Gaji Generasi Milenial Rp 10 Juta tapi Susah Punya Rumah, Kenapa?

Ilustrasi rumah mungil. shutterstock.com

karir

Gaji Generasi Milenial Rp 10 Juta tapi Susah Punya Rumah, Kenapa?

Kamis, 1 Februari 2018 19:00 WIB
Reporter : Dini Pramita Editor : Rini Kustiani

CANTIKA.COM, Jakarta - Generasi milenial yang sudah bekerja cenderung punya penghasilan yang tergolong besar. Gaji seorang pekerja generasi milenial bisa menyentuh angka di atas Rp 7 juta, bahkan ada yang mulai bekerja dengan gaji Rp 10 jutaan. Meski begitu, peluang mereka untuk bisa memiliki aset berupa rumah tidak cukup besar.

Perencana keuangan dari Finex Consulting, Ferry Chandra Gunawan mengatakan nominal gaji pekerja generasi milenial mungkin lebih besar dari generasi sebelumnya dan terus meningkat. "Tapi kualitas hidupnya lebih rendah," kata dia. Contohnya, dengan gaji sebesar Rp 10 juta per bulan, seorang pekerja generasi milenial masih kesulitan punya rumah. Sebab, kenaikan upahnya tak sebanding dengan laju kenaikan harga rumah.

Situs properti di Indonesia Rumah123 pernah merilis hasil survei yang menyatakan pada 2020 hanya 5 persen generasi milenial yang sanggup beli rumah. Sedangkan 95 persen sisanya terancam tak memiliki tempat tinggal. Country General Manager Rumah123, Ignatius Untung, mengatakan ketidakseimbangan laju kenaikan harga properti dengan kenaikan upah bukan satu-satunya alasan. Prioritas gaya hidup juga jadi faktor yang membuat karyawan milenial terancam tak memiliki aset rumah kelak ketika pensiun.

Menurut Ferry, para milenial saat ini lebih mementingkan belanja pengalaman ketimbang menumbuhkan kebiasaan menabung. Dia menyebutkan para milenial lebih memilih bepergian dan merasa tidak keberatan terus menyewa tempat tinggal. "Di satu sisi bagus karena mereka memiliki sejuta pengalaman kelak, tapi sekaligus buruk karena menyebabkan tidak ada kebiasaan menabung," kata dia.

Dengan kondisi tersebut, menabung bukanlah perkara sederhana bagi para milenial. Idealnya, kata Ferry, minimal 10 persen dari penghasilan disisihkan untuk tabungan. Tapi kegagalan para milenial memilah antara kebutuhan dan keinginan menyebabkan tabungan nihil.

Ferry mengatakan karyawan generasi milenial harus bisa mengidentifikasi kebutuhannya. Pada tahap ini, karyawan tersebut harus mampu memilah antara kebutuhan dan keinginan. Identifikasi ini penting untuk mengukur kemampuan finansial. Setelah itu, karyawan dituntut mampu mengontrol perilaku konsumtifnya. "Dia akan berhasil meningkatkan kemampuan menabungnya setelah berhasil melampaui tahapan ini," kata Ferry.

Dia menyarankan agar karyawan generasi milenial saat ini mulai mengalokasikan aset pada instrumen reksadana saham, pasar uang, dan deposito. Atau mulai membeli tanah dan hunian sebagai investasi alternatif dengan memanfaatkan kemudahan kredit dari perbankan. "Tidak masalah berutang untuk properti karena itu utang produktif," kata dia.

Perencanaan ini sebaiknya sudah matang sebelum seorang karyawan menginjak usia 40 tahun; apakah akan hidup dari aset atau dari hasil bisnis. Ferry menekankan tujuan perencanaan keuangan adalah bebas dari masalah finansial atau utang. "Jika dia mengambil utang ketika sudah lewat usia 40 tahun atau bahkan ketika pensiun untuk berbisnis, jelas salah," kata dia. Sebab, misi bebas dari masalah finansial tak tercapai.

DINI PRAMITA