Tips Pemilik Pisang Goreng Madu Bu Nanik Tak Pernah Merugi

(ketiga dari kiri) Nanik Soelistiowati, founder Pisang Goreng Madu Bu Nanik saat ditemui di acara Paxel Ngopi #NgobrolUKM "Rahasia Sukses Pisang Goreng Madu Bu Nanik" di Cohive 101, Jakarta Selatan, Selasa 19 November 2019. TEMPO/Silvy Riana Putri

karir

Tips Pemilik Pisang Goreng Madu Bu Nanik Tak Pernah Merugi

Kamis, 21 November 2019 16:30 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, JakartaPisang Madu Bu Nanik salah satu jajanan yang tengah hits beberapa tahun belakangan. Kekuatannya ada pada rasa manis sehat dari madu dan tekstur dari pisang berkualitas. Bisnis ini didirikan oleh Nanik Soelistiowati pada tahun 2007 dengan tujuan menyekolahkan kedua anaknya.

Ide pisang madu tercetus dari ibunya yang pengidap diabetes doyan makan pisang goreng. Tetapi tiap kalli makan pisang goreng biasa, kadar gulanya selalu naik. Jadi, ia mengganti dengan madu. Dikisahkan oleh Nanik, di masa awal jualan ia hanya mampu menjual 20 pisang goreng. Kemudian meningkat secara perlahan hingga saat ini menghabiskan tiga sampai empat ton setiap harinya.

Selama perjalanan bisnis 12 tahun, Nanik melalui jatuh bangun dalam memasarkan bisnis, namun tidak pernah merugi.  “Mudah-mudahan saya tidak pernah mengalami kebangkrutan. Saya sangat berhati-hati dalam berbisnis. Enggak langsung. Saya prinsipnya berbisnis biarlah dari merangkak, merayap, berdiri dan berlari.  Jangan seperti asal cepat nanti jatuh,” jelas Nanik Soelistiowati saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa 19 November 2019.

Nanik Soelistiowati, founder Pisang Goreng Madu Bu Nanik saat ditemui di acara Paxel Ngopi #NgobrolUKM "Rahasia Sukses Pisang Goreng Madu Bu Nanik" di Cohive 101, Jakarta Selatan, Selasa 19 November 2019. TEMPO/Silvy Riana Putri

Lebih lanjut ia menjabarkan, “Kita sesuaiin sama kemampuan kita. Jadi, apa yang kita punya, jangan terlalu bermuluk-muluk. Modal yang sesuai kemampuan. Mungkin kalo ada yang pesen bisa dimintain DP atau down payment dulu. Itu bisa dipake buat modal.”

Selain menyarankan untuk tidak memulai dengan konsep muluk-muluk dan pengembangan bertahap, ia juga merekomendasikan untuk menerapkan sistem hemat dalam mengatur keuangan.

“Sebisa mungkin ditekan, diirit kalo orang jawa bilang. Sisanya kita tabung. Itu yang sewaktu-waktu kita perlu, bisa dipake. Misalnya mo berganti gorengan gimana atau wajan gimana, tabungan itu yang dipakai.”

Ia menambahkan, “Saya takut sekali pinjem sama bank. Keperluan yang penting sekali boleh dibeli, misalnya dari kompor low pressure jadi high pressure, itu boleh. Uang tetap saya yang pegang. Anak-anak minta apa, saya yang kontrol. Oh ini belum perlu, jangan. Ini perlu, oke.”