yang menanam bunga di kota yang sebelumnya terlarang karena radiasi itu.

Beralih ke bunga matahari yang berwarna kuning. Bunga itu berasal dari Miyagi. Ketika tsunami melanda mendorong gelombang raksasa ke prefektur Miyagi, dan lebih dari 10.000 orang di sana tewas atau hilang. Penyelenggara Olimpiade mengatakan bahwa setelah bencana, orang tua kembali ke lereng bukit di Miyagi untuk menanam bunga matahari untuk mengenang anak-anak mereka yang meninggal. “Setiap tahun bukit itu ditumbuhi bunga matahari. Bunga matahari dari Miyagi mencerminkan kenangan orang-orang yang terkena dampak bencana," kata penyelenggara.

Miyagi terkenal dengan bunga mawarnya, dan bunga matahari adalah spesialisasi baru untuk daerah tersebut. Pembudidaya bunga perlu mengembangkan keahlian dan teknologi untuk menghasilkan bunga matahari kecil yang sesuai dengan karangan bunga kecil. Tepat di sebelah utara Miyagi adalah Iwate, daerah pesisir yang juga dihantam ombak raksasa.

Prefektur ini menghasilkan mayoritas gentian Jepang, yaitu bunga kecil berwarna biru cerah. Tidak seperti Miyagi dan Fukushima, yang menangani pertumbuhan spesies bunga baru, Iwate telah menanam bunga gentian sejak tahun 1960-an. Karangan bunga juga menampilkan sosok kecil maskot Olimpiade, Miraitowa. Makhluk kartun memiliki ikat kepala kotak-kotak biru dan putih, dan namanya adalah kombinasi dari kata Jepang mirai (masa depan) dan towa (keabadian). Ini dimaksudkan untuk menjadi perayaan masa lalu dan masa depan Jepang.